Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TEKAD Presiden Jokowi untuk mencetak lebih banyak unicorn dari startup Tanah Air telah begitu akrab didengar. Para pemimpin perusahaan rintisan pun bergembira akan hal tersebut namun juga mengingatkan pemerintah akan pekerjaan rumah (pe-er) besar yang berpengaruh bagi iklim pertumbuhan startup.
Hal tersebut disampaikan CEO Queenrides, Iim Fahima, dan CEO Live, Satri Rama Widyowicaksono dalam acara Gettinggritty - The Backbone of Successful Entrepreneurship di @America, Jakarta, Kamis (28/1). Keduanya sama-sama menekankan pentingnya pendidikan karakter kewirausahaan sejak dini.
"Misalkan kenapa di US bisa tumbuh, pertama berangkat dari sistem pendidikan. Jadi memang enterpreneurship sudah ditumbuhkan dari mereka kecil kalau disini hanya sebagai bagian ekstrkuliner saja bukan program pendidikan. Kalau disana memang dari kecil sudah di-encourage," ungkap Iim. Menurutnya, awal dari pembentukan karakter kewirausahaan itu adalah dengan mendorong anak berani menyatakan pendapat dan juga mendorong kepekaan mengeksplorasi lingkungan. Kedua karakter itu berpengaruh pada kreativitas dan kepercayaan diri.
Tidak hanya itu, Iim juga menilai perlu adanya sistem penilaian yang menghargai keunikan tiap individu. Sistem penilaian berbentuk Ujian Nasional seperti sekarang ini, menurutnya, belum mendukung kebutuhan itu.
Hampir serupa, CEO of Live, Satrio Rama Widyowicaksono, juga mengambil contoh dari pendidikan di Amerika Serikat. Ia melihat sistem pendidikan memang sudah dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar dan bisnis di masa depan. Sistem pendidikan ini pun berpadu baik dengan cara pandang orang tua akan keterbukaan beragam profesi. DI AS maupun di Tiongkok, para orang tua tidak mempermasalahkan jika anaknya sejak usia muda sudah bercita-cita ingin berwirausaha. Sementara di dalam negeri, kebanyakan orang tua lebih menyukai anaknya berkerja sebagai karyawan, khususnya karyawan di instansi pemerintah.
"Negaranya driven by business, business nomor satu. Justru di Indonesia kebalikan menjadi pengusaha pilihan nomor sekian, pertama mungkin menjadi PNS, TNI, Polisi. The whole system membuat kita hal yang berbeda," jelas Rama.
Stigma soal profesi wirausaha ini juga diamini oleh Co-Founder and CEO of Crowde, Yohanes Sugihtononugroho. "(Kalau di Indonesia) Orang tua prefer (anaknya) jadi PNS, mindset sudah di-setting berbeda dari awal. Jadi memang pendidikan dari awalnya berbeda dan budayanya berbeda. Kalau di US usia 17 tahun sudah dituntut untuk hidup mandiri sendiri," ujar Yohanes.
Bagi Iim permasalahan stigma ini harus bersama-sama diubah pemerintah dan masyarakat. Di sisi lain, pemerintah juga harus terus membangun iklim usaha yang baik dengan regulasi yang semakin berpihak pada pertumbuhan industri. Salah satunya adalah lewat kemudahan-kemudahan dalam perpajakan. (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved