Peneliti Temukan 57 Titik Penyebab Insomnia

Hilda Julaika
26/2/2019 18:35
Peneliti Temukan 57 Titik Penyebab Insomnia
(Ilustrasi--Thinkstock)

Insomnia bukan hanya gejala yang berkaitan dengan kesulitan untuk tidur dengan kuantitas dan kualitas yang baik. Sebuah penelitian Massachusetts General Hospital (MGH) dan University of Exeter menyebutkan insomnia bersifat genetik dan dapat meningkatkan risiko penyakit arteri koroner.

Dilansir Daily Mail, gen-gen yang ada pada tubuh manusia yang berkaitan dengan insomnia ini tidak hanya membuat penderita kehilangan rasa kantuk. Namun, mereka juga hampir dua kali lipat terkena risiko penyakit arteri koroner yang dapat menyebabkan angina (kejang) atau gagal jantung.

Setiap orang membutuhkan jumlah jam tidur yang berbeda. Rata-rata orang dewasa membutuhkan 7 hingga 9 jam, sedangkan anak-anak memerlukan 9 hingga 13 jam. Sementara itu, penyebab paling umum dari insomnia adalah stres, kecemasan atau depresi, kebisingan yang berlebihan, tempat tidur yang tidak nyaman, hingga pengaruh alkohol dan kafein.

Insomnia akan membaik dengan mengubah kebiasaan tidur. Misalnya, tidur dan bangun pada waktu yang sama dan dilakukan secara berkelanjutan setiap hari, atau tidur ketika merasa lelah.

Sebuah penelitian terhadap 450.000 orang berhasil mengindentifikasikan 57 lokasi pada DNA yang meningkatkan risiko sulit tidur. Para peneliti berharap penelitian ini bisa membuka jalan menuju perawatan pada DNA yang menyebabkan insomnia tersebut.

“Insomnia memiliki dampak yang sangat signifikan pada jutaan orang di seluruh dunia. Kami sudah lama mengetahui adanya hubungan antara insomnia dan penyakit kronis,” kata Dr Jones.

Penemuan ini menunjukkan depresi dan penyakit jantung sebenarnya hasil dari insomnia yang berkepanjangan. Menurut jurnal Nature Genetics, insomnia memengaruhi antara 10%-20% orang di seluruh dunia. Insomnia telah dikaitkan dengan kecemasan, alkoholisme, depresi dan penyakit jantung. Namun, belum jelas bagaimana tepatnya dari kurang tidur yang terlibat dengan kondisi ini.

Hasil penelitian mengungkapkan terdapat 57 lokasi genetik yang terkait dengan gejala susah tidur. Insomnia ini justru bukan dipicu kafein, depresi, atau stres. Melainkan gen-gen yang diidentifikasikan terlibat dalam ubiquitin- proteolisis yang berfungsi sebagai pengurai protein utama dalam tubuh. Lalu juga gen-gen yang terdapat di beberapa area otak, otot rangka, dan kelenjar adrenal.

Insomnia yang dikaitkan dengan penyakit arteri koroner ini didefinisikan sebagai plak yang menumpuk di arteri sehingga mempersempit dan membatasi darah mencapai jantung. Untuk menguji apakah hasil ini berlaku bagi orang di luar Inggris kemudian peneliti melakukan penelitian dari studi HUNT yang berbasis di Norwegia, yang terdiri dari 15.000 penderita insomnia dan lebih dari 47.600 orang yang melakukan kontrol terkait gejala insomnia.

Para peneliti juga melakukan analisis data dari Mitra Biobank yang berbasis di Boston. Terdiri dari 2.200 orang dengan diagnosis insomnia dan 14.240 kontrol.

“Semua wilayah yang teridentifikasi adalah target terapi baru yang mungkin untuk diterapkan pada penderita insomnia, dan mengungkapkan target obat yang diketahui bisa digunakan. Terdapat pula hubungan kausal baru yang menunjukkan potensi kegunaan terapi insomnia sebagai pengobatan yang mungkin untuk penyakit arteri koroner dan depresi,” papar Dr Jacqueline Lane

Sementara itu, Dr Weedon memperingatkan perawatan insomnia yang ada saat ini dapat menyebabkan kecanduan dan efek samping. Termasuk sembelit, perubahan nafsu makan, dan kesemutan pada tangan juga kaki.

Para peneliti sekarang harus fokus bagaimana perubahan genetik ini menyebabkan insomnia. Untuk menguaknya dibutuhkan penelitian pada sel manusia, tikus, lalat buah, hingga organisme jenis lainnya. Selain itu, dibutuhkan studi rinci yang lebih tepat mendefinisikan hubungan sebab akibat insomnia dengan hasil klinis penyakit kronis.

“Tidak satu pun dari tugas ini dimungkinkan terjadi tanpa studi kolaboratif besar di berbagai lembaga dan negara,” tutup Dr Saxena. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya