Yap Thiam Hien Pemantik bagi Petani

Mitha Meinansi
10/2/2019 03:30
Yap Thiam Hien Pemantik bagi Petani
(dok MI)

Bagaimana Anda bisa me­raih Penghargaan Yap Thiam Hien, tujuan Anda mem­perjuangkan lingku­ngan pasti bukan penghargaan bukan?
Pertama, saya tidak menyangka kalau penghargaan itu datang kepada saya karena apa yang saya lakukan ini ialah bagian dari kerja kemanusiaan. Tentunya, bagi saya pandangan penghargaan ini ialah sebagai pemantik bagi seluruh kaum tani, para pejuang hak asasi manusia (HAM) dan para aktivis agraria itu agar mereka selalu bangga terhadap pekerjaan yang sudah ia lakukan. Jadi, ini hanyalah pemantik bagi kita semua yang sampai saat ini masih bekerja bersama rakyat.

Bagaimana awal Anda tergerak hati membela mereka? Bagaimana kondisi awal mereka?
Pertama karena itu memang kampung saya. Sebelum saya mendedikasikan hampir seluruh waktu saya untuk organisasi atau para kaum tani di sana, saya banyak berada di isu-isu perempuan dan perdamaian.
Kami bekerja di Poso dan beberapa kabupaten lainnya di Sulawesi Tengah. Nah, itu saya awalnya membaca berita ada pemenjaraan terhadap kepala desa karena perbuatan tidak menyenangkan. Yang dimaksud perbuatan tidak menyenangkan karena sang kepala desa itu mengadukan kepada pemerintah kabupaten terkait beroperasinya perusahaan dan merusak bantaran sungai di wilayah mereka. Menurut saya aneh ya. Kok ada kepala desa yang memang sudah sedemikian tugasnya, kemudian dia juga menjalankan sebagaimana mestinya tata caranya, tapi kok dia di penjara.

Anda pernah menyampaikan dalam suatu pernyataan, korban pertama kerusakan lingkungan dan konflik tanah ialah perempuan. Seperti apa itu maksudnya?
Di mana-mana watak corporate ialah menindas. Bentuk penindasannya apa? Yaitu merebut, merampas, teror, dan cara yang paling jitu untuk membungkam rakyat ialah memasukkan ke penjara. Ketika tanah dirampas, yang paling menderita tentu kaum tani.
Nah, kalau kita periksa lagi siapa mereka, itu ialah kelompok perempuan, petani perempuan. Kenapa dia perempuan? Karena pentani perempuan, jika Anda lihat di lapangan, dialah orang yang paling, paling kuat berhubungan dengan tanah, mulai menyiapkan tanahnya, benihnya, menanam, menjaga, sampai panen. Jadi, ketika alat produksi mereka hilang, tentu mereka ialah kaum tani itu sendiri dan perempuan petani yang paling menderita.

Pada saat Anda dipenjara, apakah perjuangan Anda tetap berjalan dari balik jeruji? Dengan cara apa? Kalaupun tidak, mengapa?
Iya, saya marah dan bentuk kemarahan saya ialah perjuangan yang saya terus lakukan di dalam penjara itu, salah satunya aksi mogok makan. Hal itu yang bisa kami lakukan. Tidak mungkin kami mau demonstrasi di dalam penjara. Jadi, yang paling mungkin kami lakukan ialah mogok makan sebagai bentuk protes kita terhadap ketidakadilan yang dilakukan negara kepada kami.

Apa konsekuensi mogok makan?
Konsekuensi dari mogok makan yang kami lakukan berpengaruh terhadap putusan pengadilan dan saya menyadari itu dari awal. Dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) 3 tahun 6 bulan, tetapi kemudian Majelis Hakim memutuskan 4 tahun terhadap diri saya. Ketua-ketua serikat tani yang bersama saya itu yang diputuskan 3 tahun 6 bulan. Semua itu membuktikan apa yang menjadi keyakinan saya bahwa hukum tidak adil.

Sempat berada dalam penjara selama beberapa bulan, sampai kemudian di bebaskan Presiden Republik Indonesia melalui grasi dan kemudian bisa beraktivitas lagi. Sebenarnya, ketika itu apa yang dirasakan, menyesalkah atau justru merasa semakin tambah kuat?
Saya tidak menyesal ya. Saya berterima kasih justru sama yang namanya Murad Husain itu. Dengan apa yang dia lakukan, praktik penindasannya memenjarakan kami, justru kami menjadi kuat, memperkuat diri kami, dan organisasi kami sehingga membuat para petani semakin berdaya dan mandiri di tanahnya sendiri, di kaki mereka.

Kalau misalnya dalam perjuangan yang dilakukan selanjutnya terjadi hal yang sama seperti dahulu dan kembali dipenjarakan, apa tanggapannya?
Kalau jalan hidup saya harus mengalami itu lagi, ya, saya harus menjalaninya. Saya pasti akan terima dengan lebih luas hati karena saya sudah pernah merasakan bagaimana melewati hari-hari yang sunyi.

Apa saja yang telah berhasil Anda perjuangkan bersama para petani?
Saat ini kami sudah punya rumah produksi. Tanah yang kami sengketakan, yang sudah kami rebut, itu lebih dari 1.000 hektare dan itu telah diduduki para petani dan dipakai untuk bertani tentunya, berkebun yang komoditas uta­manya ialah jahe, kunyit, beras alami, apotek nutrisi, dan macam-macam. Hal itu karena kebiasaan para petani ialah suka jual mentah, datang tengkulak jual dengan harga yang murah.
Jadi, saya masuk ke satu tahapan namanya tata produksi karena tata kuasa­nya sudah kami lakukan, kami sudah menguasai secara mutlak areal itu dan sekarang berproduksi. Jahe-jahe yang mentah tadi, selain sebagian mereka jual mentah, sebagian di produksi menjadi serbuk jahe, serbuk kunyit, dan itu sudah dijual ke mana-mana.

Bagaimana tanggapan pasar atas pro­duk yang dibuat rumah produksi ini?
Alhamdulillah peminatnya sangat banyak atas produk-produk yang dihasilkan dari Serikat Tani yang saya bersama teman-teman membangunnya. Karena diproduksi secara banyak, kami bersama-sama membangun rumah produksi di sana, dan dipasarkan ke luar. Selain itu, juga ada perpustakaan, meskipun itu kecil-kecilan, tapi itu sudah bisa dimanfaatkan anak-anak petani untuk mengakses berbagai buku. Juga ada balai pertemuan yang kami membangunnya dalam kerangka untuk tempat para petani bisa mendapatkan informasi, berdiskusi, dan macam-macam. Produk-produk yang dihasilkan apotek nutrisi bisa digunakan petani secara gratis.

Anda masih sangat muda dan berjuang untuk orang lain, sebenarnya apakah Anda punya agenda sendiri dalam hidup atau apa tujuan hidup Anda?
Sederhana sebenarnya ya. Kita ini sebagai manusia dilahirkan di muka bumi punya tugas-tugas kemanusiaan, yang artinya memanusiakan manusia. Tentu tidak hanya satu tempat di Kabupaten Banggai, tetapi ada banyak tempat sebenarnya rakyat tertindas itu meng­alaminya. Insya Allah saya masih akan tetap melakukan tugas-tugas yang mestinya saya lakukan.

Anda juga punya blog yang terakhir diperbarui pada 13 Desember 2018. Siapa yang mengelolanya?
Saya punya blog itu dikelola seseorang yang merupakan keluarga saya. Semua isinya dia yang memasukkannya, tetapi atas persetujuan saya. Terus terang, saya agak gagap juga dengan hal-hal yang berkaitan dengan ITE. Karena harus diisi, diatur dan sebagainya, jadi saya percayakan kepada dia. Saya yang menentukan ini perlu diisi, ini ada berita yang harus dimasukkan, saya yang mengirimkan kepada dia, kemudian dia yang meng­unggahnya ke dalam account evabande.wordpress milik saya.

Setelah ini, siapa lagi yang akan Anda dampingi untuk berjuang karena di luar sana masih banyak perusahaan perampas lahan yang merajalela?
Iya betul. Seperti saya bilang sebelumnya, di mana pun watak corporate itu menindas dan monopolistik. Dia akan mengambil seuntung-untungnya dari praktik-praktik ekstraktifnya, baik perkebunan kelapa sawit maupun pertambangan, dan pastinya akan ada orang yang disingkirkan. Mereka ialah kaum tani yang dirampas tanahnya, di rampas haknya. Mereka akan jadi buruh di atas tanahnya sendiri. Itu masih banyak terjadi.
Saya punya prinsip demikian, yaitu tugas kemanusiaan kita ialah kita lahir di bumi ini sebagai manusia yang punya tugas memimpin, yang punya tugas untuk memanusiakan manusia.
Sampai kapan? Sampai saya mati. Sampai berakhir kehidupan saya di dunia. Selesai.

Anda seberapa kuat, baik secara fisik, finansial, pemikiran (ide), dan juga jejaring. Mana yang menjadi sumber kekuatan Anda sebagai perempuan yang sangat berdaya?
Yang pertama, bagi saya, suatu keadaan bisa berubah, dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang tidak adil menjadi adil, dari yang tidak berdaya ekonomi kemudian dia menjadi berdaya secara ekonomi ialah mereka harus beror­ganisasi. Saya akan kuat jika ada kaum tani yang berorganisasi. Pasti dari ketidakberdayaannya menjadi berdaya karena bersama-sama, bergotong-royong, saling mendukung. Yang kedua, jejaring menjadi hal yang penting karena itu bisa saling mendukung kerja-kerja yang dilakukan oganisasi-organisasi tani di level perdesaan, jadi bisa membantu. Jejaring yang saya maksud saling membantu dan mendukung organisasi-organisasi tani yang terbentuk di berbagai tempat di seluruh Indonesia ini. Bagi kami sebagai penggerak bisa membangun basis kekuatannya, jika kaum tani bersatu. Sepanjang kaum taninya tidak bersatu, pasti tidak ada terjadi perubahan apa-apa karena tidak mungkin sendiri untuk melawan. Saya pun jika sendiri akan takut, maka caranya ialah berorganisasi. (M-4)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya