Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BEBERAPA tahun terakhir perkembangan kuliner di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai menggeliat. Apalagi, dukungan pemerintah daerah agar masyarakat mengelola bahan pangan dari kebun sendiri memberikan tambahan nilai gizi tinggi. Tidak mengherankan sejumlah rumah makan mulai menyediakan beragam hidang an berbahan pangan lokal, seperti jagung bose, se’i sapi, lawar ikan, dan a neka olahan daun kelor.
Mengonsumsi kelor (Moringa oleifera) menjadi penganan biasa di NTT. Biasanya masyarakat engonsumsinya dengan cara direbus atau digoreng, kemudian ditaburi bumbu. Kelor ini sangat pas disantap dengan nasi hangat.
Sayangnya, yang tidak banyak masyarakat tahu ialah kandungan vitamin tanaman ini. Ternyata vitaminnya tujuh kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan jeruk, empat kali kalsium susu, empat kali vitamin A pada wortel, serta dua kali protein dan tiga kali potasium pada susu.
Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan bayi dan anak-anak mengonsumsi daun kelor. Sejak diumbar kandungan gizinya oleh Gubernur NTT, kini ragam olahan kelor pun banyak ditemui, salah satunya di Resto Jamur Kelor di Jalur 40 Kelurahan Sikumana. Bila tidak tepat pengolahannya, daun kelor akan berair dan berlendir.
Jadi, perlu pengolahan yang tepat sehingga tidak mengurangi rasa daunnya yang lezat dan tidak menghilangkan kandungan gizinya. Cara pengolahan yang itu dihadirkan dalam sejum lah hidangan kelor yang lezat, seperti pepes ikan kelor, batok ikan kelor, rumpu rampe kelor, telur dadar kelor, semur kelor, tumis bunga atau daun kelor, garam asem, soto kelor, mi kelor, dan aneka kue. Sang pengelola Res Jamur Kelor, Sri Sudart kin soto kelor bakal berkembang menjadi makanan khas NTT karena mulai diminati warga maupun pendatang.
Sejak 2018, Sri memperkenalkan soto kelor yang modifikasi soto ayam, dengan sayuran daun kelor yang membuat rasa hidangan berkuah ini lezat dan unik untuk disantap.
Sri juga tekun melakukan sosialisasi manfaat kelor bagi kesehatan jika makan kelor setiap hari. “Saya sudah tiga kali berbicara tentang manfaat kelor,” ujar perempuan asal Jawa Tengah itu. Saat perayaan Natal De ber 2018 dan Tahun Bar banyak pejabat daerah memesan kue kelor. “Kemarin di acara pemerintahan, saya siapkan 400 porsi kelor untuk delapan hidangan,” katanya.
Jagung
Berkunjung ke NTT tetunya jangan kelewatan mencicipi hidangan yang terbuat dari jagung. Tanaman jagung memang mudah ditemui di kebun masyarakat Kupang. Biasanya jagung diolah menjadi jagung bose. Hidangan ini cara pengolahnnya cukup mudah.
Jagung yang sudah dibersihkan tersebut direbus hingga menjadi bubur. Masyarakat perdesaan biasanya mencampurkan jagung bose itu dengan santan.
Bila tidak inngin dicampurkan santan pun bisa, biasanya sebut menjadi jagung bening. Tidakk hanya itu, hidangan jagung bose nikmat dengan campuran kacang kedelai, kacang tanah, kacang merah atau kacang hijau, daun labu, dan sayuran lain. Rasanya akan semakin nikmat dengan tambahan daun kelor dan lawar ikan.
Lawar ikan meruapakan ikan sarden yang diberikan potongan cabai, bawang merah, bawang putih, yang diberikan perasan air jeruk atau cuka. Ingin mencicipi jagung bose, coba berkunjung ke lokasi wisata kuliner usaha kecil menengah (UKM) Kupang di jalan Frans Seda yang khusus menjual hidangan khas daerah.
Pengelola wisata kuliner UKM, Rikardus Otniel Yunatan, mengatakan peminat jagung bose di lokasi itu bertambah setiap minggu, terutama pada pengunjung dari luar daerah yang ingin menikmati hidangan khas Kupang.
Se’i
Jika bertandang ke Kupang, jangan sampai pulang tanpa menikmati se’i sapi. Se’i merupakan daging asap yang sudah dibumbui dan dijemur hingga kering. Biasanya se’i diolah dengan cara ditumis dengan bawang merah, bawang putih, lada, ketumbar, dan kecap. Makanan ini tidak banyak menggunakan bumbu karena rasa bumbu dari daging asap ini terbilang pekat.
Tidak semata dimakan langsung, se’i juga bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Biasanya daging yang sudah dikeringkan langsung dibungkus plastik. Sebenarnya tidak sulit mencari se’i sapi. Hidangan khas dari Pulau Rote itu sudah menjamur di rumah makan dan restoran di Kota Kupang. Se’i diburu karena aroma khas dari bumbu yang ditaburkan, termasuk aroma kayu kesambi (Schleichera oleosa) yang dibakar untuk memanggang se’i. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved