Makanan Cepat Saji Bisa Akibatkan Kematian Dini

Abdillah M Marzuqi
13/2/2019 09:00
Makanan Cepat Saji Bisa Akibatkan Kematian Dini
(ilustrasi)

Menyantap hidangan cepat saji seperti burger, sereal, dan piza ternyata meningkatkan risiko penyakit fatal. Studi terbaru yang dilakukan terhadap 45ribu orang menemukan hubungan antara kematian dan makanan cepat saji. Memang sebelumnya sudah ada riset menunjukan makanan kaya lemak dan rendah serat dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan kanker.

Tidak hanya burger, piza, biskuit, dan kue, tapi juga keripik, roti, makanan siap saji, sosis, sereal, dan minuman bersoda. Pada dasarnya setiap makanan yang melibatkan prosedur industri punya potensi mengurangi harapan hidup dan memperbesar resiko kematian akibat penyakit jantung, kanker, dan penyakit lain.

Makanan cepat saji mempunyai kandungan total lemak, lemak jenuh, dan gula tambahan yang lebih tinggi. Banyak makanan cepat saji mengandung zat aditif yang legal, tetapi kontroversial seperti natrium nitrit dan titanium oksida.

Temuan yang diterbitkan dalam JAMA Internal Medicine itu didasarkan pada survei terhadap 44.551 orang sehat berusia 45 hingga 64 tahun di Prancis, dengan usia rata-rata 57 tahun dan waktu konsumsi 24 jam. Para peneliti mengukur kandungan lebih dari 3.000 jenis makanan yang berbeda.

Secara keseluruhan, makanan cepat saji menyumbang 29% dari total asupan energi. Jumlah tersebut sekitar 20% lebih sedikit dibanding Inggris dan negara-negara industri lainnya.

Tahun lalu, sebuah studi di 19 negara Eropa menemukan 50% makanan cepat saji yang dijual di Inggris lebih banyak dibanding Jerman (46%), Irlandia (45%), dan Prancis (14%). Camilan menempati setengah dari rata-rata konsumsi makanan masyarakat Inggris. Proporsi itu lebih tinggi dari negara Eropa lainnya. Peningkatan 10% konsumsi makanan cepat saji berkaitan dengan kenaikan 14% risiko kematian dalam delapan tahun ke depan.

Secara demografi, konsumsi makanan cepat saji yang lebih tinggi dikaitkan dengan usia yang lebih muda, pendapatan lebih rendah, tingkat pendidikan, hidup sendiri, dan aktivitas fisik yang lebih sedikit. (dailymail/M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya