Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Perempuan berkelas atau orang berlebih materi selalu identik dengan orang apatis dan tidak peduli dengan lingkungan. Stigma masyarakat ini yang kemudian disangkal para perempuan ini. Mereka masih terus memperjuangkan kehidupan yang layak dan berkembang positif untuk mereka.
Topik Kick Andy kali ini akan mengundang tiga perempuan yang berasal dari keluarga kaya raya, tetapi tetap peduli terhadap lingkungan sosial dengan konsen pada gerakan serta kegiatan sosial. Saksikan di Metro TV, Sabtu (9/2), pukul 14.05 WIB.
Dita Soedarjo
PEREMPUAN mandiri dan inspiratif, kata-kata ini mungkin menjadi salah satu idaman semua perempuan di luar sana. Apalagi, sudah dalam kondisi keluarga yang berkecukupan dengan fasilitas yang serbaada. Namun, masyarakat melihat, seorang yang dibesarkan dari lingkungan serbamewah cenderung dianggap sebagai orang yang apatis dengan kehidupan orang lain atau bisa dibilang egois. Anggapan ini tentu melekat erat dengan gaya hidup dan lingkungan dari orang kaya yang telanjur hidup bergelimang harta dan kemewahan.
"Itu wajar, orang berpandangan bahwa orang-orang kaya egois itu sangat wajar. Tapi saya melihat, bahwa tolok ukur kata kebahagiaan itu ketika melihat orang lain bahagia, bisa berguna untuk orang lain, dan tentunya tetap bersyukur," tutur Dita Soedarjo, 27.
Perempuan ini merupakan salah satu potret pengusaha sukses yang begitu peduli dengan lingkungan sosialnya. Ia membangun sebuah gerakan sosial bernama Lets Share yang bertujuan membantu orang-orang yang membutuhkan, seperti operasi sumbing, pendidikan, dan kegiatan sosial lainnya. Gerakan sosial ini juga dibantu beberapa teman sesama sosialita, artis, teman-teman dekat, serta relawan. Dita mengaku banyak yang mendukung kegiatannya ini dan selalu ada saja yang ikut menyumbang untuk membantu kegiatan ini.
Selain itu, ia juga mempunyai usaha di bidang fesyen dengan label Dignity Woman, nama ini dipilih karena setiap perempuan mempunyai harga diri dan berhak hidup terus lebih menjadi yang terbaik. Selain Dignity Woman, masih ada D'licate dan Virgin Villains semua usaha yang awalnya iseng ini baru berjalan dua tahun.
Menariknya lagi, 40 karyawan perempuan yang dipekerjakan ialah mantan tenaga kerja wanita (TKW), janda, dan perempuan lulusan SMA. Bukan tanpa alasan Dita Soedarjo ingin membantu para perempuan untuk bangkit dari kehidupan buruk di masa lalunya.
Latar belakang kurang baik
Awalnya ia sangat sulit untuk mendirikan bisnis fesyen tersebut karena mayoritas pekerjanya perempuan dan berlatar belakang yang kurang baik. Seperti TKW yang pulang ke Indonesia dengan trauma pernah diperkosa, mendapat kekerasan fisik, dan diusir dari keluarganya.
Selain itu, juga anak-anak lulusan SMA yang ikut bekerja juga berlatar keluarga yang kurang baik, pernah menjadi pekerja seks komersial (PSK) atau dari keluarga broken home. Semua karyawan ini sengaja dipilih bukan hanya untuk membantu mereka dalam segi materi, melainkan juga memberikan mereka ruang untuk sembuh dalam sakit trauma dan memperbaiki mental mereka agar lebih baik lagi dari sebelumnya.
"Awalnya sulit sekali mengembalikan semangat orang-orang ini karena ada juga yang sudah stres dan hampir gila, tapi itu tantangannya. Saya sangat sedih, bahkan tidak menyangka ada orang yang diperlakukan seperti ini di dunia ini. Jadi, saya berharap bisa membuat mereka percaya diri lagi dan melanjutkan hidup nomal seperti sedia kala," tegas Dita. Kesulitan menurutnya pasti banyak, apalagi mendidik orang-orang tidak akan mudah.
Ia juga tidak main-main dalam bisnis fesyen yang awalnya hanya iseng-iseng ini. Hatinya terketuk untuk terus berkembang dan membantu lebih banyak lagi. Karena berhubungan dengan customer yang akan memakai baju dari brand miliknya itu. Namun, kasih yang ia berikan itulah yang menurutnya bisa menjadikan bisnis ini tetap berjalan hingga sekarang. Karena sebagian uang hasil dari penjualan baju ini akan disumbangkan untuk kegiatan-kegiatan sosialnya dan juga untuk lebih banyak membantu orang-orang lain yang membutuhkan.
Kasih Tuhan
Salah satu yang miris ia pernah ditinggalkan pekerja perempuannya karena sulit untuk mengembalikan seorang PSK untuk hidup normal seperti sedia kala. Kedisiplinan dan tanggung jawab yang diharapkan sulit sekali ditanamkan kepada mereka. Alasannya mereka lebih senang menjadi PSK ketimbang hidup normal dengan waktu kerja dari pagi hingga sore hari. Keprihatinan ini yang mendorong Dita Soedarjo malah lebih giat lagi untuk berbagi pengalaman dan membantu mereka dengan memberikan pilihan pekerjaan lain dari menjahit.
Ia juga membuat bisnis bulu mata yang ia beri nama D'licate dan cat kuku. Ia tidak mau menyerah dan menawarkan pekerjaan ini kepada mereka. Mereka yang cenderung bebas dan susah menyesuaikan waktu kerja kebayakan akan lari ke bulu mata dan cat kuku ini sehingga ia tidak mau melepaskan orang-orang yang ia anggap layak untuk hidup terus menjadi lebih baik lagi tersebut. "Kasih Tuhan yang membantu saya, tidak mungkin saya mengubah orang yang trauma dengan cepat dan dapat hidup normal kembali. Saya yakin Tuhan yang bekerja untuk mewujudkan mimpi saya," kata Dita. (Putri Yuniarti/M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved