Hidup Sunyi dalam Keramaian

(Mit/M-4)
10/2/2019 04:00
Hidup Sunyi dalam Keramaian
(Dok MI)

EVA Susanti Hanafi Bande yang kerap disapa Eva Bande, ialah seorang perempuan aktivis yang lahir di Luwuk 40 tahun silam. Belajar di Jurusan Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, di Universitas Tadulako ialah pilihannya. Di sana ia bergaul dengan teman-teman mahasiswa yang kemudian membentuk karakter pribadi Eva. Ia bahkan sering kali menjadi orator dalam kegiatan demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di Palu.

Semakin luas pergaulannya, Eva mulai terjun ke tengah masyarakat, karena menurutnya banyak hal-hal yang dianggap tidak beres dan menjadi permasalahan hidup, berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang harus diperbaiki, seperti penyerobotan tanah atau perampasan hak-hak milik masyarakat, termasuk pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan.

Ia dan teman-temannya kemudian membentuk dan mendirikan organisasi-organisasi yang kemudian berjalan mendampingi masyarakat, salah satunya Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah (KPKPST).
Dalam berbagai aktivitasnya, Eva kemudian dihadapkan pada persoalan yang menyeretnya ke dalam tahanan.

Pembangkit semangat
Selama berada di dalam penjara, baik di Luwuk maupun di Palu, Eva sering menghabiskan waktu untuk menulis dan menyusun puisi, termasuk surat-surat yang dikirimkan kepada teman-temannya di luar penjara.
“Kalau orang bilang sunyi dalam keramaian, itulah yang saya rasakan. Saya berada di tengah kota, tapi jauh dari keramaian kota. Saya pernah menikmati hidup sunyi dalam keramaian. Yang saya lakukan hanya menulis surat dan membuat puisi,” ujar Eva Bande kepada Media Indonesia.

Surat yang sempat ditulis dari dalam penjara berisikan kata-kata pembangkit semangat. ‘Kau bungkam aku dengan penjara..! Kau ikat langkahku dengan penjara..! Kau kurung badanku dengan penjara..! Tapi kau tidak akan bisa bungkam-ikat-kurung pikiranku, jiwaku, perlawananku, dan pendirianku..! Solidaritas kawan-kawanku yang segera akan menumbangkanmu..! Di penjara manusia ini akan kusiapkan pedang kematianmu wahai manusia lalim yang terpenjara Jiwamu nan kotor..!’.

Yang terus membuat Eva bersemangat ialah do­rongan moral dari orangtuanya. “Bapak saya pernah bilang saat saya pertama masuk penjara, kamu memperjuangkan hidup orang lain. Saya sebagai orangtuamu dan tujuh turunanku tidak akan pernah malu atas derita yang kau jalani,” tutur Eva.

Pada akhir November 2014, Eva melalui teman-temannya mengajukan permohonan grasi kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Pada 5 Desember 2014, Eva menerima kabar baik, yaitu Presiden Jokowi merespons permohonannya. Awal 2015, Eva Bande dibebaskan dari penjara. Ia ditahan selama 8 bulan di Lapas Kelas II A Petobo Palu.

Perempuan yang memiliki hobi berkumpul dengan para petani untuk berdiskusi atau sekedar bercerita, mendengar kisah-kisah para petani, itu, diundang Presiden ke Istana Negara, menjadi tamu Presiden.
Selain berkumpul, Eva juga senang membaca. Karena kegemarannya membaca, Eva Bande memiliki banyak koleksi buku-buku bacaan, di antaranya buku tentang reformasi agraria, buku tentang kisah-kisah Che Guevara, dan buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer. (Mit/M-4)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya