Persahabatan Lintas Batas Karya Adi Gunawan

MI
16/3/2019 23:40
Persahabatan Lintas Batas Karya Adi Gunawan
(MI/ABDILLAH M MARZUQI)

SOSOK itu berbaring miring dengan tangan kiri sebagai penyangga kepala. Kakinya tidak dibiarkan bebas selonjor, tetapi dilipat dengan posisi menyilang. Tangan penyangga itu lantas bertambah beban dengan binatang peliharaan yang bertumpu erat di tengah tubuh sosok itu. Babi bergelayut tepat pada posisi perut sosok berbaring.

Begitulah karya yang berada pada tengah ruang pertama, karya patung milik Adi ­Gunawan berjudul ­Sahabat #2. Berada di samping karta tersebut, karya senada berjudul Sahabat #1 juga mencuri perhatian. Bedanya, hanya posisi tubuh duduk memangku kepala binatang peliharaan. 

Tidak banyak pertanyaan dari karya patung itu. Mudah saja ditebak dari bentuk yang tersurat. Persahabatan erat antara manusia dan binatang. Persahabatan yang melintasi batas apa pun. 

Karya Adi Gunawan menjadi salah satu dari 38 seniman yang berpamer dalam tajuk Intention, Please! di Edwins Gallery Kemang Jakarta. Pa­meran seni rupa itu dihelat pada 12-24 Maret 2019.

Tajuk itu rupanya mewakili ide yang diusung pada pameran tersebut. Intensi bisa dimaknai sebagai maksud ataupun tujuan. Tema itu dirasa tepat untuk diungkap di tengah kecenderungan seni rupa yang kini beraroma serbablur. Tidak ada lagi pakem tertentu yang harus diikuti seorang seniman. Pematung tidak harus memakai pendekatan seni patung dalam berkarya, begitu pula pelukis ataupun perupa. Semua bisa melintasi pakem yang dahulunya dianggap sebagai benteng kukuh yang memisahkan antardisiplin seni.

“Ingin membaca kembali dari fenomena praktik seni rupa yang sekarang udah cair. Cair dalam arti semangatnya itu tidak lagi atau praktiknya itu tidak lagi mengacu pada satu pakem tertentu,” terang kurator sekaligus penulis pameran, Rio Raharjo.


Intensi

Dari situlah kemudian intensi menjadi mengemuka. ­Kerancuan atau kekaburan praktik berkesenian itulah yang dilihat dalam pameran tersebut. Apakah seniman berkarya dengan intensi tertentu atau hanya sekedar membuat karya seni. Jawabannya ternyata ada pada ­ekspresi seniman dalam setiap karyanya.

“Bisa dilihat lewat ekspresinya karena ekspresi itu sangat dekat dengan intensi. Jadi, wilayah masuk itu lebih dekat ke personal seniman lewat ekspresinya apa yang ingin dia sampaikan. Kalau itu tidak ada, itu juga patut dipertanyakan intensinya di mana kalau membuat karya seni,” tambah Rio.

Ruang pertama menjadi titik sempurna untuk menjelajah ruang-ruang berikutnya. Bentuk yang jelas dan lugas memudahkan pembacaan terhadap pesan seperti karya Adi Gunawan. Masuk ke ruang berikutnya, jejeran sepatu sneakers langsung menyapa. Dengan banyak aksesori ­sampingan, sepatu itu seolah menjadi fokus keindahan. Limited Edition #3 karya Muchlis Fachri mengolah sneakers menjadi lebih dari sekedar sepatu. Ia menjadikannya sebagai kanvas bebas yang bisa dilukis sesuai dengan ekspresinya karena kedekatan dan kesukaan dengan sneakers menjadikan Muchlis memilih sneakers sebagai media karya.

“Ini berkarya sebenarnya yang lebih dekat sama saya. Jadi, saya lebih kayak menghargai sneakers,” terang pria yang akrab disapa Muklay. Karya Muchlis juga menjadi karya yang berbeda dengan karya seniman lain. Jika karya lain hanya untuk dipajang dan dinikmati, karya Muchlis justru untuk dipakai di kaki. (Zuq/M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya