Menyesap Lawu Menjelajah Ponorogo

Iis Zatnika
24/2/2019 04:00
Menyesap Lawu Menjelajah Ponorogo
(MI/Iis Zatnika)

Jawa Timur bukan cuma tentang Bromo dan Banyuwangi.

SATU hari satu malam saja, berkah alam, pesona budaya dan sedapnya kuliner di lokasi-lokasi yang masih terhitung segar, saya eksplorasi tuntas pada lawatan memenuhi undangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur (Jatim), akhir Januari lalu.

Perjalanan dari Surabaya bisa dimulai dari pagi hari. Pilih pesawat yang mendarat sesaat setelah subuh di Kota Pahlawan itu. Lalu, menyambung dengan perjalanan darat 2 jam, menyusuri aspal yang terbilang mulus, kombinasi jalan tol dan jalanan desa dengan pepohonan karet dan persawahan di pinggirnya buat menuju Kabupaten Magetan.

Dua jam saja, saya sampai ke Mojosemi Forest Park, destinasi kebanggaan warga Magetan yang kini tengah hit. Ada pohon-pohon pinus dan eukaliptus yang diameternya bahkan bisa mencapai semeter. Mereka tersebar di lahan 20 hektare yang disewa dari Perhutani.

Dikelola sebagai lokasi wisata alam sejak dua tahun lalu, sensasi utama yang dijual Mojosemi ialah kerimbunan pohon dengan hawa dingin lereng Gunung Lawu. Ketika saya berkunjung, suhunya tak pernah melebihi 20 derajat celsius.

Saya menikmati rehat sejenak di Container Forest Camp yang berkapasitas empat orang dengan tarif per malam Rp750 ribu di hari kerja dan Rp950 ribu pada akhir pekan. Kontainer bekas dimanfaatkan sebagai ruang tidur yang nyaman nan adem, dengan jendela menghadap pepohonan. Ada pula fasilitas kamping ala glamor (glamping) dengan tempat tidur empuk dan kamar mandi resik.

Off road mendebarkan

Seusai beristirahat, saya menjelajah sisi-sisi yang didekorasi apik sehingga bisa dimaksimalkan para penggila swafoto. Ada area dengan payung-payung bergantungan, sepeda antik, hingga aneka biji dan buah-buahan yang dijatuhkan pepohonan. Wujudnya beraneka rupa.

Setelah sarapan dengan teh nasgitel, panas, legit dan kental, dilengkapi pisang goreng, serta garang asem ayam yang juara, saya menjajal Lawu Tour dengan jip tanpa atap. Treknya singkat saja, tetapi dengan ayunan yang lumayan mendebarkan. Sesekali jip berhenti agar penumpang dapat memandang suasana desa dari ketinggian serta lanskap Danau Sarangan yang lebih dulu tersohor.

Ketika matahari mulai tinggi, ada pertunjukan Dino Park yang mengombinasikan sosok dinosaurus yang digerakkan mesin dengan manusia mengenakan kostum. Ada pula tokoh-tokoh manusia purba yang berdialog dengan jenaka.

Kita juga bisa beraktivitas lain, seperti outbound, berkuda, panahan, hingga paintball. Namun, jika hanya ingin duduk-duduk, kita bisa bersantai di kedai Warung Pojok buat ngopi atau makan berat (lagi!). Menu terbaiknya, ayam dalam bambu, tongseng, dan gulai kambing.

Reyog dicintai antargenerasi

Dari Mojosemi, saya bertolak menuju destinasi berikut. Ponorogo! Dua jam saja berkendara, saya sampai di spot pertama, lokasi perajin reyog CV Bangkit Jaya Reyog. Di muka rumah sekaligus bengkel kerja itu tertata aneka peranti reyog, yaitu jathil, bujang ganong, warok, dadak merak, dan klono sewandono. Tentu, yang paling menarik perhatian, dadak merak atau barongan yang sosoknya legendaris nan magis.

Dadak merak ditempatkan di kepala, dengan sematan bulu merak asli yang diimpor dari India. Sosok buruk merak serta wajah harimau dari kulit macan asli dengan rambutnya yang menguar penuh wibawa, disusun dari 50 ekor buntut sapi. Sang barong, biasanya lelaki berbadan tinggi besar akan menggigit dadak merak, menahannya dengan kepala, beratraksi dengan menggerak-gerakkan lapisan bulu merak hingga tiarap dan berdiri. Memasukkan kepala saya di bagian kepala dadak merak yang didudukkan di meja, terbayang beratnya beban yang harus ditahan sang barong yang mencapai 40 kg.

"Dadak merak ini ada yang harganya Rp28 juta hingga Rp38 juta. Kami hampir tak pernah berhenti berproduksi. Pesanan senantiasa datang dari Ponorogo dan seluruh Indonesia, bahkan hingga Malaysia, juga Eropa. Karena biasanya juga satu kelompok reyog bisa punya tiga hingga empat dadak merak," ujar Sarya, generasi kedua yang meneruskan usaha itu dari sang ayah, Sarju.

Lilik Slamet Raharjo, sang Kepala Dinas Pariwista Kabupaten Ponorogo, berkisah, perajin reyog di Ponorogo dapat bertahan karena kecintaan pada kesenian ini masih terjaga dengan baik.

"Di sini, satu desa bisa punya dua bahkan lebih kelompok reyog. Mereka latihan rutin. Sekarang sudah tidak ada unsur magis atau cerita-cerita masa lalu tentang kisah warok, sang pemimpin kelompok. Ia sekarang fungsinya hanya sebagai salah satu pemain. Dengan kondisi itu pula, masyarakat dari berbagai golongan masih mencintai kesenian ini."

Malam itu pula saya menyaksikan reyog nan legendaris yang kemunculannya seolah menghipnotis. Yang istimewa, semua pemain reyog itu ialah anak-anak. Salah satu barongnya, Arya, masih kelas 5 SD. Seusai menggung, ia dengan sigap bergaya, mengigit dadak meraknya dan membuka kakinya lebar-lebar!

Inspirasi dari kecintaan Arya pada reyog, saya bawa hingga dalam perjalanan menuju hotel dan esoknya kembali ke Jakarta. Jatim, harus ke sana lagi! (M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya