Twelve Apostles yang Mengesankan

MI
10/3/2019 02:30
Twelve Apostles yang Mengesankan
(MI/Irvan Sihombing)

HELIKOPTER merah nan kekar terparkir di helipad. Minggu (17/2) ini, moda berbaling-baling itu akan membawa saya dan sejumlah rekan media lain berkeliling menyaksikan Twelve Apostles, tiang-tiang batuan kapur yang tersohor di Great Ocean Road, langsung dari udara.

Namun, kami masih harus bersabar karena sebelum mengudara, ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan demi keselamatan. Pertama, kami mesti memakai baju pelampung yang telah disiapkan operator. Setelahnya, seorang petugas menyampaikan informasi singkat tentang apa yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan selama berada dalam helikopter.

“Apa kalian semua sudah siap?” tanya sang petugas setengah berteriak di antara deru baling-baling helikopter yang mulai berputar. Kami lalu bergegas menuju helikopter. Tiga penumpang di barisan depan dan empat orang di belakang.

Lewat microphone yang menyatu dengan headseat, sang pilot memberikan penjelasan singkat tentang Twelve Apostles, yang alih-alih berjumlah 12, kini hanya ada tujuh. Semula, ujarnya, tiang-tiang tersebut terhubung dengan tebing di daratan utama. Akan tetapi, terpaan ombak dari Samudra Antarktika seolah menjadi pemahat yang memisahkan, bahkan membentuk, tiangtiang yang menjulang sampai 45 meter tingginya itu.

Sungguh menarik bahwa Twelve Apostles tercipta, dan kemudian runtuh, oleh faktor serupa: erosi. Sepanjang mengudara, saya berdoa agar cuaca sore ini tetap cerah, dan syukurlah doa itu terkabul. Helikopter terbang dengan stabil, nyaris tidak ada guncangan berarti selama perjalanan.

Alhasil, kami dapat berkonsentrasi menikmati panorama Twelve Apostles yang menjulang di atas laut. Perjalanan dengan helikopter itu saya pikir akan menjadi penggenap senja. Namun, Karen, pemandu dari Visit Victoria, masih punya kejutan. Dibawanya kami bersantap sore di Forage on the Foreshore. Kafe ini tepat menghadap langsung ke Pantai Port Campbell sehingga kami dapat menyaksikan matahari tenggelam. Tidak cukup dengan satu spot itu, seusai makan, kami diajak untuk menuntaskan senja di area London Arch yang dulu dikenal dengan nama London Bridge. London Arch merupakan bebatuan alam yang menjulang di atas laut dengan formasi melengkung. Spot ini menjadi salah satu daya tarik di lintasan Great Ocean Road.

Tak jauh dari tempat kami berdiri, saya melihat sekumpulan orang sedang berdiam diri, seperti tengah menanti sesuatu. “Mereka ingin menyaksikan penguin yang biasa keluar di malam hari,” jelas Karen.

Namun, belum sampai setengah jam menunggu, kami memutuskan kembali ke kendaraan. Pasalnya, tiupan angin dingin makin kencang seiring tibanya malam. Sementara itu, sebagian dari kami tidak mengenakan baju yang cukup tebal. Ya, semoga kelak saya bisa kembali untuk menjumpai para penguin. (Nav/M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya