Di Balik Kesunyian Imaji

Marwan Fitranansya
16/2/2019 02:55
Di Balik Kesunyian Imaji
(Dok MI)

HAL pertama yang terasa ketika novel itu diterima di tangan ialah pendominasian warna sampulnya sungguh menarik. Sekali lagi, sungguh, sanjungan ini tak ada unsur intrik layaknya pemberitaan politik atau hujatan para netizen akan keviralan yang nyentrik.

Hitam, warna yang identik dengan kegelapan itu memang memiliki makna suram, kelam lebam, dan bahkan menakutkan. Akan tetapi, bisa juga dimaknai keeleganan. Karena itu, elemen apa pun jika dikombinasikan dengan warna hitam, akan terlihat menarik, bahkan tak jarang membuat siapa pun ingin jadi melirik.

Begitulah kiranya jika kita mencari makna warna hitam dari ‘dunia semu’. Perihal itu pula yang langsung menusuk bagian terdalam hati. Sang pencipta Surti + Tiga Sawunggaling, Goenawan Mohamad, membuka cerita dengan untai­an sendu.

Enam belas hari sejak musuh
menduduki kota kami dan suara
tembakan terdengar hampir tiap
malam sembilan kali sudah suamiku
menghilang dari rumah.
Selalu menjelang dinihari.
Aku akan mencari mimpi, katanya.
(halaman 7)

Seperti itulah Surtiyang mengalami kesunyian lantaran pujaan hatinya ‘menyerah’ pada ‘sang mantan penjajah’--meratapi kehidupannya nan hampa. Jen, seorang laki-laki yang bahkan tak Surti kenal betul, selalu menghilang dengan alasan yang bahkan Surti pun tak tahu secara pasti.

Suram, kelam lebam, dan menakutkan. Jika kita mengaitkannya dengan peristiwa yang terjadi pada 1947, memang benar rasanya makna ‘kehitaman’ pada saat itu. Agresi militer Belanda I tengah menunjukkan taringnya yang membuat penduduk Bumi Pertiwi terbelenggu. Walhasil, penduduk Indonesia (di beberapa pulau, khususnya Pulau Jawa, yang baru merasakan merdeka dua tahun kurang belasan hari) harus berjibaku demi mempertahankan kemerdekaan agar tidak kembali ke masa yang pilu.

Namun, jangan lupakan makna warna hitam soal keeleganan. Dalam novel ini, kita pun dibuat takjub bagaimana seorang janda, Surti, memperlihatkan imajinya dengan menghadirkan tiga ekor burung sawunggaling. Mereka pun diberi nama Anjani, Baira, dan Cawir. Pemberian ketiga nama burung tersebut tergolong unik, A-B-C, anggap saja agar mudah diingat. Itulah alasan Surti yang tertuang di dalam novel ini.

Tiga ekor burung sawunggaling ini ke­rap membawakan kisah yang senantiasa membuat Surti terisi kehampaan hatinya. Ketiga burung itu tiap malam akan keluar dari kain yang dibatik. Surti melakukan itu (membatik) semata-mata agar bisa mencari tahu cerita tentang Jen (suaminya), yang juga sebagai komandan gerilya, dan aktivis pergerakan yang ternyata dituduh komunis.

Berbeda
Sebelumnya, Goenawan Mohamad (GM) menulis lebih dahulu naskah drama dengan judul yang sama. Naskah drama Surti + Tiga Sawunggaling ditulis GM pada 2008. Naskah drama itu kemudian dibukukan selang setahun setelahnya bersama dua naskah teaternya yang lain dalam kumpulan lakon Tan Malaka dan Dua Lakon Lain (2009, Kata Kita).

Setelah itu, timbullah pertanyaan mengapa seorang GM yang dikenal sebagai penyair, esais, dan penulis lakon ini menciptakan novel? GM pun mengaku bahwa ia ingin bereksperimen membuat karya dalam bentuk baru.

Namun, menovelkan naskah teater bukanlah sesuatu yang baru dalam khazanah kesusastraan Indonesia. Sebut saja Motinggo Boesje, yang menovelkan naskah komedinya Barabah (1961), dan Putu Wijaya dengan lakon Bila Malam Bertambah Malam (1965) yang terbit sebagai novel pada 1971.

Dengan demikian, ada suatu hal yang menjadi pembeda mengapa cerita yang sama harus disampaikan dalam dua medium yang berbeda. Novel karya Putu Wijaya, Bila Malam Bertambah Malam, bisa menjadi contohnya. Tema besar novel yang berlatar Bali tersebut berkisah tentang tatanan lama yang telah menua melawan nilai-nilai baru yang tampak muda dan mulai dipuja.

Untuk menggambarkan tema besar yang pada akhirnya akan menjadi konflik itu, bentuk drama hanya asyik dinikmati ketika ditonton secara langsung. Saat naskahnya dibaca, perang batin tokoh-tokohnya boleh jadi tak muncul. Lain halnya ketika dinovelkan. Suasana batin tokoh dituliskan pengarang yang membantu imajinasi pembaca.

Begitu pula tampaknya yang terjadi pada Surti versi novel ini. Apabila menyelisik permukaannya, memang hampir semua isi naskah drama tersebut di­pindahkan ke dalam novel. Hingga pada akhirnya, sepintas, membuat orang yang sudah membaca atau menonton dramanya akan timbul pemikiran tak ada yang baru dari ceritanya.

Di naskah drama dan novelnya, kita bertemu Surti yang bermonolog sambil membatik, melukis tiga burung sawunggaling, sejenis burung mitos, yang ia beri nama Anjani, Baira, dan Cawir. Ketiga burung mitos tersebut mengisahkan suaminya yang sering pergi di malam hari, dengan selalu mengucap untuk mencari mimpi.

Sang suami, Jen, seorang gerilyawan yang akhirnya tewas ditembak serdadu Belanda. Untuk menghibur diri, Surti membatik. Sambil membatik tersebut, dikatakan Surti, tiga burung sawunggaling keluar dari kain, terbang, dan bercerita kepadanya perihal apa yang terjadi pada suaminya selama menghilang mencari apa yang selalu ia impikanah, entahlah, mungkin mimpi.

Versi novel menyuguhkan berliku-liku cerita yang absen di naskah drama. Ada beberapa tokoh tambahan yang kian menegaskan latar pada masa itu. Versi novel pun lebih kompleks. Kita akan bertemu cerita sampingan tentang orang yang dibunuh dengan keji karena dituduh mata-mata, atau juga cerita guru sekolah yang selingkuh dengan ibu indekosnya. Selain itu, digambarkan pula bagaimana adegan ranjang antara Surti dan Jen yang kala itu tengah menikmati malam pertamanya maupun malam-malam lainnya.

Ditambah lagi, masa pada saat itu (yang kita kira penuh aksi herois­me tatkala melawan penjajah dengan gagah berani), ternyata tak ada bedanya dengan zaman yang penuh akan ‘keedanan’ atau zaman di masa kita hidup sekarang ini (barangkali).

Serdadu Belanda bukanlah musuh satu-satunya. Di zaman itu pula, ternyata kita juga saling membunuh sesama saudara, bahkan sebelum dibunuh, jika target itu ialah perempuan, muncullah sikap ‘kesetanan’.

Ada bagian Blitar, teman Jen, memerintahkan seorang anak buahnya memerkosa istri Lurah Dirgo yang juga disebut Lurah Diro. Perempuan itu di­todong pistol, dan tubuhnya yang telanjang dicambuki dengan sabuk sebelum diperkosa. Setelah semua selesai, Blitar mendorong Lurah Dirgo ke kebun dan menembak kepalanya. (halaman 79)
Cerita sampingan seperti itu semua, rasanya tak asyik bila dimonologkan di panggung minimalis dengan seorang aktris yang termasyhur sekalipun untuk bercerita sendirian. Paling tepat memang dibayangkan di kepala pembaca novel. Maknanya akan lebih menghinggapi sampai ke relung hati.

Sebuah pesan    
Pada akhirnya, kita pun ingin dibikin mengerti dan memahami alasan Goenawan Mohamad atau GM menovelkan cerita lamanya.

Ia memang punya pesan baru yang hendak disampaikan kepada pembaca baru, sebut saja mereka yang menganggap zaman itu penuh heroisme maupun mereka yang dulu hanya membaca naskah dramanya, tanpa menangkap pesan tersebut.

Bukan bermaksud untuk menggiring benci pada masa lalu, melainkan jauh dari itu, agar kita semakin memaknai apa pentingnya bersatu di tengah kondisi Tanah Air yang saat ini semakin tak menentu dengan berbagai isu-isu semu.

Walakin, Surti + Tiga Sawunggaling ini layak untuk mengisi benak kita karena disusun bak puisi. Kelahiran kata yang bermetamorfosis menjadi kalimat terasa nyaman untuk didalami. Ah, rasanya ini bukan sebuah novel, melainkan rentetan puisi yang menovel. (M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya