Arsitek untuk Semua

HILDA JULAIKA
24/2/2019 00:50
Arsitek untuk Semua
(DOK PRIBADI)

IDENYA membuat rumah vertikal untuk nelayan ternyata membuahkan hasil. Karya milik Daniel ini berhasil meraih medali emas pada kategori desain arsitektur dari Asia Young Designer Award (AYDA) 2019 Indonesia awal Februari ini.
Capaiannya ini mengantarkan Daniel menjadi perwakilan Indonesia pada kategori tersebut di ajang Asia Young Designer Award (AYDA) Regional Summit. Daniel akan bersaing dengan pemenang lainnya dari 14 negara lainnya. AYDA merupakan kompetisi desainer muda. Mereka juga mendapatkan pelatihan dari profesional di bidang arsitektur. Melalui surel, Muda mewawancari Daniel yang tengah studi S-2 di Taiwan, Kamis (14/2).

Sejak kapan kamu menyukai dunia arsitektur?
Sejak kecil saya tertarik akan dunia desain, khususnya arsitektur. Saya suka menggambar, mengkoleksi peta-peta taman hiburan dan brosur perumahan. Sebagai anak-anak, saat itu saya suka hal-hal yang colourful dan tidak tahu mengapa memang suka kalau melihat denah, site plan, dan peta. Saya pun lalu mengimajinasikan membuat desain berupa bangunan.

Di mana kamu mendalami arsitektur?
Saya mendalami arsitektur saat kuliah. Saya mengambil jurusan arsitektur di Universitas Kristen Petra. Namun, saya merasa tidak cukup, saya lanjutkan kuliah di National Taiwan University of Science and Technology untuk program Master of Architecture.
Saya juga belajar dari buku tentang arsitektur dan internet. Tentunya belajar arsitektur bisa juga dengan melihat dan melakukan pengamatan pada bangunan lingkungan sekitar dan lewat fotografi.

Desain apa yang mengantarkan kamu sebagai Gold Winner?
Saya membuat desain arsitektur dari Kampung Tumpuk Nelayan Kejawan Lor, di Surabaya. Saya merancang bagaimana mengubah permukiman horizontal nelayan yang sudah sangat padat penduduk menjadi permukiman vertikal. Desain permukiman vertikal ini dibuat tanpa menghilangkan vernakularitas gaya hidup kampung nelayan itu sendiri. Kampung tumpuk nelayan ini dapat mengimbangi perkembangan kota dan tetap bertahan di masa mendatang.
Tantangan membuat desain ini ialah memahami kehidupan di kampung nelayan. Saya juga melakukan survei secara pribadi maupun meminta izin resmi untuk mengamati kebiasaan hidup di sana.  

Apa yang menginspirasi desain ini?
Kebetulan rumah saya berdekat­an dengan kampung nelayan. Saya lihat banyak keunikan yang dimiliki kampung ini, sayang bila hilang di masa depan. Salah satu keunikannya terletak pada peng­asapan ikan yang khas.
Saya juga terinspirasi dari Bjarke Ingels dari BIG Architecture Denmark karena karyanya selalu out of the box dan kontekstual dengan lingkungan sekitarnya. Selain itu, saya juga terinspirasi Alejandro Aravena dari Elemental, Chile, karena prinsipnya untuk melibatkan masyarakat dalam mendesain dan kepeduliannya terhadap kemanusiaan sampai bisa mendapatkan The Pritzker Architecture Prize Award yang merupakan salah satu penghargaan arsitektur tertinggi di dunia.

Bagaimana persiapan mengikuti AYDA Regional Summit?
Saat ini saya dalam proses revisi yang dibimbing langsung para juri yang profesional. Setelah penjurian final kemarin, para juri tetap terus membimbing dan memberi arahan untuk melengkapi karya yang sudah saya buat kemarin. Revisi ini bertujuan agar desain bisa benar-benar siap untuk dibawa mewakili Indonesia. Saya pun mempelajari ulang kampung Kejawan Lor untuk menyempurnakan desain saya. Usaha ini dilakukan dalam upaya bisa mengharumkan nama Indonesia di Kompetisi AYDA Regional Summit.

Kapan AYDA Regional Summit 2018/2019 akan digelar dan di mana?
AYDA Regional Summit 2018/2019 akan dise­lenggarakan pada 20-23 Maret 2019 di Singapura. Pesertanya para pemenang Gold Winner AYDA 2018/2019 dari 14 negara Asia lainnya. Kategori yang dikompetisikan ialah kategori arsitektur dan kategori desain interior.
Pada AYDA Indonesia, pemenang dipilih berdasarkan tema AYDA 2018/2019, yaitu Forward—challenging design boundaries, desain dirancang untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan progresif dengan tujuan menciptakan dampak positif pada lingkungan, masyarakat, dan generasi masa depan.

Apa yang ingin kamu pelajari di Harvard University GSD kalau berhasil menang AYDA Regional Summit?
Saya sangat ingin memperkaya pengalaman di bidang arsitektur dan membuka wawasan dengan mempelajari perbedaan perkembangan dan ilmu arsitektur di Amerika Serikat dengan Asia, terutama di Indonesia.

Kamu ingin menjadi desainer arsitektur seperti apa?
Saya ingin menjadi arsitek yang menjangkau orang dan komunitas, terutama kaum yang terpinggirkan karena arsitektur itu untuk semua orang. Saat ini sudah banyak arsitek yang mendesain untuk kalangan menengah ke atas secara strata sosial. Padahal, arsitektur milik semua orang.
Yang terjadi ialah kaum marginal biasanya menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa arsitek, sebenarnya hal positif tapi bisa berdampak negatif terutama pada skala kota. Sebetulnya, hal ini sebagai arsitek bisa belajar tentang vernakularitas, lokalitas, dan kontekstualitas. Alangkah baiknya jika arsitek bisa bekerja sama dengan mereka sehingga dapat berkontribusi kepada negara, juga menyelesaikan permasalahan perkotaan yang berkaitan dengan kaum marginal ini. (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya