Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Aktivis seni dan warga di Gang Abdul Jabar, Jagakarsa, bersatu membentuk wadah Komunitas Urban Space Jakarta dan berkolaborasi membuat mural-mural positif di kawasan tersebut.
MURAL-MURAl sarat pesan religius terlihat di tembok sepanjang 100 meter di kawasan Gang Abdul Jabar, Jagakarsa, Jakarta. Gambar-gambar manusia hingga kaligrafi tampak dibuat dengan cukup elok.
Siapa sangka, mural tersebut bukan semata buatan para seniman, melainkan kolaborasi dengan warga setempat. Komunitas Urban Space Jakarta, begitu nama komunitas kolaborasi yang terbentuk 2014 tersebut.
Karya mural ini pun bukan baru, melainkan karya ketiga yang mereka kerjakan bersama. Perjalanan kesenian warga itu bermula dari 2011. Ketika Komunitas Begundal melakukan kegiatan untuk mendekatkan seni dengan masyarakat urban.
Mereka melakukan pendekatan terhadap para remaja yang masih memiliki perhatian terhadap lingkungan sekitar. "Kami lebih memilih remaja yang dari grass root (akar rumput) dan militan yang punya perhatian sama lingkungan sekitar," terang aktivis seni Saeful Bahri yang juga tinggal di daerah tersebut kepada Media Indonesia, Jumat (8/2).
Ia percaya, seni bisa memberikan sumbangsih terhadap kehidupan sosial dan berbagi untuk masyarakat. Para aktivis seni itu lalu berusaha memahami kondisi lingkungan. Mereka melakukan riset potensi di kampung tersebut.
Kearifan lokal
Hasilnya, terselenggaralah Festival Gang Abdul Jabar pada April 2011 yang menjadi aktivitas seni pertama mereka. Meski dengan kemasan kekinian, para aktivis seni itu tidak meninggalkan kearifan lokal. Mereka justru mengemasnya dengan dibumbui rasa seni kekinian.
Ketupat, marawis hingga menggambar untuk anak-anak pun bisa dilakukan untuk membangkitkan kembali suasana kebersamaan. Hal itu juga untuk menepis penyakit urban yang cenderung tidak peduli dengan lingkungan sekitar.
Gang Abdul Jabar memang tak lebih 3 meter luasnya. Di dalamnya ada banyak ragam manusia dan jenis profesi. Dari kelas masyarakat yang dianggap sejahtera hingga warga yang sering kali masih binggung untuk bayar kontrakan.
"Masyarakat kalau sudah urban, kan sudah kompleks, tidak terlalu peduli sama lingkungan sekitar," lanjut Saeful.
Beruntung warga menyambut kegiatan tersebut dengan sukacita. Beberapa ikut serta dalam proses kreatif. Tak jarang mereka menyuguhkan hidangan serta menemani proses pembuatan karya tersebut.
"Jadi sebelum dibuat kita konsultasi sama warga. Jadi warga juga ikut jaga. Karena warga ikut," tambah Rengga. Pada 2014, barulah nama Begundal beralih ke nama yang bertahan sampai sekarang.
Tidak hanya membuat mural, Komunitas Urban Space Jakarta menyemarakkan Gang Abdul Jabar dengan berbagai kegiatan seperti pelatihan menggambar untuk anak-anak, memanfaatkan gadget untuk meningkatkan perekonomian, hingga seni menggambar henna.
Mereka juga telah menggelar acara Festival Gang Abdul Jabar #2 pada Agustus 2017. Acara itu menampilkan karya-karya monumental hasil kolaborasi antara warga dan komunitas seni. Selain itu, disajikan juga beberapa kesenian tradisi dari warga setempat, antara lain tari-tarian tradisi, kasidah, hadrah, lenong Betawi dan gambang kromong. Kini, mereka tengah bersiap untuk Festival Gang ketiga yang bakal dihelat tahun ini.
"Karena fungsi seni itu jadi berguna. Kalau kita mau karya seni kita dihargai orang, kita berbuat dulu. Yang konkret. Gak todong dulu untuk suka," ungkap Saeful. (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved