Makna Perjalanan Belanda-Indonesia dengan Sepeda

Galih Agus Saputra
16/3/2019 23:20
Makna Perjalanan Belanda-Indonesia dengan Sepeda
(DOK. GALIH AGUS SAPUTRA)

SIANG itu, Selasa (12/3), suasana di dalam kedai Kopi Kalyan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, padat pengunjung. Ada yang sedang asyik mengobrol dengan temannya di sudut ruangan, juga ada yang tengah sibuk merapikan tempat duduk di taman belakang.

Sementara itu, seorang perempuan berambut pirang tampak menuruni tangga di sebelah kiri ruangan. Kemudian, ketika sampai di bawah, ia menutup akses tangga itu dengan pita merah. Pengunjung tidak boleh masuk. 

Selang seperempat jam, pandangan orang-orang kemudian teralih ke pintu utama di ruangan depan. Ternyata, ada Andien Aisyah yang datang. Kedatangan Andien ke kedai Kopi Kalyan kali ini ternyata untuk mempersiapkan pameran foto perjalanan adiknya, Diego Yanuar, dari Belanda ke Indonesia menggunakan sepeda.

Belakangan diketahui, perempuan berambut pirang itu ternyata rekan Diego yang diajak bersepeda dari Belanda, namanya Marlies Fennema. Mula-mula, Andien memang setengah tidak percaya saat sang adik mengabarkan niatnya. “Rasanya seperti di awang-awang. Heran. Percaya enggak percaya begitu sih,” katanya.

Seusai mendapat kabar dari Diego, Andien lantas membantunya mencarikan sponsor dan segala macam peralatan yang dibutuhkan selama perjalanan, termasuk memimpin proyek pameran foto setelah Diego dan Marlies tiba di Jakarta. 

“Tapi, khusus untuk sponsor di sini yang dimaksud bukan dukungan berupa uang. Tapi lebih kepada, misalnya, kacamata, tas, atau peralatan lainnya yang dibutuhkan Diego selama perjalanan. Dari awal mereka memang sudah menabung gaji mereka untuk perjalanan dari Belanda. Kalaupun dapat uang, mereka bilang akan disumbangkan semua,” imbuh Andien, ketika membuka pameran perjalanan Diego dan Marlies dengan tajuk Everything in Between: The Exhibition di kedai Kopi Klayan, Selasa (12/3).


Sumber inspirasi kebaikan

Lokasi pameran Everything in Between: The Exhibition berada di lantai dua kedai Kopi Kalyan. Pantas saja tadi Marlies menutup tangganya dengan pita merah. Ternyata ada beberapa instalasi di sana, yang tengah disiapkan untuk para pengunjung agar dapat melihat foto, peralatan, tenda, dan sepeda yang ia gunakan bersama Diego selama menempuh perjalanan dari Belanda.

“Kami membawa bekal, mungkin sekitar 50 kilogram untuk masing-masing sepeda. Menyiapkan segala macam peralatan yang sekiranya sulit ditemukan di jalan. Membawa laptop, kamera, tenda, logistik, baju hangat, dan lain-lain. Semuanya disesuaikan untuk empat musim: panas, semi, gugur, dan dingin,” tutur Marlies, dengan ramahnya.

Bagi Andien, terlepas dari hubungan sedarahnya, mengenal sosok Diego, juga Marlies, membuatnya banyak melakukan refleksi mengenai makna dari suatu perjalanan hidup. Perjalanan Everything in Between, menurut Andien, menjadi sebuah inspirasi untuk menggulirkan kebaikan dan diharapkan dapat menyentuh hati orang-orang yang tidak hanya melihat, tetapi juga mendengar dan merasakannya.

Diego mengatakan, sejak awal perjalanan, ia dan Marlie memang tidak ingin merencanakan sesuatu yang ‘berlebihan’. “Mungkin terdengar klise, tapi sebenarnya kami hanya ingin mencari arti hidup yang tidak ditemukan di rutinitas kami biasanya,” tuturnya.

Perjalanan yang ditempuh Diego dan Marlies juga didasari rasa kepedulian terhadap sesama manusia dan lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, selama perjalanan mereka membawa tiga hal utama, yaitu rasa kemanusian, kepedulian terhadap binatang, dan tumbuhan.

“Semoga semua yang datang ke pameran ini akan lebih berpikir dalam mengambil keputusan dan berpikir mengenai ciptaan Tuhan yang lain. Tidak hanya manusia, tapi juga yang sering kita lupakan, yaitu binatang dan alam,” imbuh Diego.

Sayangnya, selama perjalanan, Marlies sering kali melihat hal yang tidak semestinya diperlakukan terhadap manusia, binatang, dan tumbuhan. Selama ini banyak sekali perjalanan wisata yang barangkali hanya dilakukan untuk mengambil pemandangan atau suasana tempat yang luar biasa indahnya. “Tapi setiap orang pasti punya caranya sendiri untuk membagikan apa yang ia lihat. Sebenarnya saya sedih ketika melihat beberapa hal yang kami jumpai di jalan, tetapi di sinilah kami ingin membagikannya agar menjadi makna tersendiri untuk kita semua,” tuturnya.

Perjalanan Diego dan Marlies dari Belanda ke Indonesia telah melewati 23 negara dan menempuh jarak sepanjang 12 ribu kilometer. Sepanjang perjalanan, mereka mengabadikan momen dalam bentuk foto yang tidak hanya dibagikan melalui akun media sosial, tetapi juga ‘dibagikan’ melalui pameran foto yang dikurasi Yunaidi Joepoet dan didukung bisnis rintisan di bidang kebugaran, The Fit Company.


Bahagia karena sederhana

Kurator Foto, Yunaidi, mengatakan Diego dan Marlies memiliki ketajaman pengelihatan dalam mengabadikan momen selama perjalanan. Ada banyak hal yang barangkali tidak terpikirkan orang-orang pada umumnya, tetapi nyatanya mampu ditangkap melalui lensa kamera yang mereka bawa.

Tidak hanya itu, menurut Yunaidi, Diego dan Marlies juga pandai membawa diri di tengah-tengah kultur masyarakat dunia yang amat beragam. “Seandainya mereka tidak bisa membawa diri, misalnya, Diego teguh dengan ke-Indonesiaannya, Marlies dengan ke-Belandaannya, tentu mereka tidak akan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Tapi mereka tidak demikian. Mereka mampu menguasai egonya masing-masing dan membaur dalam kultur masyarakat yang amat beragam dari Eropa, Asia, hingga Asia Tenggara, termasuk Indonesia,” katanya.

Yunaidi juga menuturkan, foto-foto yang dibawa Diego dan Marlies membawa begitu banyak hal yang dapat membuka mata dunia. Kolaborasi antara mereka berdua sungguh luar biasa karena Diego mampu menangkap segala unsur yang sifatnya universal, sedangkan Marlies menangkap hal-hal yang sifatnya personal. (M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya