Politik Kita Bermain di Ranah Receh

RIZKY NOOR ALAM
24/2/2019 02:55
 Politik Kita Bermain di Ranah Receh
(MI/SUSANTO)

SOSOK Eka Kurniawan mungkin sudah tidak asing bagi sebagian masyarakat Indonesia, khususnya para pencinta literasi. Penulis kelahiran Pangandaran itu, baru-baru ini menerima penghargaan bergengsi di dunia dari Kerajaan Belanda, yaitu Prince Claus Award 2018.
Penghargaan itu diberikan lantaran karya-karya Eka dipandang tidak sekadar memiliki keindahan prosa, tapi juga mengusung tema-tema universal yang memberi dampak positif terhadap kehidupan sosial masyarakat. Sebelumnya, Eka juga telah mengantongi sejumlah penghargaan bergengsi lain, seperti World Readers Award 2016.
Pekan ini, Media Indonesia berkesempatan mewawancarai Eka di rumahnya di ka­wasan Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Sosok penulis yang sederhana itu berbagi penga­lamannya menerima penghargaan Prince Claus serta mengungkapkan pandangannya terhadap situasi dan kondisi bangsa terkini. Berikut petikan wawancaranya.
     
Apa makna Prince Claus Award ini bagi Anda?

Sifat penghargaan ini tidak mengacu pada karya tertentu, tapi lebih kepada seluruh pekerjaan saya. Meskipun tidak pernah terpikir akan mendapatkan penghargaan itu, saya rasa penghargaan tersebut mengenai apa yang saya lakukan dan pikirkan terhadap sastra, kenapa saya menulis novel atau cerita seperti itu, dan apa yang saya lakukan juga memberi dampak kepada orang lain seperti yang mereka sebut. Lagi-lagi, saya enggak kepikiran. Saya menganggap perlu menulis hal-hal ini, maka saya lakukan. Mekanisme penilaian mereka saya tidak tahu, juga siapa yang menominasikan saya tidak tahu.
     
Dengan prestasi-prestasi Anda terkait dengan literasi, banyak orang menyebut Anda sebagai sastrawan. Bagaimana Anda melihatnya?
Ya, senang saja karena mungkin saya tidak pernah membayangkan diri sebagai sastrawan, tapi lebih kepada penulis. Buat saya, penulis itu profesi yang membuat tulisan. Seperti pelukis yang melukis, pematung yang bekerja membuat patung. Saya anggap diri saya penulis.
Ketika sebagai penulis dan karya saya dibaca banyak orang, tentu senang. Lebih senang dianggap sebagai seorang penulis atau kalau mau lebih spesifik, novelis. Saya orang yang menulis novel.
     
Sejumlah kalangan menyebut minat baca masyarakat kita menurun. Anda setuju?

Saya tidak yakin bahwa minat baca itu menurun. Faktanya, sepanjang 2000-2019, kalau kita tanya ke penerbit, jumlah buku terbit meningkat, penerbit juga semakin banyak. Hal tersebut tidak akan terjadi jika minat baca tidak ada atau menurun.
Saya tidak tahu dari mana orang banyak berpikir bahwa minat baca kita menurun. Tentu saja banyak gempuran seperti media sosial, internet, dan gim. Namun, kalau melihat fakta-fakta industri buku yang cenderung meningkat, baik dari jumlah buku, oplah, jumlah penerbit, maupun penulis, saya rasa kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan besar jumlah pembaca pun meningkat.
Saya bilang kemungkinan karena saya tidak punya data persisnya. Selalu ada kemungkinan karena jumlah buku maupun judul meningkat. Bisa saja sebenarnya jumlah pembacanya tetap, tapi mereka membaca buku lebih banyak. Saya mencoba berbaik sangka bahwa jumlah pembaca sekarang lebih banyak sehingga serapan buku-buku itu lebih tinggi dari tahun ke tahun.
     
Kalau begitu, apa tantangan perkembangan sastra di Indonesia saat ini?
Satu-satunya problem yang menurut saya masih mengganjal ialah distribusi ketersebaran buku. Artinya, peningkatan minat baca masih relatif terjadi di kota-kota besar karena mereka punya akses.
Orang-orang yang melek teknologi, kalau tidak bisa berkunjung ke toko buku, bisa mengakses secara online. Bahkan, sekarang kalau ditanya ke penerbit, ada peningkatan sangat tajam pada buku-buku fisik yang dijual secara online. Situs-situs e-commerce sangat membantu.
Namun, tetap problem terbesarnya distribusi. Fenomena yang saya sebut barusan hanya di kota-kota besar, sedangkan kota yang relatif kecil, apalagi di pedalaman, tidak punya toko buku atau perpustakaan, relatif jarang. Bahkan, kalau mereka punya akses internet pun, ongkos kirim belanja online masih relatif mahal. Di Jabodetabek, kita sangat dimanjakan dengan ongkos kirim Rp9.000 per kilogram. Coba kalau Anda kirim buku dari Jakarta ke Cilacap, pasti (ongkos) sudah berkali-kali lipat, padahal penghasilan orang Cilacap dan Jakarta berbeda.
     
Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk mendorong penyebaran buku?
Paling mudah, ya, mendirikan banyak perpustakaan. Mungkin mereka sudah coba melakukannya, tapi itu bukan hal murah juga. Jagoan Pak Jokowi soal infrastruktur belum merambah ke bagian itu. Namun, setidaknya ada gestur baik, misalnya, dia support taman bacaan seperti Perahu Pustaka, Kuda Pustaka. Lalu, tanggal 17 setiap bulan ada program gratis ongkos kirim dari PT Pos Indonesia untuk pengiriman buku taman bacaan. Artinya, kesadaran itu ada, meskipun masih jauh dari cukup.
Yang sebenarnya prospektif ialah perpustakaan digital yang dilakukan Perpustakaan Nasional melalui aplikasi. Mungkin harus ada kampanye lebih luas terkait dengan keberadaan aplikasi itu. Koleksi bukunya juga harus diperba­nyak. Saya rasa itu bisa memecahkan kendala infrastuktur perpustakaan fisik. Bayangkan, negara seluas Indonesia ingin ada perpustakaan setiap desa, besar (bia­yanya) juga. Saya dengar dana desa juga ada yang diperuntukkan perpustakaan, tapi itu kan tergantung inisiatif desanya. Kadang mereka punya inisiatif bagus untuk membangun perpustakaan, tapi tidak punya pustakawan yang bagus untuk mengelolanya, ya sama saja.
     
Soal tren pembaca, apa cerita yang sedang digandrungi saat ini?
Saya tidak tahu persis kalau ditanya saat ini orang suka baca apa. Namun, saya rasa, dari tahun ke tahun tren itu selalu ada. Bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di mana pun tren selalu ada. Ada masa-masa orang, misalkan senang dengan novel-novel motivasional, gothic seperti Harry Potter, Twilight, atau kalau di Indonesia ada tren romansa islami, itu wajar-wajar saja. Saya tidak tahu apakah hal itu bisa diprediksi atau tidak, tapi kalau pun mau diprediksi, saya rasa itu tugas toko buku.
Tren itu banyak faktor, bisa jadi karena karya penerbit menekan buku tertentu agar menjadi tren, tapi ada tools dari luar yang mana penerbit sendiri tidak kuasa.
Opini Anda terkait dengan menguatnya gerakan Islam konservatif di Indonesia dengan dukungan kaum radikal tayang di The New York Times beberapa waktu lalu. Apa yang mendasarinya? Apakah kondisi kita sudah amat mengkhawatirkan?
Saya bisa bilang khawatir dan cemas, tetapi bukan berarti saya pesimistis. Saya menuliskannya berarti saya cukup optimistis, dalam arti semacam mengingatkan bahwa situasinya seperti ini. Kalau situasi menjadi lebih buruk, setidaknya kita tahu, atau bahkan siap.
Saya lebih senang memikirkannya dan ketika saya memiliki pendapat tertentu, saya mencoba menuliskannya.
     
Bagaimana respons pembaca artikel Anda itu?
Hampir bisa dibilang terpecah dua, yang maki-maki juga ada. Sebenarnya, spektrum ada yang tidak setujunya, misal­kan meng­anggap esai tersebut lebih menggeneralisasi, dan tentu saja hal itu tidak terelakkan. Pertama, itu ialah esai opini, bukan penelitian sehingga tidak mungkin partikular khusus. Sudah pasti generalisasi.
Yang kedua, itu kan koran internasional. Tentunya cara menulis saya berbeda dengan saya menulis di koran lokal karena diasumsikan yang membaca bukan hanya orang Indonesia. Jadi, kita berbagi pengetahuan yang sama. Ketika menulis untuk The New York Times, saya harus membayangkan orang yang tidak tahu apa-apa tentang Indonesia. Jadi, mau tidak mau pasti ada generali­sa­si dan tingkat generalisasinya akan lebih tinggi. Kalau akhirnya orang Indonesia baca juga, ya apa boleh buat.
     
Anda sudah beberapa kali menulis opi­ni di The New York Times. Ada alas­an khusus?
Yang saya suka, koran semacam The New York Times agak berbeda dengan koran-koran di Indonesia. Mereka tidak pernah menyebut saya pengamat politik, meskipun kadang saya menulis opini soal politik.
Saya selalu disebut sebagai novelis dan menurut saya itu penting karena menempatkan semacam bias. Artinya, ini komentar novelis, lebih sebagai public intellectual, bukan seorang expert.
Tentu saja, meskipun bukan ditulis expert, The New York Times tetap punya standar untuk memeriksa apa yang saya bicarakan bukan asal jeplak. Ada 2-3 hari yang melelahkan untuk mengecek semua data, setiap kalimat ditanyakan sumbernya dari mana. Jadi, fact check tetap ada, meskipun itu opini.
          
Situasi politik dalam negeri tengah memanas. Apakah karya sastra bisa meredam ketegangan di masyarakat?
Bisa, tapi dalam konteks yang sedikit berbeda. Saya ingat cicitannya CEO Bukalapak, kurang lebih ‘di negara miskin, perusahaan cenderung melakukan perang harga’. Saya rasa di politik Indonesia pun sama. Kita bermain di ranah receh, berbalas puisi. Tidak ada yang sangat esen­sial dari kedua kubu, baik 01 maupun 02. Tidak ada yang membicarakan visi-misi jangka panjang, strategi kebudayaan, tidak ada sama sekali.
Yang dibicarakan hanya recehan-recehan yang semakin menjengkelkan karena recehan itu 50% berbau agama dan tidak esensial, semakin memprovokasi mana yang lebih islami, mana yang tidak islami.
     
Apa yang bisa kita lakukan dalam kondisi ini?

Buat saya, di kondisi yang sangat receh seperti ini, penting untuk meningkatkan kualitas perdebatan dan diskusi, termasuk kenapa saya menulis opini di The New York Times. Itu karena secara pribadi, saya tidak tahan mendengarkan orang berbicara receh. Bahkan, para intelektual kita juga terseret. Menulis opini meskipun tidak ideal karena cuma seribuan kata lebih baik daripada asal berkicau.
         
Kenapa tidak dalam bentuk novel?
Dalam situasi seperti ini, Anda tidak mungkin menulis novel. Novel tidak ditulis dalam seminggu atau dua minggu. Dalam konteks ini, karya sastra bukan medium tepat untuk merespons kondisi sosial politik kita saat ini. Namun, kita mungkin bisa menyuruh orang membaca novel untuk meredakan ketegangan.
Kampanye ini juga konyol karena terlalu panjang dan terlalu melelahkan. Enam bulan lebih. Membuat orang dari hari ke hari membicarakan politik. Orang jadi perlu untuk escape dengan cara yang bukan membuat ignorant, melainkan membuat kita melihat kehidupan lebih dalam dengan membaca novel.
     
Namun, apakah menulis buku yang terkait dengan politik menarik bagi Anda?
Saya rasa hampir semua buku saya merupakan novel-novel politik dalam sudut pandang tertentu.
Novel memang hampir kecil kemung­kinannya ditulis untuk merespons isu politik kontemporer karena novel tidak diproduksi dengan cepat. Politik Indonesia sekarang ini kan akan selesai sebagian pada 17 April, begitu sudah ketahuan siapa yang jadi presiden. Kalau menulis novel, mengejar 17 April tidak akan keburu.
Novel tidak ditulis untuk mengejar aktualitas semacam itu. Namun, novel dapat ditulis dengan melihat situasi lebih mendalam. Jika berhasil masuk ke ranah itu, lima tahun mendatang pun novel itu akan masih relevan untuk dibaca karena bukan sekadar masalah Jokowi atau Prabowo. (M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya