Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Apakah akting Rosa Salazar tertutup ketika teknologi motion capture diterapkan pada dirinya?
BUTUH waktu lama bagi sineas kawakan James Cameron untuk menuntaskan proyek film Alita: Battle Angel, rebooth manga karya Yuriko Kishiro. Namun, penantiannya tak percuma. Teknologi motion capture yang diterapkan pada tubuh aktris Rosa Salazar sebagai Alita, cyborg yang mengalami amnesia, berhasil memukau dengan kejelian detailnya.
Teknologi tersebut sukses menampilkan berbagai emosi yang terefleksi pada mimik wajah Alita, yang acap ditampilkan close-up. Cameron, selaku produser dan penulis skenario Alita, memang menyatakan ingin menunjukkan kerealistisan karakter utamanya itu dengan bermain pada parameter close-up.
Menyaksikan film tersebut, upaya Cameron boleh dibilang berhasil. Sepasang mata besar Alita, yang bagi sebagian kalangan barangkali justru terlihat tidak realistis, menjadi jendela untuk kita menyaksikan jiwa dan perasaan yang tumbuh di dalam tubuh robotnya ialah juga manusiawi.
Ikatan emosi juga menjadi elemen yang coba ditonjolkan dalam film garapan sutradara Robert Rodriguez ini. Setidaknya, emosi itu muncul antara Alita dan Dyson Ido (Christop Waltz), dokter ahli sibernatik, juga jalinan emosi antara Alita dan Hugo (Keean Johnson).
Waltz yang biasa berperan antagonis, kali ini menjadi sosok yang kalem, bermoral, dan tokoh protagonis-melankolis, ayah yang kehilangan anaknya.
Ketika Ido menemukan potongan 'tubuh' di rongsokan, dan menyambungkannya dengan tubuh milik anaknya, ia kembali merasa menjadi ayah. Alita, nama yang ia sematkan kepada cyborg amnesia itu, serupa nama anaknya yang tewas pada masa silam.
Selayaknya orangtua, Ido merasa perlu membimbing Alita, mengarahkan yang boleh dan tidak. Sebaliknya, Alita merasa 'ayah' angkatnya itu terlalu mengekang dan mengaturnya. Seperti ketika ia harus menjauhi Motorball, atau tidak boleh keluar malam.
Namun, relasi unik antara manusia dan cyborg tersebut menjadi salah satu pemancing emosi penonton yang paten. Adegan Alita memanggil Ido dengan sebutan ayah ketika 'mengobati' tubuh Alita yang hancur akibat pertempurannya dengan cyborg raksasa Grewishka (Jackie Earle Haley) menjadi salah satu adegan yang mengundang air mata.
Adapun kisah kasih Alita dengan Hugo, terkadang terasa mengganggu. Entah karena sosoknya yang naif dengan percintaan, atau karena cinta remaja memang klise untuk diikuti. Namun, memang itu pula mungkin yang ingin diperlihatkan, kemanusiawian si perempuan cyborg itu. Ketika Alita mempertanyakan, apakah tidak masalah untuk Hugo, ketika Alita bukanlah sepenuhnya manusia? Hugo menjawab, Alita justru yang paling manusiawi.
Menggantung
Selain sinematografinya, hal lain yang menarik dari film ini ialah keputusan untuk mengakhirinya dengan menggantung (cliffhanger ending). Ini seolah menjadi petunjuk bagi penonton, akan ada kelanjutan dari film fiksi ilmiah ini. Bahkan, kabarnya memang Cameron akan membangun saga Alita.
Seri manganya memang memiliki sembilan volume. Kabar beredar, ada tiga volume yang bakal digarap Cameron untuk melengkapi Alita menjadi saga, di samping Avatar yang bakal muncul Avatar 2.
Alita: Battle Angel hanya menjadi seri perkenalan untuk penonton, sambil kita diminta untuk mencari kait-kait pada seri selanjutnya. Apa yang akan terjadi ketika Alita memenangki turnamen Motorball, misalnya. Motorball ialah olahraga sekaligus hiburan utama di 'kota besi' yang konsepnya seperti rugby dengan gabungan balapan di atas lintasan. Bahkan, menarik juga bila Cameron kelak membuat Motorball sebagai stand-alone.
Aksi laga dalam film ini juga cukup menarik, dan brutal. Dengan teknik Panzer Kunst (teknik bela diri kuno cyborg) yang dimiliki Alita, melawan para cyborg bersenjata mematikan. Ya, Alita: Battle Angel bakal jadi uji eksperimen sebelum Cameron memulai saga Alita. (M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved