PIGURA Sang Guru Bangsa

ONO SARWONO
24/2/2019 05:00
PIGURA Sang Guru Bangsa
(dok.mi)

ADA petuah sederhana, untuk mengetahui watak seseorang perkenalkanlah ia dengan kekuasaan atau untuk mengerti karakter sejati seseorang, sentuhlah harta bendanya. Di sinilah akan diketahui 'warna' aslinya.

Namun, itu ternyata tidak berlaku bagi Dewabrata alias Bhisma. Tokoh dalam dunia wayang ini ialah contoh titah marcapada yang begitu 'beku' memandang kekuasaan, pun materi. Baginya, kenikmatan duniawi merupakan ujian, bahkan penghambat untuk mencapai hidup yang hakiki.

Saking luhur jiwanya, dewa menghadiahi Bhisma hak menentukan sendiri kapan memilih mati. Bhisma akhirnya menentukan diri meninggalkan marcapada saat pecah perang Bharatayuda. Dunia menangisi kepergiannya.

Melamar Durgandini

Syahdan, Raja Astina Prabu Sentanu jatuh cinta kepada Durgandini, putri Raja Wiratha Prabu Basuketi. Saat itu status Sentanu duda setelah ditinggal istrinya, Dewi Gangga, yang kembali ke kahyangan. Gangga purik pascakelahiran Dewabrata akibat drama rumah tangga.

Sentanu melihat Durgandini bisa menjadi permaisuri dan ibu yang baik bagi putranya. Kesibukannya sebagai raja, membuat ia merasa tidak cukup waktu dan kepiawaian menggulawentah sendiri Dewabrata yang sudah beranjak remaja. Maka dari itu, Sentanu segera memutuskan melamar Durgandini.

Saat itu status Durgandini ialah janda beranak satu. Ia berpisah dengan suaminya, Palasara, setelah membangun rumah tangga dalam waktu yang relatif singkat. Anak tunggalnya itu bernama Abiyasa yang ikut bapaknya ke pertapaan Retawu di lereng Gunung Saptaarga.

Betapa gembiranya Basuketi dengan lamaran Sentanu. Inilah yang ia idam-idamkan sebagai orangtua. Sejak awal ia ingin putrinya menjadi permaisuri atau istri raja negara besar. Namun, apakah lamaran itu diterima atau tidak, ia serahkan sepenuhnya kepada putrinya.

Cinta Sentanu tidak bertepuk sebelah tangan. Durgandini ternyata juga kesengsem kepada Sentanu. Namun, seperti adatnya, ia meminta pitukon (syarat). Permintaannya ialah bila pernikahannya kelak memiliki anak, putra-putranya yang menggantikan sebagai raja.

Permintaan itu tampaknya sederhana, tapi sungguh berat bagi Sentanu. Berdasarkan paugeran negara turun-temurun, yang harus menggantikan raja ialah putra mahkota yang biasanya anak sulung raja. Oleh karena itu, bila Sentanu lengser keprabon yang mesti menggantikannya duduk di singgasana ialah Dewabrata.

Sentanu tidak bisa langsung menjawab permintaan Durgandini. Bahkan, sepulang dari melamar, ia jatuh meriang. Berhari-hari hingga berminggu-minggu hanya di atas peraduan. Sentanu seperti tidak bergairah hidup sehingga mengganggu jalannya pemerintahan. Dewabrata bertanya kepada ayahnya, apa yang menyebabkannya kehilangan asa hidup.

Dengan suara lirih dan mimik sedih, Sentanu meminta Dewabrata tidak perlu memikirkan dirinya. Namun, Dewabrata tahu bahwa sesungguhnya yang membuat ayahnya 'masuk angin' itu permintaan calon ibu tirinya.

Dewabrata lalu mendekatkan diri ke Senatu. Ia mengatakan demi bapaknya dan masa depan Astina yang lebih baik, ia rela tidak menjadi raja. Ia tidak mempermasalahkan permintaan Durgandini.

Dewabrata pun bersumpah dirinya akan menjaga harkat dan martabat keluarga dan bangsa serta negara Astina. Bahkan, ia berjanji akan mempertaruhkan jiwa raganya demi kejayaan Astina.

Sumpah wadat

Dewabrata kemudian berinisiatif menghadap Prabu Basuketi di istana Wiratha. Ia memperkenalkan diri sebagai putra Sentanu. Kedatangannya membawa pesan bahwa ayahnya bersedia memenuhi syarat Durgandini.

Di depan Durgandini, Dewabrata pun menyatakan rela tidak menjadi raja dan berjanji akan mendukung sepenuhnya siapa pun nanti putra Sentanu-Durgandini yang menjadi raja Astina. Berulang kali prasetianya ia sampaikan dan yakinkan kepada calon ibu tirinya itu.

Namun, Durgandini masih meragukan janji Bewabrata yang ia anggap masih anak ingusan. Ia sebutkan, bagaimana nanti dengan anak Dewabrata kelak, apakah tidak akan menuntut haknya di kemudian hari.

Menjawab keraguan Durgandini, saat itu pula Dewabrata bersumpah bhishan-pratigya, yang artinya sumpah membujang hingga akhir hayat (wadat). Sejak saat itu Dewabrata memiliki nama lain, yakni Bhisma, yang artinya sumpahnya yang dahsyat.

Tidak lama kemudian, menikahlah Sentanu dengan Durgandini. Dari perkawinan mereka, lahirlah dua putra, Citranggada dan Wicitrawirya. Pada suatu ketika Sentanu lengser, Citrangganda yang menggantikannya.

Janji dukungan Bhisma kepada adiknya lain ibu ia buktikan juga dengan mencarikan putri sebagai permaisuri raja. Bhisma unggul dalam sayembara di Negara Kasi sehingga berhak memboyong tiga putri, yakni Amba, Ambika, dam Ambalika.

Ambika dinikahi Citranggada, sedangkan Ambalika menjadi milik Wicitrawirya. Amba dikisahkan meninggalkan dunia karena terkena panah Bhisma secara tidak sengaja. Itu karena Amba ketika itu terus mendesak Bhisma agar menikahinya.

Citranggada tidak lama memerintah dan meninggal dunia di usia muda dengan tidak memiliki keturunan. Takhta kemudian jatuh ke tangan adiknya, Wicitrawirya. Kodratnya sang bungsu itu juga tidak berumur panjang, ia meninggal tanpa memiliki anak.

Karena sudah tidak ada lagi putranya dari benih Sentanu, Durgandini lalu mengangkat putra pertamanya, Abiyasa, menjadi raja baru bergelar Prabu Kresnadwipayana. Dari pernikahannya dengan janda saudaranya lain ayah (Ambika dan Ambalika), serta dayang Datri, Abiyasa memiliki tiga putra, yakni Drestarastra, Pandu, dan Yama Widura.

Kepemimpinan silih berganti, tetapi Bhisma senantiasa menjaga keluhuran Astina. Hingga pada suatu ketika Astina di bawah kekuasaan rezim Kurawa yang dipimpin Duryudana. Di era itu, Bhisma yang tinggal di Kesatrian Talkanda, menjadi pepunden atau guru bangsa. Namun, nasihat-nasihat selalu diabaikan keturunan Drestarastra-Gendari itu.

Mustikaning jagat

Hikmah kisah ini ialah tentang Bhisma mengartikan kekuasaan. Meski sebagai pewaris sejati takhta Astina, ia tidak ngiler kedudukan. Ia pun tinggal di dusun dan jauh dari istana, tempat ia dilahirkan.

Pada bagian lain, meski terpinggirkan dari hak-hak konstitusionalnya, Bhisma tetap mencintai tanah airnya. Ia terus mengawal jalannya pemerintahan dan selalu memberikan nasihat kebaikan kepada raja.

Nilai moralnya, tanpa menggenggam kekuasaan, Bhisma memiliki kehormatan, kemuliaan, dan kemasyhuran. Keluhuran budinya yang menjadikannya sebagai titah mustikaning (bintang) jagat.

Dalam konteks kebangsaan, janganlah hanya demi kekuasaan duniawi lalu mengorbankan segalanya serta menghalalkan segala cara yang merusak persatuan dan kesatuan bangsa. (M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya