Paradoks Hidup sang Jurnalis Legendaris

Galih Agus Saputra
17/3/2019 02:40
Paradoks Hidup sang Jurnalis Legendaris
(DOK. AVIRONT PICTURES)

PARADOKS barangkali menjadi kondisi yang amat lekat dengan kehidupan Marie Colvin. Sesungguhnya, ia ingin hidup damai dalam sebuah keluarga yang mapan. Kenyataannya, dua kali pernikahannya gagal. 

Dua kali pula ia keguguran. Colvin juga punya perhatian besar atas tragedi kemanusian. Namun, kepeduliannya mendatangkan tragedi pribadi bagi dirinya. Dalam dunia jurnalistik, Colvin ialah seorang legenda. Bekerja untuk The Sunday Times di Britania Raya, perempuan asal Amerika Serikat itu dikenal akan keandalannya melakukan reportase dari medan perang atau area konflik.

Pada 2000, Colvin dinobatkan sebagai ‘Jurnalis Tangguh’ versi International Women’s Media Foundation. Ia juga tiga kali dinobatkan sebagai ‘Jurnalis Luar Negeri Terbaik’ versi British Press Award. Anna Politkovskaya Award, pada 2012, pun sempat memberi predikat ‘Raw in War’ atas praktik jurnalistik yang dilakoni Colvin.

Sekelumit perjalanan hidupnya kini dapat disaksikan lewat fi lm A Private War yang sedang beredar di jaringan bioskop nasional. Dalam film drama perang tersebut, sosok Colvin diperankan aktris Rosamund Pike, yang kemudian mendapat nominasi aktris pemeran utama terbaik dalam gelaran Golden Globe Awards 2019.

Film A Private War diadaptasi dari artikel berjudul Marie Colvin’s Private War karya Marrie Berrner, yang tayang di Vanity Fair pada 2012. Naskah itu dikembangkan menjadi skenario oleh Arash Amel, dan butuh tiga tahun bagi sutradara Matthew Heineman untuk menyiapkan fi lm naratif perdananya ini.

Upayanya tersebut tak sia-sia lantaran Heineman kemudian mendapat nominasi ‘Pencapaian Luar Biasa Sutradara’ dari Directors Guild of America.  Film ini tidak sekadar mengeksplorasi brutalnya medan perang yang diliput Colvin. Heineman yang sebelumnya dikenal dengan film-film dokumenter bertema konflik mengajak penonton menyimak perang pribadi Colvin dengan post-traumatic stress disorder (PTSD) yang dideritanya. PTSD membuat Colvin ‘berteman’
dengan mimpimimpi buruk dan alkohol.

Gangguan stres pascatrauma tersebut menghinggapi Colvin lantaran ia banyak mendapati kekerasan dan penderitaan para korban perang. Kala bertugas di Sri Lanka pada 2001, misalnya, ia menyaksikan bagaimana ibu-ibu dan anak-anak terisolasi di sebuah daerah tanpa bantuan obat-obatan dan makanan.

Pada masa itu pula, Colvin bahkan harus kehilangan mata kirinya karena terluka akibat serangan granat oleh pihak militer Sri Lanka. Sepanjang hayatnya, perempuan kelahiran 1956 itu kemudian lebih banyak menggunakan penutup mata yang belakangan justru menjadi ciri khas penampilannya di samping pakaian dalam La Perla dan jaket antipeluru.


Dilema

Dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, Colvin diceritakan kerap menghadapi dilema kala melihat kondisi penduduk sipil di medan perang. Ia sering terbawa suasana, umpama, kala melihat penduduk di Fallujah, Irak, yang sedih karena kehilangan kerabatnya. Saat itu, Colvin sedang melakukan investigasi terhadap kuburan masal yang tidak teridentifikasi selama 13 tahun. 

Hasil investigasi Colvin kemudian menguak praktik kejahatan perang di Irak di bawah rezim Saddam Hussein. Lewat film ini, penonton juga dapat menyaksikan intrik-intrik Colvin saat melakukan investigasi. Saat meliput di Fallujah, misalnya, ia memutuskan untuk menghindar dari pengawasan tentara Amerika Serikat demi mendatangi beberapa titik yang dianggap berbahaya.

Di tengah perjalanan, ia dihadang para anak buah Saddam Hussein. Dengan kelihaiannya berbicara, ia dapat lolos berkat kartu anggota senam.

“Lihat ini, ada tulisan health. Aku seorang dokter,” katanya sambil menunjukkan kartu senam itu kepada pasukan Saddam Hussein, yang kemudian mempersilakannya melanjutkan perjalanan.

Kendati PTSD yang dideritanya dipicu pengalaman Colvin di lapangan, hanya saat meliputlah ia merasa aman dan kompeten. Ia tidak menyukai bagian menulis panjang yang membuatnya terpaku di meja. Tidak jarang Colvin mengabaikan perintah redakturnya untuk berada di garis belakang atau pulang.

Sebagaimana bagian pembuka, fi lm berdurasi 110 menit ini kemudian ditutup dengan situasi Kota Homs, yang menjadi penugasan pemungkas Colvin. Bersama Paul Conroy (Jamie Dornan), fotografer yang menjadi rekan setianya bertahun-tahun, Colvin terjebak dalam baku tembak di kota kuno Suriah yang belakangan luluh lantak akibat perang tersebut. Terlepas dari konteks perang, A Private War menjadi drama menarik yang mengajak kita merenungi bagaimana seseorang, khususnya jurnalis, memperjuangkan bukan ekadar mempertahankan integritas dan loyalitas terhadap profesi. Prinsip Colvin, untuk menyampaikan kebenaran dan menyuarakan mereka yang terbungkam, rasa-rasanya akan
menjadi sesuatu yang terus relevan dalam praktik jurnalisme hingga ke masa mendatang kelak. (M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya