Rentetan Aksi Banting Motor, Meniru atau Kebetulan?

Despian Nurhidayat
19/2/2019 20:05
Rentetan Aksi Banting Motor, Meniru atau Kebetulan?
(Ist)

MASIH ingat kejadian pria yang mengamuk membanting motornya saat ditilang di kawasan BSD, Tangerang Selatan awal bulan ini. Kejadian itu lantas viral dan banyak orang terperangah akan perilaku Adi Saputra yang seperti di luar nalar.

Meski begitu, kejadian serupa kini muncul di wilayah lain. Berikut dua aksi banting motor yang terjadi kemudian:

1. Tragedi banting motor terulang lagi di Lumajang. Meskipun video dari kejadian Lumajang ini tak menunjukkan perilaku ekstrim seperti Adi, namun terlihat bahwa pria tesebut menjatuhkan motornya dan berdebat dengan polisi. Dalam video berdurasi 1:09 menit yang diunggah oleh KompasTv (14/2) melalui Youtube terlihat motor yang dibawa oleh pria tersebut seperti motor rakitan dan tidak memiliki plat nomor maupun kaca spion. Motor tersebut itu memang bisa dikatakan pantas untuk diberhentikan dan disita. Anehnya si pengendara tersebut tak terima dan bahkan mengancam untuk membakar motornya, hal itu pun diungkap oleh Ipda Mulyanto.

 
2. Lain hal dengan yang terjadi di Tasikmalaya. Kali ini video seorang pria membanting motor bukan terjadi di jalan raya melainkan di sebuah pelataran sebuah masjid di daerah Tasikmalaya. Dalam video singkat berdurasi 43 detik yang beredar di media sosial, terlihat motor yang diparkirkan di pelataran masjid yang harus melewati tangga terlebih dahulu.
Sesaat kemudian terdapat beberapa bapak-bapak yang mengerubungi motor tersebut dan seorang pria yang mengenakan jaket kulit hitam tengah keluar dari masjid diikuti oleh beberapa orang pria. Selanjutnya mereka terihat sedang melakukan perbincangan dan beberapa saat kemudian motor tersebut dibanting oleh pria berjaket tersebut. Tidak hanya dibanting, pria itu juga menggulingkan motornya dari tangga masjid tersebut beberapa kali.
 
Banyak Faktor
Melihat perilaku tersebut, entah apa yang melatarbelakangi kejadian yang kini menjadi viral ini. apakah ada sebuah bentuk meniru hal yang sudah terkenal, atau lainnya. Menurut Kasandra Putranto yang merupakan seorang Psikolog Klinis, untuk mengetahui penyebab perilaku tersebut diperlukan pemeriksaan lebih lanjut tentunya. "Harus dilakukan proses pemeriksaan untuk mengetahui dengan pasti penyebab perilaku ini. Pastinya terkait dengan keterampilan sosial emosional, hanya faktor pemicu bisa berbeda-beda. Itu yang harus diperiksa lebih lanjut," ungkapnya kepada Media Indonesia (19/2).
 
Robertus Robet, seorang Sosiolog dari UNJ mengatakan bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan hal itu terjadi. "Ada beberapa faktor. Pertama, ada karena dari segi usia. Orang muda cenderung menolak otoritas, tidak suka dengan otoritas apalagi kalau sedang bersama orang dekat seperti pacar. Jatuhnya harga diri, perasaan macho, otonomi, dan gengsi menghasilkan reaksi destruksi ke diri atau properti sendiri,"
 
"Faktor lain juga bisa karena nilai motor yang sangat rendah di masyarakat karena saking banyaknya. Lalu kehidupan di jalan raya kita juga sangat buas, sebagai akibat dari kelemahan dalam tata kota dan infrastruktur yang kurang. Ini yang membuat orang gampang stress di jalanan. Lalu sebagian orang juga menganggap pelanggaran seperti itu terlalu remeh untuk diberi sangsi," ungkap pria yang juga seorang dosen di Fakultas Ilmu Sosial UNJ.
 
Robert juga mengatakan bahwa tidak ada faktor meniru dalam hal ini. Ia mengatakan bahwa semua orang memiliki kecenderungan akan meletusnya emosi seperti itu. Ia juga mengatakan bahwa sebenarnya kejadian serupa pasti banyak terjadi, namun tidak semuanya viral dan diketahui oleh masyarakat. (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bintang Krisanti
Berita Lainnya