Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Buku ini meringkus 105 puisi yang tenang dan kaya. Enigma yang lahir dari kepekaan yang memanggil-manggil, ramah, dan murah hati.
IMAN dapat menjadi manggala puisi. Bukan maksudnya puisi-puisi cetek sebagai pengganti khotbah atau dakwah. Namun, karya yang tunduk pada estetika mengolah kata.
Untuk kesekian kali Mario F Lawi membukukan puisi-puisi biblisnya yang menawan. Kekuatan penyair asal Kupang ini ialah khazanah bacaan, jam-jam silentiun yang berharga selama di seminari, kesabaran dalam mengatur timbunan segala ingatan dan kesadaran yang terpendam di dalam kepala.
Buku ini meringkus 105 puisi yang tenang dan kaya. Enigma yang lahir dari kepekaan yang memanggil-manggil, ramah, dan murah hati.
Sapardi Djoko Damono dalam buku puisi Lelaki bukan Malaikat (2015) mencatat, "Mario dengan terampil memindahkan amanat kitab suci ke puisi dan menawarkan kepada pembaca sebagai penghayatan dan pengalaman baru yang tidak perlu dibatasi oleh keyakinan apa pun."
Barangkali Sapardi benar. Hampir seluruh karya ialah tafsir Mario sehabis mendalami kisah-kisah Alkitab, bapa-bapa gereja, tradisi Katolik terutama timur Indonesia, keseharian, dan kesukaan. Pembaca dapat turut merayakan pembacaan tanpa ragu dan takut berpindah keyakinan, misalnya.
Namun juga sastrawan, Damhuri Muhammad, berkata, "Butuh waktu untuk menikmati puisi-puisi Mario." Itu hanya ungkapan untuk menjelaskan bahwa puisi-puisi ini terutama berpijak di atas beragam tradisi dan budaya ribuan tahun lampau dan masa kini.
Berita baiknya, bagai Hansel dan Gretel, penyair yang buku puisinya-Ekaristi (2013)-menjadi Buku Puisi Pilihan Tempo (2014) ini, melempar kerikil-kerikil di dalam tubuh puisi sebagai kunci jawaban untuk ditemukan pembaca.
Penyair yang sekaligus penggagas Komunitas Sastra Dusun Flobamora ini punya banyak untuk ditawarkan. Selain pembaca kitab suci yang teliti, ia menikmati Rilke dan Saybia, mengenal Ovid sebaik Horace, bahasa Latin, riuhnya perasaan cinta. Mengingat diksi celana yang terkenal dari Joko Pinurbo, ia tanggapi dalam puisi yang sopan dan relevan.
Puisi-puisi Mario serupa prosa yang dapat dibaca sebagai kalimat lengkap. Lupakan titik atau huruf besar pada bagian tengah baris. Larik-larik puisi dapat terdiri dari satu baris, tiga baris atau banyak baris. Bentuknya rata kiri atau kotak -rata kiri-kanan.
Coba lihat puisi Berdiri di Belakangmu ini.
Sekarang kita ada di atas/Rakit yang sama. Ia tidak sendiri/Kita dapat kembali melanjutkan/Perjalanan jika kau tak berkeberatan.
Atau puisi di Kapela Kami
Seorang ibu/Menggendong anaknya/Yang tertidur lelap/Sambil menyantap Tubuh/Dan darah-Mu/
*
Keledai yang Mulia adalah judul bukunya. Kenapa Nominator Penghargaan Sastra Kusala 2014 ini memilih hewan yang sering jadi bulan-bulanan saking dungunya ini? Keledai yang dimaksud di sini adalah yang ditunggangi Yesus dalam satu kisah di Perjanjian Baru.
Setelah menempuh perjalanan panjang, ia merasa/Telah menjadi Kristus. Dunia tampak/ Begitu kecil di bawah kakinya.
Puisi tentang keledai mengingatkan puisi Sang Keledai (The Donkey) yang ditulis G K Chesterton (1874-1936), penyair asal Inggris. Puisi ini terkenal pada masa ia diluncurkan (1927). Puisi bernada parodi tetapi ditutup dengan glorifikasi sang keledai.
Sorak-sorai di telingaku/dan daun-daun palem di atas kakiku (There was a shout about my ear/and palms before my feet).
Puisi ini seolah berkata seluruh dunia boleh ngomong apa saja tentang aku tetapi aku punya satu jam paling berharga dengan Tuhanku. Itulah barangkali dalam benak Mario ketika menemukan paradoksal untuk keledai-keledai ciptaannya.
Ada tiga puisi lain berjudul keledai. Seekor Keledai dan Seorang Pria, Sepasang Keledai dan Sebatang Pohon Ara, Seekor Keledai dan Sebuah Patung Batu. Menarik karena keledai-keledai ini mampu bersatu rasa dengan Kristus, mengajar pohon ara yang mandul, menjadi saksi tragedi istri Lot menjadi patung garam.
Puisi Tomas bercerita si peragu murid Yesus. Mario mengabaikan soal waktu di antara keduanya, mempertemukan mereka dalam sukacita besar ketika Tomas pergi ke India dan menjadi orang suci di sana.
Simak baris-baris ini.
Kau boleh menyentuh lambungku/sebagai dua jawabmu atas pertanyaanku/Sepasang bintang apa yang menuntunmu ke Siria/Bagaimana lidah India melafalkan namamu.
Puisi Di Kelas Latin, Meninggalkan Kupang, Misa Hari Keempat adalah pengalaman penyair kita melampaui kebosanan dengan kreavitas. Ia pun terbuka menulis kemungkinan para suci terjerat cinta yang membingungkan dalam puisi Kelimutu.
Penyair kita seorang yang hati-hati. Bahkan, ketika bermain-main kata dengan gembira dalam puisi Hujan, Malam, Jatuh, ia menjaga diri agar tak terjerembab menjadi genit saat menjelaskan apa itu mencintai dan melupakan.
Membaca buku ini seperti bermain seek and find. Saya bersorak girang saat menemukan kerikil-kerikil dalam puisi-puisi yang ditulis dalam rentang waktu 2011-2018 ini. (M-4)
Judul : Keledai yang Mulia
Penulis : Mario F Lawi
Penerbit : Shira Media Yogyakarta
Cetak : Pertama, 2019
Tebal : vii+106 halaman
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved