Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH rumah di kawasan Kota Surabaya, Jawa Timur, sibuk dengan berbagai kegiatan remaja. Ada yang bermain musik, menjahit, hingga kegiatan olahraga. Di tengah suasana ramai itu tampak seorang perempuan yang dihormati dan juga dicintai. Ia pun bagai ibu sekaligus teman bagi anak-anak itu.
Dialah Yuliati Umrah pendiri Yayasan Anak Lintang (Alit) yang bertempat di rumah tersebut. Berdiri di tahun 1999, yayasan itu bergerak untuk memperjuangkan hak anak-anak, khususnya anak jalanan. Di sana, mereka juga diberi pelatihan dan keterampilan agar bisa berdaya. Yayasan Alit merupakan buah interaksi panjang Yuliati dengan anak jalanan. Saat masih kerap berdemo ketika menjadi mahasiswa Universitas Airlangga pada 1997-1998, ia tersentil dengan pertanyaan anak jalanan yang menyindir kegiatan demo itu.
“Mbak, sampean itu berjuang opo? Wong berjuang dengan demo malah membuat dagangan saya ndak laku,” tanya anak jalanan yang saat itu berjualan koran. Sejak saat itu perempuan yang akrab disapa Yuli ini mulai memperhatikan lebih dekat anak jalanan dan permasalahan mereka. Bahkan ia sempat ikut kegiatan mereka di jalanan meski saat itu ayahnya meminta melanjutkan kuliah di Michigan, Amerika Serikat.
Pada 22 April 1999, Yuli bersama anak-anak jalanan menemukan rumah kosong yang tidak terurus. Rumah itu menjadi tempat mereka berteduh. Saat malam mereka menyalakan lilin untuk mengusir gelap. Di sanalah mereka berinteraksi dan membuat organisasi bernama Anak Lintang atau Alit. Lintang dalam bahasa Jawa berarti ‘bintang’.
Kegiatan Yuli bersama anak jalanan mulai mendapat perhatian organisasi dunia (PBB dan AUSAid) sejak diliput media internasional. Yuliati pun diminta lembaga kemanusiaan dunia itu untuk menjadi konsultan menangani berbagai masalah anak-anak jalanan. ”Sampai-sampai ada preman yang menyatakan kalau saya ialah ratunya wong kere,” kata Yuli seraya tertawa mengenang julukannya.
Dua tahun menjadi konsultan, Yuli berhasil mendapatkan rumah kontrakan untuk markas Yayasan Alit. Yuli mengajarkan kerajinan tangan untuk meningkatkan ekonomi mereka sehingga mereka bisa mandiri. Setelah melihat respons pasar yang bagus, Yayasan Alit mulai membuat pameran dan mendapatkan penghargaan dari sebuah bank di Singapura.
Tidak semata membantu anak-anak di Surabaya, ia juga melebarkan sayap ke Flores, Nusa Tenggara Timur, dan lereng Gunung Bromo di Pasuruan, Jawa Timur dengan budi daya bunga lili. Terakhir di Depok, Jawa Barat, mereka membuat sekolah kewirausahaan.
Kini, sudah lebih dari 800 anak jalanan yang didampingi Yayasan Alit. Meski telah banyak membuat perubahan, tidak ada kata usai di kamusnya. Baginya, membantu anak jalanan ialah panggilan hidup. (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved