Seni Membawa Hana Alfikih Menemukan Dirinya

(Hil/M-4)
15/2/2019 22:20
Seni Membawa Hana Alfikih Menemukan Dirinya
(MI/SUMARYANTO BRONTO)

PADA 2012, Hana sempat menjadi bintang tamu di Kick Andy dan mengangkat topik mengenai gangguan jiwa yang dialami olehnya. Setelah mengikuti show Kick Andy, dirinya kembali memeriksakan diri. Hasil diagnosis mengatakan Hana terkena bipolar disorder dengan gangguan psikotik berupa halusinasi dan delusi. Gangguan kesehatan mental ini memengaruhi mood penderita secara ekstrem.

“Aku sangat aware dengan gangguanku bahkan sebelum memperoleh treatment secara profesional. Karena keinginan bunuh diri itu, mungkin karena lelah antara depresif dan bahagia yang berlebih. Ditambah saya lebih cenderung depresif, sehingga saya sering mengalami delusi dan halusinasi yang tidak bisa dikontrol. Dan efeknya merusah diri dan ling­kungan,” ungkap Hana.

Jika gangguan jiwa berkaitan dengan hal-hal yang negatif. Maka tidak dengan sosok Hana Alfikih. Dirinya berhasil menyalurkan emosinya melalui seni saat mengalami masa-masa kelam dalam hidupnya. Hingga pada 2012, Hana berhasil memasarkan karya komersial pertamanya. Saat itu, Hana membuat 5 desain yang dicetak di korek api dan dipasarkan sebanyak 500 pieces ke seluruh Indonesia.

Perempuan kelahiran 1992 ini juga memulai mencetak karyanya di berbagai media seperti kaos, scarf, dan tas. Seniman doodlers ini memberikan nama istilah pada gangguan mental bagi tokoh-tokoh doodle art yang dibuatnya. Melalui karya-karnyanya melalui HanaMadness sudah dundang ke pameran-pameran di dalam dan luar negeri. Bukan hanya untuk memamerkan karya, Hana juga berbicara mengenai gangguan mental yang dideritanya. Berawal dari kebutuhan terapi, kini seni membantunya menemukan dirinya.

Selain aktif sebagai seniman, Hana juga aktif menyuarakan kesehatan jiwa menggunakan seni sebagai senjatanya. Karakter-karakter yang dibuat Hana, baik dalam digital maupun original painting ialah ingin merepresentasikan gejolak jiwa yang dirinya rasakan.

Meskipun secara visual terlihat lucu, Hana mengakui untuk menyampaikan isu kesehatan mental tidak melulu harus disampaikan dalam visual yang dark atau berdarah-darah. Namun, juga bisa dengan penuh warna, namun tetap merepresentasikan emosi yang dirasakannya.

Menurut Hana dalam memperlakukan orang dengan gangguan kesehatan jiwa adalah memberikan lingkungan yang nyaman. Baginya yang terpenting ialah penerimaan, karena masih banyak orang di luar sana yang masih tidak bisa men­yua­rakan suaranya sendiri. Peran keluarga dan orang sekitar sangat penting dalam membantu penyembuhan. (Hil/M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya