Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SOROT lampu panggung mulai redup. Sementara itu, suara gamelan Jawa mulai menggema di setiap sudut ruangan. Tak lama kemudian, dua sosok perempuan keluar dan naik ke atas panggung. Seorang mengenakan kebaya warna putih, yang seorang lagi mengenakan kebaya berwarna hitam.
Bayang-bayang mereka lantas hilang di kegelapan dan kembali terlihat dalam posisi tidur saling memunggungi. Setelah itu, pelan-pelan mereka berdiri dan berbaris rapi, seraya menggoyangkan tangan yang dari kejauhan tampak seperti Wisnu dewa dalam kesusastraan Hindu yang memiliki empat tangan.
Kurang lebih, seperti itulah gambaran segmen pertama pementasan seni pertunjukan berjudul Ontologi Dedes, di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, yang digelar Sabtu (2/3). Lakon itu dipentaskan Karina Sokowati dan Sasqia Ardelianca, sedangkan sutradara sekaligus penata artistiknya ialah Ayda Khadiva. Mereka semua ialah anggota kolektif seni dari Bandung, Jawa Barat, bernama Fat Velvet.
Fat Velvet mendapat giliran untuk tampil di Galeri Indonesia Kaya karena menjadi bagian dari rangkaian program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia. Program tersebut terselenggara berkat kerja sama antara Garin Workshop dan Bakti Budaya Djarum Foundation yang kali pertama dibuka pada 2016.
Direktur Program Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, menjelaskan Ruang Kreatif ialah wadah untuk menumbuhkan bakat kreator seni pertunjukan di Indonesia. “Kami ingin kemajuan seni budaya di Indonesia dapat selalu terlaksana,” imbuhnya.
Pendiri Garin Workshop, Garin Nugroho, kala membuka pementasan Ontologi Dedes juga mengatakan wadah ini dibentuk untuk mengembangkan ruang kreasi dengan pendekatan anak muda dan interdisipliner.
“Dari ruang kecil ini semoga dapat menjadi ruang untuk mereka tumbuh dan semakin luas untuk mempererat jaringan dengan sponsor, maupun dengan sahabat muda-muda hari ini,” jelas Garin.
Perempuan utama
Ken Dedes dewasa ini memang dikenal sebagai sosok yang amat sulit untuk diidentifikasi. Satu-satunya sumber literatur yang membahasnya ialah kitab Pararaton. Dalam kitab tersebut Ken Dedes disebut sebagai perempuan utama (ardanareswari). Meski begitu, citra Ken Dedes tidak pernah utuh. Ia digambarkan sebagai seorang perempuan yang terombang-ambing oleh laki-laki, atau tidak berdaya kala dinikahi Tunggul Ametung dan Ken Arok, pembunuh Tunggul Ametung.
Dalam sumber lainnya, yaitu Kakawin Nagarakertagama, juga tidak disinggung mengenai sosok Ken Dedes. Silsilah Kerajaan Majapahit hanya diawali dengan Ken Arok. Padahal, sosok Ken Dedes tidak kalah penting karena dari rahimnyalah lahir raja-raja di Singasari hingga Majapahit. Zaman Majapahit sendiri, yang mana telah menjadi bagian dari peta sejarah Indonesia, pun tidak kalah penting karena pada masa itu semboyan dan gagasan soal Nusantara telah terbentuk.
Kala melakukan diskusi dengan beberapa orang yang dipercaya wawasan kebudayaannya, Ayda bahkan mengaku sempat kaget karena banyak dari mereka yang tidak tahu soal sosok Ken Dedes. “Ternyata orang-orang di sekitar, yang menurut saya cukup melek budaya, tidak mengetahui cerita tentang Ken Dedes. Misalnya, ketika membandingkan cerita Dayang Sumbi yang kisahnya dituturkan dalam bentuk legenda dengan kisah Ken Dedes yang dengan jelas ada bukti tertulis. Kenyataannya, orang lebih tahu cerita legenda tersebut dibandingkan kisah Ken Dedes,” tutur sutradara Ontologi Dedes, yang kini masih menempuh studi seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.
Mentor produksi Ontologi Dedes, Rama Soeprapto, punya kesan tersendiri soal Fat Velvet. Baginya, produksi Ontologi Dedes mempunyai spirit yang cukup tinggi. Ken Dedes sebagai tokoh perempuan dimainkan oleh dua orang perempuan, dengan sutradara perempuan, yang anggota timnya mayoritas juga perempuan.
“Sekarang banyak sekali isu-isu tentang perempuan yang sebenarnya mungkin jauh di sana. Tetapi apakah Ken Dedes ini dapat berbicara dari zaman yang berbeda, dimainkan di zaman yang berbeda pula, dari anak-anak yang kritis. Saya rasa ini satu pelajaran yang baik. Saya juga di sini ikut belajar, karena buat saya tiap generasi itu punya pemikiran yang berbeda, dan mungkin di sinilah kita bisa bertemu,” katanya. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved