Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ANAK Indonesia memiliki bakat yang luar biasa. Namun, untuk mengembangkan diri mereka dibutuhkan akses secara bebas. Sayangnya, masih banyak anak Indonesia yang kesulitan mendapatkan akses berbagi ilmu untuk mengembangkan diri.
Kondisi itu memantik Yosilia Nursakina dan dua rekannya membuat platform yang mempertemukan kebutuhan anak-anak itu sambil ikut berkontribusi memotong gap ketimpangan akses pengembangan diri anak muda di Indonesia melalui startup Titik Balik. Berikut Muda berkesempatan mewawancarai Yosi di daerah Cipete, Jakarta, Selasa (5/3).
Apa itu startup Titik Balik?
Titik Balik berdiri sejak 2016, tetapi sudah digagas sejak 2015. Saya, Dani Muhamad Trianto, dan Fadel Muhammad mencari masalah di dalam masyarakat yang bisa dipecahkan. Kami pun fokus pada pengembangan diri. Kami melihat akses pengembangan diri di Indonesia masih terbatas. Misalnya, di kampus-kampus favorit itu disediakan, sedangkan di kampus-kampus menengah tidak semudah itu untuk mendapat akses ke mentor ataupun leader. Menurut kami, akses yang terbatas itu bisa menghambat pengembangan diri individu anak muda di Indonesia.
Kami percaya kesusksesan anak muda itu ada di tangan anak muda. Kalau masih terhambat perkembangannya, Indonesia tidak akan maju. Kami ingin membuat akselerasi itu lewat Titik Balik. Ini ialah platform anak muda bisa mendapatkan akses yang lebih mudah dalam mengembangkan diri. Kita menghubungkan mereka sama mentor dan kesempatan-kesempatan, seperti beasiswa, lomba, pertukaran pelajar, dan dipertemukan dengan orang-orang yang ingin mengembangkan diri.
Apa makna pemilihan nama Titik Balik?
Kami ingin semakin banyak orang yang menemukan titik baliknya. Kami bertiga merasa beruntung menemukan titik balik dalam hidup kami selama sekolah. Kami dulunya anak-anak yang bukan succsess people material. Tujuan hidup tidak jelas, takut untuk mencoba dan maju ke depan, serta takut gagal. Namun, alhamdulillah kemudian kita dipertemukan dengan mentor melalui kegiatan Liqo, sama orang-orang yang keren dan tidak pelit dalam berbagi ilmu. Kami pun bisa berani untuk mengaktualisasikan diri.
Saya dulu pribadi high-achiever yang individualis. Saya takut berbicara dan mengungkapkan opini di depan publik. Setelah bertemu banyak orang hebat dan kesempatan hingga akhirnya saya berani mengambil peran menjadi Ketua BEM IKM FKUI 2017 dan membuat startup.
Apa saja program Titik Balik?
Titik Balik itu memiliki visi demokratisasi pengembangan diri. Kami mereformasi pasar konvensional pengembangan diri dan bikin one click platform untuk pengembangan diri bagi seluruh pemuda di Indonesia. Saat ini sedang dalam tahap idea validation and mass acquisition. Program-program yang kami miliki, di antaranya virtual talk, kelas online, dan pionir muda.
Program virtual talk ini diskusi secara daring. Isu-isu yang diangkat cenderung sensitif, seperti broken home, mental health, lalu mengenai salah jurusan. Kami di sini ingin membangun keberanian secara emosional atau ketahanan diri.
Sejauh ini ada 34 virtual talk dengan peserta 200-300 orang per virtual talk. Total peserta mencapai 3.000 orang. Ada kelas online yang berbayar.
Program ketiga ialah pionir muda yang dilakukan secara langsung. Program itu sudah dua kali dilakukan di UI, UIN, UNJ, dan IPB. Para mahasiswa berprestasi (mapres) dan pengurus BEM universitas dipertemukan dengan mentor dan leader dalam kelas selama dua hari. Kami bahkan sempat berkolaborasi dengan Fahmi Zahra membuat buku berjudul Mengukir Peradaban.
Poin akhir kami membuat aplikasi one click platform pengembangan diri. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk pertukaran pelajar, beasiswa, dan lomba. Semua program itu disesuaikan dengan life plan yang mereka input ke aplikasi.
Apa tantangan yang dihadapi sampai saat ini?
Yang paling menantang dalam merintis startup ialah komitmen. Itu karena kami memiliki kesibukan masing-masing. Saat ini saya sedang menjalankan Profesi Kedokteran di Rumah Sakit Fatmawati.
Mengapa membuat startup pengembangan diri bukan berkaitan dengan kedokteran?
Sebenarnya lebih ke interest karena kami merasakan kemudahan akses dalam mengembangkan diri. Jadi, kami feedback-nya membuat platform yang bisa mengembangkan orang lain yang mungkin tidak memiliki akses semudah kita. Kami ingin menjadi agen yang menginspirasi mereka.
Kami percaya yang kami lakukan akan bermanifestasi untuk masa depan. Kami ingin meningkatkan kualitas pemuda saat ini sehingga di masa depan bisa berkontribusi untuk negara.
Apa kunci Titik Balik bertahan?
Menurut saya, kunci startup yang baik ialah good team, awesome mentor, listening to clients/market. Sejauh ini, tim yang betul-betul suportif bisa terkoneksi pada level yang lebih dalam, seperti life aspiration, values, life goals, personal issues. Hasil kerja ini dan dampaknya bisa jauh lebih bagus ketimbang tim yang berasas profesionalisme atau kepentingan bisnis saja.
Di Titik Balik kami betul-betul jujur satu dengan yang lainnya. Kami pun harus bisa saling backup dan support satu dengan yang lainnya. Selain itu, dibutuhkan mentor karena mereka sudah berpengalaman di bidang ini. Kami tentunya memiliki blind spot. Adanya mentor bisa berproses dengan lebih baik lagi.
Selain itu, perlu mendengarkan pasar, memberikan dampak pada orang lain, padahal solusi yang kita berikan tidak sesuai dengan aspirasi dan nilai yang dibutuhkan pasar.
Oleh karena itu, live in dengan masyarakat, benar-benar mendengarkan opini dan aspirasi mereka. Kami selalu coba connect dan jawab kegalauan teman-teman Titik Balik via OA dan dalam waktu dekat kami ingin pendekatan lebih jauh sama teman-teman Titik Balik yang superloyal ini. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved