Kampanye Politik Edukatif melalui Buku

Tosiani
09/3/2019 06:00
Kampanye Politik Edukatif melalui Buku
()

SETIAP zaman, di beberapa bagian dunia akan muncul pemimpin-pemimpin yang bersinar. Di Indonesia, pada zaman Orde Lama memiliki Soekarno. Lalu, era Orde Baru berkuasa cukup lama Soeharto. Saat ini Indonesia memiliki tokoh pemimpin yang demikian bersinar seperti Presiden Joko Widodo atau lebih dikenal dengan sebutan Jokowi.

Dari awal kemunculannya, digambarkan penulis, Jokowi bukanlah sosok pemimpin yang langsung jadi dan sempurna. Jokowi tumbuh dan menuju proses matang sebagai pemimpin, sekaligus politikus melalui pengalaman yang cukup panjang. Proses tumbuh itu diamati penulis, salah satunya melalui pidato-pidato politik dan kenegaraan. Sering kali Jokowi tampil menjadi sosok yang bersinar terang, bahkan
satu-satunya pusat perhatian melalui ucapan-ucapannya saat berpidato, seperti sejak awal masa kampanye di Pemilu Presiden (Pilpres) 2014. Namun, terkadang sinar itu meredup dan hilang dengan sendirinya.

Dalam hal ini penulis memberikan dua contoh konkret pidato Presiden Jokowi, yakni pada Hari Pers Nasional pada akhir April 2015 dan saat peringatan Hari Lahir Pancasila di Blitar 1 Juni pada tahun yang sama. Saat Hari Pers Nasional, dalam pandangan penulis, Jokowi tampil dengan memberikan pesan amat berbobot. Sebaliknya, pada Hari Lahir Pancasila, penulis menyebut Jokowi lebay, normatif, lengkap dengan berbagai kalimat hiperbolis. Penulis menyebut fenomena Jokowi yang kadang bersinar, kadang redup dalam pidatonya itu seperti Jokowi sedang mencari bentuk pidatonya. Penulis juga memberikan saran dan semangat pada Jokowi.

Pada kesempatan lain di buku ini, penulis bahkan menampik kritikan wartawan senior Australia Hamish Macdonald di Nikkei Asian
Review pada November 2016. Dia khawatir dalam dua tahun kepemimpinanya berubah menjadi politikus normal, bukan lagi pendobrak militan. Hal itu salah satunya terlihat dari upaya Jokowi menaklukkan, mengintegrasikan sejumlah oposisinya, seperti Partai Golkar, lalu masuk jadi bagian dalam pemerintahannya.

Pada taraf ini, penulis menyebut kritikan itu sebagai analisis sepihak, mirip pamflet politik, bukan uraian akademis yang berimbang. Penulis kemudian memberikan uraian pembelaan dengan menyebut kebijakan Jokowi sudah di jalur y ang benar. Seperti saat memilih sejumlah
menteri yang andal dan mumpuni di bidangnya, seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Basuki Hadimuljono, dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Penulis membuat gambaran tentang pemimpin di negara lain, seolah sebagai pembanding dengan kepemimpinan Jokowi di Indonesia. Seperti pemimpin di Tiongkok Xi Jinping yang bahkan diangkat menjadi manusia setengah dewa oleh partainya sendiri. Emmanuel Macron yang menggugah harapan baru di Prancis. Fenomena terpilihnya Donald Trump di Amerika Serikat yang membawa perubahan politik cukup signifikan di negara adidaya itu dan Hillary Clinton, seorang tokoh sejarah di AS yang meniti jalan berliku.

Fakta historis

Secara khusus, penulis mengandaikan Jokowi seperti Harari, seperti yang tercantum dalam buku ini, Dari Jokowi ke Harari. Harari atau Yuval Noah Harari ialah seorang pemikir sejarah dari Universitas Hebrew, Yerusalem. Harari digambarkan penulis sebagai sejarawan muda yang mulai bersinar dan menjadi bintang terang pada usia yang relatif sangat muda, yakni 39 tahun. Diramalkan, selanjutnya Harari akan menjadi the sage of popular history. Hal itu karena fakta-fakta historis yang sebelumnya jarang terpikirkan. Seperti itulah kira-kira popularitas Jokowi sebagai pemimpin pada zaman ini.

Tak lupa pada bagian selanjutnya buku ini, penulis mengupas berbagai permasalahan demokrasi di negara ini. Termasuk analisis mengenai Partai Golkar tempatnya bernaung juga tentang konsep politik teknokrat dari Airlangga
Hartanto, salah satu tokoh politik Golkar yang masuk dalam bagian pemerintahan.

Secara umum, semua esai dalam buku ini seperti disebut penulis saat bedah buku di Paradigma Kafe, kawasan Menteng, beberapa waktu lalu, sudah pernah dimuat di berbagai media, termasuk media daring, khususnya Qureta.com. Kemunculan buku ini pada saat masa kampanye sebelum berlangsung Pemilu 2019 dapat dimaknai sebagai kampanye politik secara edukatif melalui buku. (M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya