Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEPANJANG tahun bisa dipastikan festival musik jazz di Indonesia akan marak. Maret ini saja sudah ada Java Jazz yang hadir sejak 2005. Menyusul berbagai perhelatan festival musik jazz dengan segmen-segmen tertentu, seperti jazz yang diadakan di alam terbuka, di daerah, dan momen, seperti Ramadhan Jazz. Namun, bagaimana perkembangan musikalitas para talenta mudanya?
Di beberapa festival jazz pun ada musisi non-jazz yang tampil. Musisi Indra Aziz menyebutkan, ada beberapa impresi yang lekat dengan jazz, membangkitkan minat para penyelenggara dan promotor untuk membubuhkan ‘jazz’ dalam
nama festival mereka.
“Ketika kita sebut jazz, ada beberapa keyword yang muncul, di antaranya tertib cerdas, dan masa kini sehingga sangat appealing untuk acara, membangkitkan gairah teman-teman di daerah.
Menurut saya, tidak apa-apa juga untuk menampilkan berbagai jenis musik yang tidak terlalu kental dengan jazz. Ini sebagai jalan masuk agar jazz makin diterima. Era sekarang ini, kita sudah lebih open minded, genre musik juga makin melebur, musik pop yang ada di chart, juga banyak yang dapat pengaruh dari jazz,” ungkapnya seusai Youth Jazz Showcase di Pusat Kebudayaan Amerika Serikat di Jakarta, @america, Jakarta Selatan, Selasa, (12/2).
Pemikiran yang terbuka akan segala jenis musik, kata Aziz, akan membantu anak muda mengembangkan musikalitas dan karier mereka. Ketika musisi muda jazz masuk ke industri, dan membuat karya yang lebih mudah didengar, akan membantunya untuk diterima publik sehingga saat ia menelurkan karya yang lebih kental nuansa jazz, akan lebih mudah diterima publik.
Jazz, aliran musik yang berakar pada musik Blues merupakan aliran musik yang identik dengan improvisasi. Musisi jazz Agam Hamzah menyebutkan, dalam jazz ada modifikasi accord dan melodi, yang menjadi ciri khas. “Di jazz ada yang namanya outside, toleransi,” tambahnya.
Pasarkan karya dan relevansi
Meski banyak festival musik yang menyematkan jazz, banyak kalangan yang menggangap berkarier di jalur jazz seret secara komersial. Pasalnya, musik ini dianggap hanya didengar segmen tertentu dan pasarnya kecil.
Anggapan itu ditepis drummer Dimas Pradipta, yang terlibat banyak proyek dengan musisi lain. Baginya, saat ini semuanya berkesempatan dalam memasarkan karya mereka. Tantangan bagi musisi jazz muda ialah justru perluasan konsep, konsistensi berkarya, dan kemahiran memasarkan semua punya kesempatan yang sama, semua orang, tiap musisi, jadi promotornya sendiri.
Karena semua orang bisa bikin karya, kualitasnya jadi lebar banget. Itu ada positif dan negatifnya, cuma saya lihat positifnya. Makin banyak yang bikin karya, berarti makin baik dan secara musik ini mendorong musisi lain bikin karya. Secara ekonomi punya kesempatan yang sama. Banyak orang bilang enggak usah main jazz, enggak ada duitnya, tapi musisi jazz seperti Gerald Situmorang, bisa rilis musik layaknya musisi pop. Bahkan tiket konsernya habis. Musiknya memang segmented, tapi penikmatnya ada, dan semua orang bisa bikin itu sendiri, itulah indahnya,” jelas Dimas yang juga mengisi drum untuk album terbaru Gerald Situmorang bersama Sri Hanuraga.
Lebih lanjut Dimas mengatakan para talenta muda jazz sebenarnya tidak perlu khawatir. Tantangannya saat ini bagi musisi muda bukan hanya jago teknik bermain, melainkan juga memasarkan karya. Musisi muda dituntut memiliki paket komplet, baik dari teknik, kematangan konsep, maupun distribusi karya.
Baik Aziz maupun Dimas sepakat cara paling ampuh ialah ngejam bareng. “Bisa enggak, jadi pengiring yang baik? Ini bisa dicapai bukan cuma main, harus ngerti esensinya, harus bisa ngobrol, udah punya pakem yang sama, punya
porsi, itulah jazz. Keindahan bermain musiknya, memberikan kesempatan dan nanti akan diberikan kesempatan juga,” ujar Dimas.
Di samping itu referensi juga penting. Perkembangan musik saat ini lebih cepat karena referensi yang ada lebih banyak sehingga menjadi relevan dengan perkembangan zaman. Di sisi lain, Aziz memberikan catatan bagi para pemilik tempat musisi jazz bermain. Menurutnya, bermain jazz tidak perlu mendapat aturan sebab ini mengingkari esensi jazz sebagai musik yang sarat improvisasi.
“Banyak tempat kita main yang khawatir kalau musisi datang dan main jazz, orang akan kabur sehingga banyak terjadi ketika diundang main secara reguler, beberapa minggu berjalan, mulai kurang bebas, terlalu banyak diatur. Menurut saya, poin bermain jazz ialah dikasih banyak kebebasan penonton, mereka bisa lihat si pemain ini, tidak lagi melulu bawain lagu orang atau yang populer lagi, cukup kasih kesempatan untuk ditunjukkan.” (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved