Melintasi Lautan untuk Persahabatan

Hilda Julaika
10/2/2019 00:00
Melintasi Lautan untuk Persahabatan
(DOK PRIBADI)

DUA kali ditolak ikut dalam program The Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP) tidak mematahkan semangat Virga Dwi Efendi untuk kembali mendaftar. Semangatnya berhasil lolos dan menjadi wakil Indonesia di program ini. Melalui ajang ini Virga bertemu dengan sekitar 300 pemuda perwakilan dari negara-negara di ASEAN dan Jepang. Ia berlayar menyeberangi 5 negara sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia. Berikut Muda mendapatkan kesempatan mewawancarai Virga yang sekarang tinggal di Surabaya pada Rabu (6/2).

Apa itu program The Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP)?
SSEAYP adalah program kerja sama pemuda di ASEAN dan Jepang di bawah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Program ini sudah berdiri sejak 1974, angkatan saya yang berangkat pada Oktober-Desember 2018 merupakan angkatan ke-45. Program pemuda ini dirintis Pemerintah Jepang melalui Cabinet Office of Japan yang bekerja sama dengan kementerian kepemudaan yang ada di masing-masing negara di ASEAN.

Berdasarkan keterangkan dari Kemenpora, program SSEAYP ini merupakan salah satu program unggulan yang bertujuan untuk persahabatan dan hubungan saling memahami antarnegara. Ada 28 wakil Indonesia yang  merepresentasikan masing-masing provinsi di Indonesia, kami disebut dengan Indonesian Participating Youth (IPY). Saya diamanahi mewakili Provinsi Jawa Timur. Secara keseluruhan peserta dari 11 negara ini berjumlah sekitar 319 peserta.

Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam program ini?
Kami berlayar kurang lebih 52 hari di kapal Nippon Maru. Semua peserta yang terpilih terbang ke Tokyo, lalu berlayar ke 5 negara tujuan. Mulai dari Jepang, Brunei Darussalam, Fhilipina, Thailand, Vietnam, lalu kembali ke Tokyo. Kegiatan di kapal sangat padat dan detail. Bahkan pakaian kami pun memiliki kode tertentu, karena kegiatan pakaian harus disesuaikan dengan acara yang akan kami lakukan.

Program ini terbagi ke dalam dua jenis, kegiatan di dalam kapal atau on board dan country program. Pada program on board terdiri dari forum discussion group (FGD), volunteering activity, battle dance, hingga national presentation. Misalnya di FGD, para peserta dikelompokkan ke dalam beberapa grup. Tiap-tiap grup membahas mengenai isu tertentu, kalau kelompok saya mengenai quality education. Kami mendiskusikan mengenai status pendidikan di ASEAN dan Jepang saat ini.

Kami juga melakukan national presentation, untuk mempromosikan budaya dari daerah masing-masing selama 75 menit. Kalau saya mewakili Jawa Timur, jadi menampilkan apa saja yang berkaitan dengan budaya dan ciri khas dari daerah saya.
Sementara, untuk country program terdiri dari beberapa kegiatan seperti, keprotokoleran dan orangtua asuh di 5 negara yang kami sambangi. Mengenai protokoler kita mengibarkan bendera dari tiap-tiap negara pada setiap proses naik kapal dan turun kapal. Aktivitas ini memang diatur sebagai bentuk penghormatan terhadap orangtua asuh yang kita temui di tiap-tiap negara.

Kita ada program orangtua asuh, kami diberikan kesempatan hidup sebagai warga lokal di lima negara dengan orangtua asuh selama 3 hari 2 malam. Mereka memiliki keunikan dan cerita tersendiri. Kami mencoba beradaptasi dengan kehidupan beserta kebudayaan mereka.

Menurutmu kegiatan yang paling berkesan apa?
Semua kegiatan bagi saya sangat berkesan. Namun, bila harus memilih ialah program orangtua asuh. Orangtua asuh kami benar-benar memperlakukan kami dengan baik. Saya kan Muslim, jadi kalau akan masak makanan mereka kerap bertanya apakah ini halal atau tidak. Orangtua asuh saya di Filipina itu sudah menikah selama 15 tahun, tetapi belum memiliki anak. Mereka memperlakukan saya dan rekan saya dari Malaysia seperti anak mereka sendiri.

Saya tetap berhubungan dengan kelima orangtua asuh saya. Ada momen yang sangat menyentuh saat send off ceremony. Seusai program, mereka mengantarkan kami ke pelabuhan, kami pun berpelukan di bawah kapal. Setelah para kontingen naik kapal, kami melemparkan pita yang kemudian ditangkap mereka. Baru kapal kembali berlayar.

Adakah tantangan selama program ini?
Tantangan awal ialah persiapan bagaimana memantaskan diri ikut program ini. Sejak pengumuman April 2018, saya sebagai representasi Jawa Timur dan Indonesia, rela tidak melamar pekerjaan meski sudah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair). Karena banyak yang harus disiapkan seperti materi, mental, hingga sponsor. Alhamdulillah bisa terlewati.

Selama program tantangannya lebih ke komunikasi. Beberapa orang terbatas bahasanya, seperti orangtua asuh. Waktu di Thailand, orangtua asuh saya tidak bisa berbahasa Inggris. Kami komunikasi menggunakan kamus Thailand-Inggris, lalu diterjemahkan ke ibu asuh.
Setelah Thailand, saya melihat bahasa itu nomor kesekian. Meski terbatas bahasa, masih banyak cara lain ketika kita mau menunjukkan hal positif dan ketulusan. Ketika bahasa tidak bisa menyampaikannya, ada bahasa lain seperti bahasa tubuh. Ini tantangan yang unik dan belajar banyak hal.

Kamu mendapatkan apa dari program ini?
Saya sudah mencoba pada 2016 lalu 2017, baru lolos pada 2018. Saya merasa ini sangat worth it untuk dicoba. Seleksi setiap tahun memiliki model dan pola yang berbeda. Jadi saya mencoba dan berusaha terus untuk berproses. Lalu orang-orang yang ada di sini itu sangat beragam dan hebat, namun tidak sombong. Saya juga yakin program ini bukan sekedar mencari orang yang hebat tapi mencari orang-orang yang mau belajar dan berproses.

Saya mendapatkan pengalaman yang berharga. Pengalaman itu mahal harganya. Ini kesempatan yang tidak akan datang kedua atau ketiga kalinya. Saya merasa mendapatkan pentingnya sebuah proses, karena semua program yang padat ini menuntut kita untuk cepat dengan segala tekanan. Saya juga dituntut berpikir cepat dan memanajemen waktu dengan baik. Saya diajari melampaui batas. Saya yang dulunya bukan penari dan belum percaya diri berbicara bahasa Inggris di depan orang banyak menjadi mampu untuk melakukannya. (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya