Indra Sjafri, Demi Persepakbolaan Indonesia

Rizky Noor Alam
10/3/2019 03:10
Indra Sjafri, Demi Persepakbolaan Indonesia
(MI/Rommy Pujianto)

BEBERAPA waktu lalu, nama Indonesia kembali harum di kancah internasional. Timnas sepak bola U-22 berhasil menjuarai Piala AFF 2019 yang diselenggarakan di Phnom Penh, Kamboja, pada 17 Februari-2 Maret. 
Kemenangan timnas itu membawa angin segar di tengah carut-marut dunia persepakbolaan nasional. Sesampainya di Jakarta pun euforia masyarakat amat luar biasa menyambut kedatangan para pemain timnas tersebut, mulai undangan ke Istana Negara hingga diarak keliling Ibu Kota. Salah satu sosok yang memiliki peran penting dalam kemenangan itu ialah sang pelatih, Indra Sjafri. Apa rahasia Indra  melatih anak-anak asuhannya hingga menjadi juara? Bagaimana pandang­annya terhadap persepakbolaan nasional? Berikut petikan wawancara singkat Media Indonesia dengan Indra Sjafri saat ditemui di Hotel Sultan Jakarta, Selasa (5/3).

Anda sudah dua kali mengantarkan timnas menang AFF. Pertama, timnas U-19 pada 2013 dan timnas U-22. Bisa diceritakan apa kunci meraih kesuksesan itu? Apakah kualitas pemain kita membaik atau faktor lawan? 
Tidak ada lawan yang missed saya pikir karena semua tim yang hadir pasti ingin mencapai yang terbaik. Tentu prestasi itu dicapai dengan kerja keras, walaupun kemarin dengan persiapan pendek, kita bekali skuat tim yang benar. 

Apa itu skuat tim yang benar? Kita memilih pemain-pemain yang betul-betul saya tahu. Makanya, kemarin saya gali semua informasi tentang pemain dengan general check-up karena saya ingin mendapatkan informasi kesehatan mereka. Kedua, psikotes. Saya ingin tahu persis siapa dia. Dari sana baru diputuskan apakah mereka bisa terpilih atau tidak. Jadi, kuncinya harus ada bahan bakunya, yaitu pemain yang benar-benar pantas dipilih.

Timnas U-19 dan U-22 kan cenderung masih labil, bagaimana cara Anda mendampingi mereka?
Kalau di sepak bola, usia 22 tahun sudah bukan usia muda lagi, itu sudah usia profesional, dan mereka sudah main pada umumnya di tim-tim Liga 1 dan Liga 2. Berbeda dengan timnas U-16 atau U-19, jadi lebih bagus. Namun, kemarin saya memulai persiapan saat liga libur, jadi kemarin pada umumnya anak-anak dalam kondisi fisik yang tidak siap. Jadi, kendalanya kita memulai dalam kondisi kompetisi yang sedang off, pemain libur, dan kita terkendala pada banyak waktu yang terbuang untuk memperbaiki kondisi fisik kebugaran para pemain.

Lalu, apa perbedaan melatih U-19 dengan U-22?
Kalau melatih tidak ada perbedaan, mau usia 16 tahun, 19 tahun, atau 22 tahun tidak ada perbedaan sebagai pengajar, tentunya menyiapkan metode yang baik sesuai periodesasi persiapan yang tujuan akhirnya ialah prestasi. Jadi, semua pembelajaran harus dilaksanakan, tidak hanya melatih di lapangan. Banyak hal-hal lain yang saya sampaikan, misalnya, bagaimana mereka memahami soal nutrisi, attitude, dan regulasi pertandingan. Jadi, semuanya harus diatur, menurut saya pemain tim nasional itu salah satu model yang akan dilihat banyak orang.

Kemenangan U-22 kemarin seakan membawa angin segar bagi dunia persepakbolaan kita di tengah kondisi PSSI buruk seperti soal pengaturan skor, bagaimana pandangan Anda tentang hal ini?
Tidak ada hubungannya antara pengaturan skor dan prestasi saya. Perlu diketahui ini pekerjaan PSSI, ini prestasi PSSI lewat saya, jangan seolah-olah PSSI itu jelek semua, dan tidak ada hubungan antara kemenangan kita dan pengaturan skor. Jadi, yang dilakukan PSSI sudah banyak yang benar, misalnya, pembinaan usia muda, kepelatihan juga sudah banyak kursus-kursus kepelatihan, dan liga berlangsung dengan bagus. Namun, ada mafia disitu, ya itu urusan kriminal bukan urusan sepak bola, itu urusan polisi supaya membereskan hal itu.

Dukungan masyarakat kita terhadap sepak bola bisa dibilang amat luar biasa. Apa harapan dari masyarakat di tengah kondisi persepakbolaan kita saat ini?
Masyarakat sepak bola Indonesia tanpa diminta mereka akan support timnas, tidak perlu saya minta-minta, dan saya tahu persis itu karena berharap timnas berprestasi. Saya sudah dua kali pengalaman waktu juara AFF, PSSI juga sedang ada dualisme dan sekarang juga, PSSI juga sedang ada sedikit masalah dan bisa berprestasi, jadi tidak ada korelasinya, misalnya, antara PSSI kacau dan prestasi. 

Yang penting program-program PSSI berjalan dan jangan berpikir begitu ketua umum PSSI diganti kita akan jadi juara dunia karena butuh proses. Maka dari itu, jangan dijadikan ukuran ketua umum itu prestasi, ukuran ketua umum itu program, bagaimana dia buat grand design sepak bola jangka panjang, menengah, atau pendeknya, benar atau tidak. Jadi, bukan tolak ukurnya juara dunia, nanti ketua umum yang baru, lalu timnas kalah diganti lagi, di-bully lagi, itu yang harus disikapi masyarakat. 

Namun, lihat dia sebagai ketua umum, bisa tidak menjadi pemimpin yang baik, membuat program, dan programnya berproses dengan baik, itu yang paling penting. (Grand design) ini sebetulnya sudah dilakukan PSSI, tapi ada masalah, mafia itu di mana saja ada, dan itu pekerjaan polisi. Namun, kalau ada orang sepak bola yang terkait, bereskan PSSI.
 
Bagi Anda, bagaimana tipe dan standardisasi pelatih ideal bagi timnas?
Orang pasti akan berharap gene­rasi yang akan datang harus lebih bagus dari yang sekarang, kalau tidak tentu tidak akan maju-maju bangsa kita. Saya berharap pelatih ke depan lebih bagus dari saya dan banyak pelatih muda. Kemarin saat bertemu pak Presiden saya sampaikan pelatih lokal harus lebih diberikan kesempatan daripada pelatih asing. 

Banyak pelatih-pelatih lokal yang mampu sebenarnya, tapi kalau tidak diberi kesempatan, seperti sekarang tim liga semua pelatih-pelatih asing, mau di mana pelatih Indonesia berpraktik? Jadi, kesempatan untuk pelatih-pelatih Indonesia diberikan seluas-luasnya.

Selama menjadi pelatih timnas, apa pengalaman yang paling berkesan bagi Anda?
Paling berbekas bagi saya ialah bisa membahagiakan banyak orang, seperti saat ini kita juara dan banyak orang senang, itu sudah cukup bagi saya. Untuk saya, melatih timnas itu bukan profesi, melainkan pengabdian. Kalau saya mau cari uang di klub, pekerjaan profesional itu di klub. Jadi, generasi yang akan datang harus lebih baik dari sekarang.

Setelah Piala AFF 2019, target apa yang sedang Anda kejar saat ini?
Target tentunya sesuai yang ditargetkan PSSI, kita harus lolos grup AFC, dan mendapatkan medali emas SEA Games. Ada dua target lagi yang harus saya capai.

Apa saran Anda bagi generasi muda kita?
Terutama generasi muda sepak bola harus selalu berlatih dan terus belajar, dan beribadah dengan baik. Itu kuncinya.

Apa harapan Anda kepada pemerintah saat bertemu Presiden di Istana kemarin untuk memajukan dunia sepak bola kita?
Saya sampaikan ke Presiden, Indonesia negara sebesar ini kalau dibandingkan dengan Timor Leste yang merupakan negara kecil bekas provinsi kita, mereka sudah punya training ground untuk timnasnya. Sementara itu, kita berpindah dari hotel ke hotel. Yang membuat saya sedih, lapangan A, B, dan C yang merupakan punya negara itu timnas bayar untuk latihan di sana. (M-3)
 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya