Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Peluang menjadi filmmaker kian terbuka dengan berbagai medium saluran karya. Kini para sineas muda bisa mendapatkan produksinya melalui pitching forum. Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) menyebut, pitching merupakan salah satu cara menguji ide kreatif kita di hadapan investor.
Dalam gelar wicara (talkshow) Aprofi yang berlangsung Kamis (21/2), pitching jadi salah satu arena menguji premis dan ide sineas untuk mendapatkan pendanaan. Menurut Ketua Aprofi Fauzan Zidni, pitching bisa mempertemukan antara si pemilik ide dan pemilik dana.
"Biasanya, sebagai pembuat atau pemilik ide, merasa sudah yang paling bagus. Itu wajar karena sebagai pembuat. Lalu bagaimana proyek yang dikembangkan ini ada proses orang lain menilai, lewat program-program seperti pitching lah proses itu dinilai," ungkap Fauzan dalam rangkaian Script to Screen yang digelar Aprofi, Kamis, (21/2).
Ia juga menegaskan, elemen terpenting dalam pitching ialah cerita. Selain itu, ia juga memberikan kiat kepada para peserta, dalam mengikuti pitching paling tidak juga memproduksi teaser, untuk meyakinkan si pemberi dana. Beberapa program pitching movie di Indonesia di antaranya diselenggarakan Akatara, Europe on Screen (EoS), beberapa penyedia jasa video on demand (OTT) seperti Hooq, Viu.
Bagi ES Ito, penulis naskah serial Brata yang tayang di layanan OTT, ia bercerita butuh waktu setahun untuk mengikuti pitching. Ada yang perlu digarisbawahi, ketika dirinya melempar ide tersebut.
"Harus yang enggak ada di televisi. Karena itu yang dicari penonton maupun si pemilik layanan OTT. Brata dikembangkan tahun 2014, waktu itu sudah deal, 5-6 episode tetapi tidak berjalan sesuai direncanakan, buat cerita bisa ditampilkan di layar kaca. Dalam serial, gimana caranya bikin penasaran 3 menit pertama, engage, make sure orang mau enggak sih nonton sampai episode berikutnya, semua bergantung pada satu hal, pengembangan karakter yang kita bangun," papar Ito.
Dalam industri film pun kini semakin ramai untuk menggunakan Intelectual Product (IP) yang sudah memiliki nama untuk dialih wahanakan menjadi karya audio visual. Sebut saja DreadOut, film yang diangkat dari gim dan sudah punya basis masa. Menurut Edwin Nazir, produser film DreadOut, mengangkat IP yang sudah punya reputasi memang lebih memudahkan untuk kerja Produser.
"Ini lebih memudahkan Produser untuk 'jualan' ke sponsor. Namun tantangannya juga sejauh mana kita mengikuti IP tersebut, dan punya batasan."
Film-film box office Indonesia memang beberapa di antaranya diangkat dari alih wahana IP, seperti Laskar Pelangi diangkat dari novel, Warkop DKI Reborn diangkat dari film lampau, atau Pengabdi Setan.
Bagi Fauzan, tantangan memproduksi suatu karya kini justru pada eksekusinya. Sebab, para investor yang mau menggelontorkan dananya kini semakin banyak ditemui.
"Permasalahannya, memutuskan syuting yang terlalu cepat, karena sekarang uangnya ada, dan harus keluar, tapi proyeknya sendiri belum mateng. Untuk mengecek kematangan proyek sebenarnya bisa dilihat di project market." (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved