Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Artis Mikha Tambayong tengah berduka. Ia baru saja kehilangan ibundanya, Deva Sheila Malaihollo, yang wafat pada Minggu (3/3) malam. Menurut Kakak sepupu Mikha, Putri Cahyati, ibu Mikha mengidap sindrom sjogren. Penyakit yang menyerang paru-paru, saluran pencernaan, dan kelenjar yang menjaga kelembapan tubuh itu merupakan salah satu jenis autoimun.
Selain sindrom sjogren, ada 80-an jenis penyakit autoimun lainnya yang dikenal di dunia medis, termasuk lupus. Pada 2017, penyanyi kenamaan asal Amerika Serikat Selena Gomez, mengatakan bahwa dirinya harus menjalani transplantasi ginjal. Ginjalnya rusak karena lupus.
Begitulah penyakit autoimun, terdiri atas banyak jenis dan masih menyimpan banyak 'misteri' yang belum terungkap. Dokter spesialis penyakit dalam dr Alvina Widhani SpPD mengungkapkan, autoimun terjadi karena antibodi atau sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel-sel yang sehat.
Dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan, penyakit autoimun dapat menyerang hampir semua bagian tubuh. Otot, saraf, kulit, sendi, mata, ginjal, dan lainnya.
"Seseorang bisa terkena penyakit autoimun banyak sekali faktornya. Belum diketahui penyebab pastinya. Namun, ada beberapa faktor risiko yang diduga menjadi pencetus," terang Alvina dalam diskusi Mengenal Apa itu Autoimun yang diselenggarakan Komunitas Organik Indonesia bersama Autoimun Indonesia di Mal Ciputra, Jakarta, pekan lalu.
Faktor pertama, tutur Alvina, ialah genetik. Seseorang yang punya riwayat keluarga yang pernah terkena penyakit autoimun juga rentan terkena autoimun.
Selain faktor genetik, terdapat pula faktor lingkungan atau faktor di luar tubuh. Elvina mencontohkan, paparan sinar matahari yang berlebihan dapat memicu munculnya lupus. Kebiasaan merokok juga bisa meningkatkan risiko terkena lupus dan rheumatoid arthritis (penyakit autoimun yang menyerang sendi).
"Pemicu autoimun lain juga bisa karena infeksi virus dan bakteri yang tidak tertangani. Juga faktor hormon. Diduga faktor hormon ini yang membuat penyakit autoimun lebih banyak menyerang perempuan di usia produktif," ucapnya.
Alvina menambahkan, penyakit autoimun dapat bersifat sistemik atau menyerang banyak organ. Seperti lupus yang bisa menyerang saraf, darah, ginjal, hati, hingga kulit. Juga sindrom sjogren yang menyebabkan peradangan pada kelenjar mata dan air liur.
Ada juga autoimun yang bersifat spesifik atau hanya menyerang organ tubuh tertentu seperti hashimoto. Hashimoto menyerang kelenjar tiroid sehingga menyebabkan terganggunya produksi hormon tiroid.
Tes diagnosis
Diagnosis penyakit autoimun, terang Elvina, sangat tergantung dari gejala yang menyerang organ tubuh. "Namun, gejala-gejala autoimun sering kali mirip dengan penyakit lain. Diperlukan pemeriksaan dan konsultasi ke dokter untuk memastikan diagnosisnya," ucapnya.
Ditempat sama, Prof dr Heru Sundaru SpPd menjelaskan ada suatu tes yang dapat dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit autoimun, yaitu dengan tes antibodi antinuklear atau tes ANA.
"Tes ANA digunakan untuk mengukur kadar dan pola aktivitas antibodi pada darah yang melawan tubuh (reaksi autoimun). Semakin tinggi kadar ANA, semakin besar kemungkinan terkena penyakit autoimun," ujar Prof Heru yang juga Pembina Yayasan Sjoren Syndrome Indonesia itu.
Pada tes ANA, bila hasilnya positif tetapi tidak ada gejala penyakit autoimun, kemungkinan penyebabnya ialah penyakit atau faktor lain. Jika hasil tes ANA positif dan ada gejala penyakit autoimun, disarankan untuk tes lanjutan, yaitu ANA profile.
"Tes ANA profile bisa membantu memperjelas diagnosis penyakit autoimun, seperti lupus, sindrom sjogren, skleroderma, dermatomiositis, psoriasis, polymyositis, dan rheumatoid arthritis," tutupnya.
Terkait dengan pengobatan, dokter spesialis penyakit dalam dr Sandra S Langow SpPD(K) menuturkan, hampir semua jenis penyakit autoimun membutuhkan pengobatan jangka panjang. Seseorang yang menderita autoimun sulit untuk sembuh sepenuhnya.
"Pasien autoimun membutuhkan evaluasi jangka panjang. Pengobatan dibutuhkan agar pasien bisa mencapai status remisi. Remisi artinya penyakitnya bisa dikontrol, keluhan yang dirasakan berkurang, dan pasien tenang," ucapnya.
Untuk bisa mencapai remisi, lanjutnya, pasien juga perlu menerapkan gaya hidup sehat dan menjaga psike, termasuk belajar menerima penyakit itu. "Agar pasien tidak stres dan depresi," katanya. (*/H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved