Punk Jelita

Bintang Krisanti
24/2/2019 06:20
Punk Jelita
(AFP)

Rumah mode Coach, Michael Kors hingga Victoria Beckham sama-sama mengusung tampilan feminin dengan unsur pemberontak di pekan mode London dan New York.

DENGAN bahan ringan melayang dan aplikasi frill serta ruffle, gaun-gaun midi itu semestinya begitu feminin. Kesan yang muncul urakan meski tetap chic.

Begitulah koleksi musim gugur/dingin 2019 dari rumah mode Coach yang diperagakan di pekan mode New York, Selasa (12/2). Direktur Kreatif Coach, Stuart Vevers, memberi karakter rebellious dengan potongan asimetris, dekonstruksi, bias, serta teknik patchwork. Motif bunga yang dipilih pun bergaya psikedelik.

Walau sedikit mirip dengan kesan hippie, tampilan totalnya lebih edgy sekaligus juga vintage karena detail kerah berpita kecil ala era Victoria dan padanan celana pendek bermotif kotak-kotak. Malah dengan tambahan sepatu bot dan jaket dengan aplikasi metal, kesan ala punk atau rock n roll lebih kuat.

Dilansir, WWD, motif bunga itu menggunakan karya-karya psikedelik 60-an dari seniman dekoratif, Kaffe Fasset. Kepada situs fesyen itu pula Vevers menjelaskan jika inspirasi desainnya berasal dari perjalanannya ke jalur Route 1 di California. Kala itu ia juga berkunjung ke restoran Nephente yang terkenal di sana. Restoran itu dikelola keluarga Fasset dan interiornya banyak menggunakan karya Kaffe.

"Kami senang dengan gaya gadis-gadis Coach yang menyingkap roknya, menaruh tangannya di kantung, dan dengan celana surfer yang mengintip," tutur Vevers.

Kesan feminin tetapi juga urakan terlihat pula dalam koleksi Michael Kors. Berlangsung di kota yang sama, sehari setelah show Coach, Kors menampilkan kesan yang lebih romantis dan ala gadis rumahan dengan motif bunga dalam warna manis dan beragam outer berupa cardigan rajut panjang. Namun, dalam set busana lainnya, ia memasukkan unsur street wear lewat outer kotak-kotak yang dipadankan dengan gaun midi berpotongan bias dalam warna abu-abu. Tambahan aplikasi bulu dan rumbai membuat koleksi busananya makin meriah.

Bagi Kors, berbusana itu sama halnya dengan membuat pertunjukan. Ia pun mengaku inspirasi koleksinya dari kemeriahan gaya campur aduk tahun 70-an ketika anak-anak muda bergaya untuk difoto para fotografer, bukan sekadar untuk Instagram.

"Yang terbaik dari era itu adalah segalanya yang bercampur, misal Nan Kempner (sosialita terkenal era itu) yang bersanding dengan anak muda jalanan," tutur desainer berusia 59 tahun itu.

Kesan perempuan-perempuan tangguh juga ada dalam koleksi Burberry dan Victoria Beckham yang berlangsung di pekan mode London. Kesan itu bukan muncul dari gaya urakan, melainkan unsur rantai.

Burberry memunculkannya lewat aplikasi rantai yang digunakan di bagian tepi busana. Maka dari itu, tampilan busana beige khas mereka menjadi lebih grunge, terlebih dengan potongan dekonstruksi dan bias.

Dua potongan tersebut tampaknya memang sedang tren di panggung mode dunia. Dengan teknik potongan itu gaun-gaun ladylike menjadi lebih segar.

Gaun itu pula yang ada di panggung koleksi Victoria Beckham. Unsur rantai dimunculkan lewat motif baik dalam ukuran kecil maupun ekstra besar. Victoria juga masih memunculkan bot-bot selutut berukuran longgar namun kali ini dengan gaya peep-toe.

Victoria juga semakin mengarah ke karakter yang lebih santai, meski tetap elegan, dengan banyak mengeluarkan kulot hingga blus longgar dengan lengan ekstra panjang. "Dia seorang lady meski gayanya bukan ladylike, dia tetap anggun meski tidak sangat rapi," tukas Victoria kepada Vogue.

Mengenang Karl Lagerfeld

Berpulangnya Karl Lagerfeld pada 19 Februari lalu masih diratapi banyak selebritas maupun insan mode dunia. Desainer asal Jerman kelahiran 85 tahun lalu itu memang sudah menjadi legenda di dunia mode.

Kejeniusan desainnya membuat ia dipercaya menjadi nakhoda di dua rumah mode ternama sejak beberapa dekade lalu hingga kematiannya. Lagerfeld memimpin Fendi sejak 1965 dan ia memimpin Chanel 1983. Selain itu, desainer dengan tampilan khas rambut berkuncir, kacamata hitam, dan sarung tangan ini juga mendirikan label atas namanya sendiri sejak 1984.

Meninggal karena sakit pankreas, Lagerfeld masih terus aktif mendesain hingga tahun terakhir hidupnya. Di tangannya pula, label Chanel berhasil terus dekat di generasi masa kini tanpa kehilangan ciri khas desain yang dimunculkan sang pendiri, Coco Chanel.

Lagerfeld sukses memunculkan tampilan power suit khas Chanel di segala musim, bahkan dalam koleksi resor dan baju pengantin. Ia bisa pula memunculkan kesan seksi lewat permainan beragam bahan, termasuk bahan jaring yang seksi.

Berpulangnya Lagerfeld memang jelas kehilangan besar dunia mode. Namun, warisannya berupa busana yang melintas fungsi fesyen akan terus dikenang. (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya