Kumpulan Keramik Bernilai Historis Tinggi

MI
03/3/2019 01:00
Kumpulan Keramik Bernilai Historis Tinggi
(MI/DESPIAN NURHIDAYAT)

KERAMIK bukan hanya berbentuk guci, vas, dan piring saja. Keramik juga bisa banyak ragamnya dan tentunya sejarah dalam pembentukannya. Bentara Budaya pun mencoba untuk menghadirkan dan memperlihatkan mengenai ragam keramik ini pada pameran Koleksi Keramik Bentara Budaya. Koleksi keramik ini merupakan hasil perintisan dan pengumpulan yang diawali pendiri Kompas Gramedia, PK Ojong. 

Keramik yang terdapat dalam pameran ini berjumlah 45 buah yang terdiri atas berbagai dinasti, seperti Dinasti Tang, Yuan, Sung, dan masih banyak lainnya.
Pertama memasuki pameran ini, terlihat banyak sekali guci yang ­berjejer di dalam ruangan pameran tersebut. Ada yang menarik perhatian, sebuah guci yang berukuran kecil dan berwarna cokelat yang berada tepat di depan pintu masuk. Guci ini merupakan guci yang berasal dari dinasti Tang yang dibuat pada abad ke-9. 
Tepat di sebelah guci ini, terdapat tempayan yang cukup besar dengan aksen kelopak teratai dengan sentuhan warna cokelat tua. Tempa yang ini merupakan benda yang berasal dari Dinasti Ming dan dibuat pada abad ke-17 hingga ke-18.
Tidak hanya guci dan tempayan saja, piring keramik pun terletak dalam kotak kaca. Piring ini berwarna dasar putih dengan adanya aksen tumbuhan rambat berwarna biru. Piring ini merupakan piring dari Dinasti Ching yang dibuat pada abad ke-19 hingga ke-20. Dalam dinding dekat pintu masuk, terdapat juga penjelasan dari Ika W Burhan selaku Ketua Pengelola Bentara Budaya.

“Pameran Galeri Sisi kali ini mencoba menampilkan kaya keramik yang tidak dibatasi oleh rentang waktu, jenis bahan, dan muasal benda-benda keramik yang dikoleksi sejak tahun 1980-an. Namun, lebih spesifik menampilkan keramik-keramik dari sisi bentuk yang menyangkut nilai-nilai estetisnya,” tulisnya. 

Di bagian agak dalam mendekati ujung, pengunjung dapat melihat 5 buah keramik berukuran panjang. Keramik ini mirip seperti tempayan atau mungkin guci. Namun, rupanya keramik ini merupakan tempat payung dan juga drum seat yang berasal dari Dinasti Ching yang dibuat pada abad ke-19 sampai ke-20. Tempat payung yang berasal dari keramik tersebut bernuansa pemandangan dilengkapi dengan gambar-gambar pohon dan warna dasar putih seperti melihat sebuah kesejukan dalam tempat payung dan drum seat ini.

Selain dari dinasti luar, dalam pameran ini pun tak kalah menunjukkan keramik asal Indonesia. Seperti ragam celengan yang berasal dari Trowulan, Jawa Timur. Dalam tulisan Ika, celengan ini dikaitkan memiliki nilai historis. Dalam kotak kaca ini, celengan dari Trowulan tersebut berjumlah tujuh buah dan memiliki perbedaan warna masing-masing. Akan tetapi, tetap mengenakan aksen cokelat, yang berbeda hanya warna cokelat muda, tua, dan cokelat tanah.

Selain itu, terdapat juga gerabah Papua yang dikatakan memiliki fungsi sebagai periuk dengan bentuknya yang khas dan mengingatkan kepada gerabah berbentuk cetakan kue, figurin berukuran sekitar 15 cm yang berasal dari Takalar (Sulawesi Selatan), produk-produk tempayan dari Singkawang dari abad ke-20 yang dulu terkenal sebagai daerah industri keramik dan banyak melayani kebutuhan pasar setempat.

Berdampingan juga keramik-keramik yang diduga berfungsi sebagai botol air raksa (merkuri). Botol ini pada masa lalu telah digunakan orang-orang Tiongkok untuk memisahkan emas dalam Quartz. Di Indonesia, botol yang sama banyak di temukan di daerah Tuban, Trowulan, Karawang, Tanjungpinang, Kota Cina, dan Bukit Seguntang (Palembang). Selain itu, juga banyak ditemukan di wilayah Sarawak, Birma, dan Taiwan yang usianya diperkirakan dimulai sejak 1200 M. Pameran ini akan berlangsung hingga 19 April 2019 di Bentara Budaya Jakarta.

“Melalui pameran ini, kami ingin berbagi dengan para penikmat benda-benda tanah liat untuk mengamati keunikan-keunikan koleksi benda keramik yang tidak hanya bernilai historis tinggi, tetapi juga keramik-keramik abad kini yang memiliki bentuk unik,” tutup Ika. (Des/M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya