Redupnya Penagi

SUMARYANTO BRONTO
10/2/2019 02:30
Redupnya Penagi
(MI / SUMARYANTO BRONTO)

JAUH sebelum kemerdekaan RI, Pelabuhan Penagi merupakan pintu masuk ke Pulau Bunguran, dan kapal-kapal dagang yang melintas Laut China Selatan akan singgah ke Penagi, ­Natuna, sebelum melanjutkan perjalanan ke ­kawasan lain. Saking sibuknya aktivitas bongkar muat dan labuh jangkar di pelabuhan ini membuat desa nelayan tersebut sebagai pusat dagang di perairan Laut China Selatan.

Penagi muncul menjadi perkampungan dagang yang lengkap banyak menyediakan berbagai kebutuhan hidup. Mulai dari kedai yang menyediakan barang kelontong, kedai kain, kedai ‘runcit’ (sembako), kedai kopi, hingga tempat hiburan malam. Kini, Kampung Penagi tampak seperti kehilangan daya.

Bahkan, pelantar kayu di ujung kampung ini yang beberapa tahun lalu digunakan untuk bersandar oleh kapal-kapal perintis ataupun feri antarpulau sudah tidak bisa digunakan lagi. Kayu-kayu pelantarnya mulai banyak yang rusak.
Aktivitas sandar kapal saat ini otomatis sudah beralih ke Pelabuhan Penagi Baru, sekitar 300 meter dari Kampung Penagi ini.

Redupnya Penagi sangat disayangkan mengingat keindahan budaya yang ada di sana. Pluralitas warga di Penagi cukup ­beragam, mulai etnik melayu, Tionghoa, Jawa, Sumatra, Bugis, dan sebagainya. ­Keberagaman itu tampak membaur menjadi satu. Hal itu terlihat dari sebuah masjid yang berdiri bersebelahan dengan sebuah kelenteng. Inilah keindahan Penagi yang jangan sampai pupus hingga kapan pun. (M-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya