Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SASTRAWAN Indonesia Ajip Rosidi baru saja memasuki usia barunya, 81 tahun. Meski demikian, semangat Ajip rupanya masih menyala termasuk secara rutin menggelar dan datang dalam perhelatan Anugerah Sastera Rancage 2019, yang diadakan di Gedung Kesenian Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung, Kamis (31/1).
Dalam acara tersebut, Ajip mengenakan tongkat untuk membantunya berjalan. Dia mengenakan kemeja putih, celana bahan berwarna hitam, dan sandal. Terlihat sangat sederhana. Ajip tentunya tak sendiri, ia ditemani sang istri, aktris senior Nani Widjaja, yang setia menemaninya ke mana pun ia pergi. Acara Rancage itu memang bersamaan dengan ulang tahun Ajip Rosidi dan kebetulan dalam acara tersebut pun ada sebuah sesi tanya jawab bersamanya.
Dalam sesi tanya jawab tersebut, Ajip Rosidi menjelaskan mengenai dirinya yang dianggap ‘tidak nyunda’ karena dirinya pernah membuat buku berisikan kritik terhadap buku-buku yang diterbitkan para pengarang yang menggunakan bahasa Sunda.
“Tahun 1959, saya menulis tentang pengarang-pengarang Sunda. Waktu itu saya kritik semua karena ngaco. Yang saya kritik itu pun karena memang ngaco, jadi saya dianggap tidak Sunda atau teu nyunda. Si Ajip teh teu diajar bahasa Sunda, katanya. Saya memang tidak pernah belajar, saya yang ngajar bahasa Sunda.
Di Jepang saya disuruh ngajar, orang Jepang mah enggak ada yang tahu. Belakangan saya mengkritisi sejarah tata Sunda yang ngaco, dibilang teu nyunda. Rupanya nyunda itu harus berpura-pura dan saya enggak bisa berpura-pura. Ya, apa boleh buat, saya dibuat oleh Tuhan begini,” ungkapnya.
Selain itu, rupanya Ajip juga dikatakan bukan orang Indonesia oleh beberapa rekannya karena ia lebih banyak mengurusi atau membuat karya-karya Sunda. Hal itu pun membuat Ajip bingung dan ia mengatakan orang Indonesia saat ini melupakan bahwa setiap orang itu bisa dalam bentuk 100% Indonesia dan 100% daerah mereka masing-masing.
Dalam bincang-bincang Ajip juga membahas mengenai dirinya yang mengembalikan hadiah Habibie untuk bidang kebudayaan. Ajip mengatakan bahwa ia mengembalikan hadiah tersebut lantaran adanya plagiator, yakni Nina Lubis yang juga mendapatkan hadiah Habibie beberapa tahun setelah ia mendapatkan penghargaan tersebut.
Ajip tak mau disamakan dengan seorang plagiator, bahkan ia juga menulis buku yang berjudul Mengapa Saya Mengembalikan Hadiah Habibie yang dibagikan kepada para pengunjung secara gratis.
“Saya tidak mau disamakan dengan plagiator. Masalahnya zaman sekarang banyak yang mencari uang dengan mengandalkan plagiat. Kalau Indonesia seperti itu, wallahualam bagaimana bisa bertahan,” lanjutnya menggunakan bahasa Sunda. Ajip pun kini terlihat kesulitan berbicara dan mendengar.
Ajip juga memiliki nasihat untuk masyarakat sekarang. Ajip mengatakan bahwa saat ini orang-orang Sunda suka bermimpi dan percaya pada mitos. Ajip mengatakan bahwa yang paling penting buatlah sesuatu yang jelas dan tunjukkan bahwa orang Sunda itu tidak kalah dengan yang lainnya. Permasalahannya belum ada yang berani untuk melakukan itu kecuali dirinya.
“Bekerjalah, kreatiflah, bekerja untuk Tuhan, untuk bangsa. Jangan cari duit, duit itu sudah dijamin Tuhan, yang saya pegang itu. Rezeki itu dijamin dan diatur Tuhan,” ungkapnya pada hari itu. Ajip menekankan sekali lagi bahwa saat ini yang paling penting ialah berkarya. (Des/M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved