Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENYODORKAN sekaligus menawarkan seni kriya, berarti berbicara aspek fungsional karya tersebut. Namun, ketika berbicara seni, tidak akan ketinggalan untuk membahas aspek estetiknya.
Proses menciptakan suatu karya yang memiliki nilai fungsional nan artistik, terlebih dibalut gagasan ‘Kriya Berkelanjutan’ menjadi fase untuk mahasiswa seni kriya. Ada yang kuat dari karyanya, meski tidak sedikit yang masih perlu meluaskan aspek pengetahuannya, agar karya yang diwujudkan mampu memenuhi aspek kekriyaan.
Beberapa karya yang muncul dari mahasiswa kriya beberapa kampus di Indonesia ini, tidak jarang pula yang mengemuka ialah identitas kelokalan sebagai bagian dari sisi artistik karya tersebut. Karya-karya dari mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, misalnya. Batu nisan menjadi medan penyampaian karya dan pemaknaan identitas lokal. Hadir pula kain batik bermotif bungong seulanga atau bunga kenanga, yang tentu saja menebalkan gagasan identitas lokal tanah rencong tersebut.
Karya-karya tersebut diinterpretasikan sebagai suatu ‘artefak’ untuk mengenang sekaligus harapan untuk meneruskan kebudayaan yang tergerus.
Pemaknaan ini juga muncul pada karya berjudul Luku dari mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Luku, alat membajak sawah yang terbuat dari kayu kini hampir jarang ditemui digunakan para petani, seiring maraknya penggunaan traktor.
“Karya ini ditujukan supaya luku tetap diingat oleh masyarakat dan dikenal anak cucu kita kelak. Selain karena materialnya dari kayu, yang sangat mencerminkan kriya,” ungkap Achmad Gilang Romadhon, si pemilik karya.
Karya yang terbuat dari kayu jati solid dan berukuran 60 sentimeter x 40 sentimeter ini terlihat menarik, dengan penambahan sisi artistik dua ekor babi yang menggantung di ujung luku. Sebenarnya, alat bajak sawah ini, letak harfiahnya juga memiliki konsep berkelanjutan, sebab untuk mengolah tanah, luku tidak memerlukan bahan bakar. Cara ramah lingkungan dari ketradisionalan petani.
Membenahi presentasi artistik
Kurator pameran Surprise#12 yang menjadi wahana presentasi karya Forum Komunikasi Mahasiswa Kriya Indonesia (FKMKI), Leonard Bartholomeus (Leo) menggaris bawahi ada beberapa aspek yang muncul dari pameran seni kriya yang mengusung kriya berkelanjutan ini.
“Pertama, aspek ekonomi dan produksi artistik, kedua aspek sosial dan distribusi pengetahuan, ketiga aspek konsumsi dan lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, memang menitikberatkan pada proses kerja, pertimbangan pemilihan media dan teknik, serta presentasi artistik,” kata Leo.
Bila merujuk pada yang diungkapkan Leo, karya-karya yang dipamerkan masih memiliki pekerjaan untuk merampungkan proses berkarya mereka secara menyeluruh, dari hulu hingga hilirnya. Pemilihan material untuk mengakomodasi konsep kriya berkelanjutan memang patut mendapat apresiasi, terlebih dengan perluasan pemahaman konsep yang meluaskan perspektif pada ide karya.
Hanya saja, presentasi artistik perlu mendapat olah kreatif yang lebih luas, agar karya juga bukan sekadar memiliki aspek fungsional, tetapi tetap memiliki sisi artistik secara kesenian. Paling tidak, pameran yang berlangsung di Bentara Budaya Jakarta dan berakhir pada Rabu (6/2) ini menjadi distribusi pengetahuan setiap mahasiswa kriya untuk memperluas perspektif dan referensi mereka dalam mencipta karya kriya. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved