Terpikat Lanskap Victoria

Irvan Sihombing
10/3/2019 02:10
Terpikat Lanskap Victoria
(MI/IRVAN SIHOMBING)

BERLIBUR ke Melbourne, Australia, tentu menyenangkan. Ini kota metropolitan yang berkelas, teratur, serta sarat dengan arsitektur bernuansa Eropa.

Banyaknya taman, deretan toko yang tertata rapi, serta beragam pertunjukan seni dan budaya, menjadi nilai tambah ibu kota negara bagian Victoria tersebut. Akan tetapi, tak paripurna rasanya melancong jika sebatas sekat-sekat urban. Apalagi, benua yang dijuluki Down Under ini terkenal dengan alamnya yang indah, sekaligus liar. 

Oleh karena itu, peluang untuk mengeksplorasi destinasi yang bersentuhan langsung dengan kemolekan ibu bumi, seperti Mornington Peninsula dan Great Ocean Road, tentu saja tak boleh disia-siakan. Kesempatan tersebut saya dapatkan ketika Media Indonesia dan sejumlah media lain mendapat undangan berkunjung dari Visit Victoria. Dua hari pertama, kami dihibur aksi spektakuler teater Harry Potter and The Cursed Child di Melbourne. Hari ketiga, dimulailah perjalanan kami menyusuri sebagian lanskap alam Victoria.

Sabtu (16/2) itu, kami tiba di Mornington Peninsula (Semenanjung Mornington) setelah berkendara kurang lebih 1 jam dari Melbourne. Bertempat di sisi tenggara Melbourne, Semenanjung Mornington ialah kawasan resor berpemandangan indah, kaya akan kilang anggur, lapangan golf, restoran, dan galeri seni.

Kota Dromana di semenanjung tersebut menjadi tempat perhentian pertama. Dengan menumpangi gondola bernama Arthurs Seat Eagle, kami melayang naik ke Arthurs Seat, titik tertinggi di kawasan Semenanjung Mornington.

Selama 20 menit, mata kami dimanjakan keindahan pegunungan yang dipenuhi vegetasi khas Australia, seperti pepohonan eukaliptus. Suasana terasa begitu tenang, begitu damai. Setiba di Arthurs Seat, panorama Teluk Philip membentang di hadapan kami, dengan gedung-gedung pencakar langit nan artistik Kota Melbourne di kitarannya.

Kami pun trekking singkat di Arthurs Seat State Park yang terletak 302 meter di atas permukaan laut sambil menikmati udara segar, sekaligus memancing gairah makan. Pasalnya, selepas dari Arthurs Seat, kami bertolak ke Doot Doot Doot, restoran mewah di Hotel Jackalope yang berhiaskan 10 ribu lampu gantung berbentuk bulat menyerupai gelembung anggur selama proses fermentasi. Tidak hanya restoran berkelas, Hotel Jackalope yang namanya terinspirasi dari hewan mitos kelinci bertanduk rusa ini juga memiliki gudang penyimpanan anggur.

Tentu saja kami berkeliling di gudang yang amat luas itu, sekadar menuntaskan rasa ingin tahu, sembari menyesap segelas anggur. Sayang, kami tak bisa berlama-lama karena ada jadwal berikut yang tidak kalah seru, membuat cokelat di Mornington Peninsula Chocolaterie and Ice Creamery! Di tempat yang pastinya dipenuhi.

Ketika semenanjung, lembah, pegunungan, dan daerah perdalaman bertemu, di situlah kesempurnaan berwisata terwujud bagi saya. Terpikat Lanskap Victoria Great Ocean Road Gubuk tempat beristirahat beraneka jenis cokelat tersebut, kelas kami ditangani langsung oleh ahli dari Prancis, Anna Guinet.

“Di sini kami membuat hidangan lezat dan menciptakan 180 varietas cokelat unik untuk para pencinta cokelat. Koleksi cokelat dibuat dengan penuh kasih,” tuturnya saat menyambut kedatangan kami.


Galeri luar ruang

Menjelang senja, kami bertolak ke taman sculpture yang berada di perkebunan anggur Point Leo Estate. General Manager Pt Leo Estate, Roger Lancia, yang sudah menanti kedatangan kami menyambut dengan hangat. Diajaknya kami berkeliling taman, menyaksikan lebih dari 50 karya perupa kelas dunia yang ditata di alam terbuka.

Menurut Lancia, galeri luar ruang ini memiliki luas area kurang lebih 16 hektare. Pengunjung bisa memilih dua rute trekking saat menyusuri taman yang dipenuhi karyakarya  artistik tersebut, dengan latar belakang pemandangan laut menghampar sepanjang Western Port Bay hingga Phillip Island, serta perkebunan anggur.

“Anda dapat memilih trek pendek, sekitar 30 menit dengan rute sepanjang 1,5 km, atau trek panjang sekitar 3 km. Bisa juga menggabungkan keduanya,” ujar Roger. 

Selepas dari taman, pemandu kami dari Visit Victoria, Karen Webster, mengajak kami ke Hotel Flinders, tempat kami bermalam. Baru saja menaruh barang bawaan di kamar, ia mengajak pergi lagi. Tubuh yang sudah mulai penat, bersemangat kembali ketika mengetahui tujuan kami, Peninsula Hot Springs. 

“Kolam pemandian Peninsula Hot Springs kaya akan mineral penyembuh dan memiliki suhu sekitar 50 derajat celsius. Mata airnya mengalir ke permukaan dan masuk ke kolam air panas,” tutur Karen.

Setelah lelah melakukan perjalanan seharian penuh, berendam di pemandian air panas itu benar-benar menyegarkan. Uap panas dan suara aliran air ampuh menenangkan pikiran dan tubuh.

Konon, kolam ini didirikan kakak-beradik Charles dan Richard Davidson pada 1997. Charles terinspirasi dari beberapa kolam mata air panas (onsen) yang ia kunjungi saat tinggal di Jepang sebelumnya. Bukan sekadar kolam mandi, Peninsula Hot Springs juga menyediakan layanan refleksiologi, sauna, kolam air dingin, area berendam untuk keluarga, kolam gua, dan Turkish steam room.

Peninsula Hot Springs sungguh menjadi pamungkas yang sempurna. Tak sabar saya menanti esok hari, menjumpai Twelve Apostles di Great Ocean Road. (M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya