Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TABUHAN gending Jawa menggema di Gedung Kesenian Taman Ismail Marzuki Jakarta, pukul 15.30 WIB, Minggu (17/2). Saat itu lampu-lampu dipadamkan. Sesaat kemudian, puluhan perempuan membawakan sendratari dengan latar belakang cahaya panggung berwarna hijau dan kuning keemasan.
Pertunjukan ini merupakan pergelaran wayang orang berjudul Bhisma Mahawira. Adegan awalnya dimulai dengan percakapan janji cinta Prabu Sentanu dan Dewi Gangga. Dewi Gangga berjanji akan setia, asalkan Sentanu menuruti keinginannya. Sejurus kemudian muncul adegan Dewi Gangga melahirkan masih dipertontonkan melalui sendratari. Lalu Bhisma kecil muncul bersama orangtuanya. Para penonton di gedung tersebut bersorak dan tepuk tangan.
Bhisma Mahawira berkisah tentang keteguhan hati seorang Resi Bhisma yang berupaya mempertahankan cinta pada negara dan orangtuanya. Bhisma terlahir dengan nama Dewabrata, dari buah perkawinan Prabu Sentanu dan Dewi Gangga. Lantaran Sentanu menyalahi janji, Dewi Gangga meninggalkannya untuk kembali ke kahyangan. Karena itu, Bhisma dididik oleh Sentanu.
Bhisma urung menjadi penguasa Hastina Pura karena istri Sentanu, ayahnya, yakni Dewi Setyowati menginginkan takhta kerajaan untuk putranya. Demi cintanya pada orangtua, Bhisma pun menyerahkan takhta kerajaan pada Dewi Setyowati, lalu bersumpah tidak menikah hingga akhir hayat dan menjadi Resi.
Bhisma kemudian mengikuti sayembara di Kerajaan Kasipura untuk memperebutkan tiga putri, yakni Dewi Amba, Dewi Ambika, dan Dewi Ambalika. Dua putri yang disebut terakhir diserahkan pada saudara tirinya Citrasena dan Citragada. Namun, Amba hanya mau dengan Bhisma yang sudah bertekad tidak menikah.
Amba mati terkena panah yang tidak sengaja dilepas Bhisma. Pada perang Bharata Yudha, Dewi Amba menitis pada Srikandi yang berhasil membunuh Bhisma dengan panahnya. Hal itu diyakini Bhisma sebagai janji Dewi Amba yang akan menjemputnya pada saat perang.
Selebritas
Para tokoh dalam pertunjukan wayang orang Bhisma Mahawira dimainkan sejumlah selebritas yang kebanyakan lulusan SMA 6 Jakarta dan beberapa alumnus SMA lain di Jakarta dari berbagai angkatan yang tergabung dalam Sanggar Gending Enem. Antara lain Maudy Koesnaedi sebagai Dewi Amba, Maya Hasan sebagai Dewi Sembadra, Alya Rohali memerankan Dewi Drupadi, Citra Nartomo sebagai Dewi Kunti, Hendro Prastowo sebagai Resi Bhisma, Metta Ariesta sebagai Srikandi, dan Elmo S Hilyawan sebagai Arjuna. Kisah ini disutradarai Nanang Ruswanda.
Ketua Panitia Pergelaran Wayang Orang Bhisma Mahawira, Arif Katoro, mengatakan, pertunjukan ini merupakan yang ketiga digelar Sanggar Gending Enam. Tujuannya untuk memopulerkan dan melestarikan budaya bangsa.
"Pertunjukan ini juga sekaligus sebagai ajang reuni para alumnus SMA 6 Jakarta dari lintas angkatan sehingga dilaksanakan pada sore hari," katanya.
Pemain harpa, Maya Hasan, mengaku berkolaborasi untuk pertunjukan wayang orang merupakan daftar keinginannya yang sudah lama baru terlaksana. Kali ini ia berkesempatan membawakan tembang Jawa, ikut bermain wayang orang, sekaligus memainkan harpa.
"Dari panitia dan sutradara, saya diminta bermain harpa, disuruh nembang, dan dialog. Kalau buat saya apa pun atas nama seni budaya Indonesia, saya bersedia. Saya mengemban darah NKRI. Ini preservasi budaya yang wajib dilakukan dengan sepenuh hati untuk menginspirasi generasi muda," katanya.
Artis senior Alya Rohali mengaku sangat terkesan karena baru pertama kali main dalam pertunjukan wayang orang. Namun demikian, ia cukup familier dengan kisah perwayangan dari buku-buku yang pernah ia baca sejak kecil. "Mudah-mudahan banyak orang lebih suka wayang orang dan semua terhibur," kata Alya. (TS/M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved