Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BICARA tentang suku Korowai yang ada di Papua Barat, kerap dikaitkan dengan budaya kanibalisme. Lekatnya stigma kanibalisme tidak jarang membuat kebudayaan lainnya, yang sesungguhnya unik dan bernilai tinggi, luput dari perhatian. Salah satunya adalah budaya kesetaraan gender dalam suku tersebut.
Penuturan soal budaya tersebut, sekaligus menepis stigma kanibalisme, ada pada buku Perempuan Perkasa: Belajar Praktek Kesetaraan pada Budaya Suku Korowai yang ditulis oleh Rhidian Yasminta Wasaraka.
Dalam acara bedah buku yang berlangsung di Auditorium Anak Nusantara, FISIP, Universitas Indonesia, Kamis (14/2), Rhidian menuturkan pengalamannya dalam proses penulisan buku tersebut. Kunjungannya ke tempat tinggal Suku Korowai membuktikan jika stigma kanibalisme seharusnya sudah berakhir. Bukan saja karena prakteknya yang sudah tidak lagi dijalankan melainkan juga karena banyak pemahaman keliru soal kanibalisme tersebut.
"Saya bisa datang dan pulang dengan selamat buktinya. Jadi mereka itu punya pengertian sendiri mengenai praktek yang kita artikan sebagai kanibalisme ini. Pasalnya mereka menganggap seseorang yang mereka makan itu bukanlah manusia, namun mereka menganggap orang yang mereka makan sebagai wabah, jika diartikan seperti seri tv Walking Dead. Jadi mereka hanya menganggap orang itu bukan manusia dan harus dimakan," ungkap penulis yang akrab disapa Dian ini.
Dian juga mengatakan bahwa praktek ini sudah tak lagi dilakukan karena terakhir dilakukan pada 2007, sampai saat ini tidak pernah ada lagi praktek seperti itu. Selain itu, Dian juga mengatakan bahwa keseksian Korowai itu banyak hal, seperti rumah yang memilki kisah dan eksotisme tersendiri. Lain halnya dengan kebudayaan mereka, dalam suku Korowai, biasanya laki-laki yang memasak sedangkan perempuan tak memiliki kewajiban untuk memasak. Biasanya perempuan akan memasak untuk suaminya dikarenakan rasa sayang kepada sang suami bukan karena kewajiban.
Andi Yetriani selaku aktivis perempuan juga turut hadir sebagai penanggap dalam acara diskusi buku ini. Andi mengatakan bahwa ia juga telah lama mengenal tentang suku Korowai dan menurutnya buku ini merupakan representativ untuk informasi lengkap dan menghilangkan semua persepsi negatif mengenai Korowai.
"Saya sangat berbahagia untuk menemani Mbak Dian disini. Saya inget diskusi mengenai perspective feminis dalam riset. Saya bilang tulis aja dengan jujur mengenai pengalaman perempuan di Korowai tanpa ada maksud lain dalam menuliskannya," ungkap Andi.
Selain diskusi, terdapat pula sebuah Pameran Foto Perempuan Perkasa yang memperlihatkan foto-foto suku Korowai. Pameran ini berlangsung dari tanggal 13 hingga 15 Februari 2019 di Selasar Gus Kitchen, FISIP, Universitas Indonesia. (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved