Konsisten Menggawangi Yayasan Bagong

MI
10/3/2019 00:10
Konsisten Menggawangi Yayasan Bagong
(DOK. YAYASAN BAGONG KUSSUDIARDJA)

SOSOK Jeanny Park begitu lekat dengan Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK) yang berada di Yogyakarta. Perempuan berdarah Korea yang tinggal di Amerika sejak kecil itu, ikut membidani lahirnya YBK pada 2007 dan hingga sekarang menjabat sebagai Direktur Eksekutif YBK.

Dia yang sebelumnya pernah bergabung di Yayasan Kelola itu pun memiliki pengalaman panjang berinteraksi dengan para seniman Tanah Air, termasuk membawa mereka dalam pertunjukan-pertunjukan di luar negeri.
Berbincang di kantornya di YBK, Jumat (22/2), Jeanny menceritakan, pada 2007, dia diajak Butet Kartaredjasa untuk menjadi partner mengelola YBK. Butet yang sibuk dengan keaktoran dan berbagai kegiatan mencari sosok yang tepat untuk melanjutkan visi sang ayah setelah meninggal dunia pada 2004.

Visinya ialah menjaga keberlanjutan kesenian di Indonesia tetap berperan dalam kehidupan di masyarakat. Kesenian dapat berkembang dengan identitasnya.

Jeanny pun sependapat dengan Butet beserta keluarga mendiang Bagong Kussudiardja agar warisan sang maestro tidak menguap begitu saja. Harus ada program-program reguler dan konsisten yang mempererat kesenian dengan masyarakat di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja yang lebih terbuka diakses publik.

“Ini jadi kesempatan untuk saya mewujudkan sebuah tempat seni yang lebih bisa berperan (di masyarakat). Semangat dan kontribusi Pak Bagong luar biasa. Secara pribadi mau memberikan semua demi kesenian,” kata dia yang sekarang juga sibuk sebagai dosen tamu di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Sejak 2007 hingga sekarang, PSBK sudah mengalami banyak perkembangan, baik dari fisik maupun program. Ia berharap, lebih banyak yang datang dan berkunjung mencari ilmu seni dalam berbagai program yang hadir di sini, seperti jagong­an wagen, pameran, hingga cantrik-mentrik.

Jeanny menyebut, yang dilakukan YBK tetap sejalan dengan visi mendiang Bagong Kussuduardja. “Setiap zaman harus mencari strategi baru selama jalan dan arahnya tetap, yakni kesenian berperan dalam kehidupan masyarakat.”


Program belajar

Menengok jauh ke belakang, Jeanny pertama kali datang ke Indonesia pada 1996 lewat program Darmasiswa. Program yang dibuka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang waktu itu masih bernama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ditukukan untuk orang asing yang mau belajar seni dan budaya di Indonesia.

“Saya sangat senang dengan tari Jawa. Saya pikir itu sebagai satu kesempatan untuk datang ke Indonesia. Tidak hanya belajar seni, tetapi memahami pola-pola pikir masyarakatnya,” kata Jeanny yang waktu itu sudah berkarier di salah satu galeri kontemporer di Amerika.

Saat berada di Yogyakarta, kecintaannya terhadap seni-budaya Jawa tumbuh. Dari seharusnya hanya setahun tinggal di Indonesia, ia kemudian memperpanjang hingga tiga tahun, memutuskan menikah dengan orang Indonesia, dan menjadi warga negara Indonesia. (AT/M-4)


 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya