Antitesis Caleg Klimis dalam Karya Fotografi

Fathurrozak
09/2/2019 08:10
Antitesis Caleg Klimis dalam Karya Fotografi
(MI/ Fathurrozak)
SOSOK kurus berambut gondrong itu mengenakan peci dan kacamata hitam, namun tanpa busana. Ia berdiri dari dalam tong sampah, menyemprotkan semacam pengharum ke tubuhnya. Dari potret tersebut, tersemat nama serta gelar akademik semunya, sebab memang tidak pernah ada gelar akademik seperti PSD, RAW, atau PNG, istilah itu diambil dari format file gambar.  
 
Potret itu bersanding dengan potret lain, yang memunculkan sosok berambut kribo, brewokan, mengenakan jas dan berpose bak anjing yang tengah merajuk pada tuannya. Dengan jas yang hampir kedodoran itu, ada sederet kalimat berbunyi "Kalau saya terpilih, pundi-pundi kalianlah yang menentukan kapan jas ini cepat penuh terisi.
 
Kedua foto itu termasuk dalam 15 foto potret yang dipamerkan di Warung Foto Kopi, Cipete, Jakarta Selatan. Bertajuk 'Kampanye Caleg Impian', pameran foto ini seperti sindiran terhadap gaya para caleg saat ini. Karya para fotografer dari Kelas Pagi Militan ini menampilkan gambaran yang kontras dari caleg-caleg klimis nan glamor.
 
Potret lain yang menggelitik ialah sosok bernama Kang Japra. Ia hampir memenuhi standar foto di baliho kampanye milik para caleg yang berseliweran, dengan stelan batik panjangnya. Tangannya membentuk posisi seperti seorang dari paduan suara yang tengah mengambil suara. Kalimat pelengkap kampanyenya, "Dipilih karena tidak ada pilihan." Boleh jadi, potret Kang Japra merepresentasikan fenomena saat ini, ketika gegap gempita Pemilu makin menyesaki ruang publik. Mungkin saja, para calon legislatif yang maju tersebut, yang kelak bakal dipilih oleh masyarakat, dipilih karena memang tidak ada pilihan lain. Maju kena, mundur kena.

 

Fotografer Diaz Alzaidi, yang memotret sosok Kang Japra, mengungkap konsep slogan yang ia ajukan. " Ingin mengangkat fenomena entah artis, musisi, yang naik jadi caleg, yang mungkin tidak punya kapabilitas. Paradigma yang ada di masyarakat, banyak caleg yang enggak dikenal, jadi asal ada yang dari publik figur, yang mereka kenal, maka punya ketertarikan buat milih, jadi sebenarnya caleg dipilih karena memang enggak ada pilihan," ungkapnya, Jumat, (8/2).

 

 
Yousouf Karsh dan Kejujuran Apa Adanya
 
Kelas Pagi Militan merupakan bagian dari Kelas Pagi, program kelas fotografi milik fotografer Anton Ismael. Dalam proyeknya kali ini, para peserta ditantang untuk menyajikan konsep foto potret yang merujuk teknik foto ala Yousouf Karsh, salah satu maestro sosok fotografer potret abad 20.
 
Pameran ini juga merespons keseragaman yang langgeng dari masa kampanye. Para fotografer bukan hanya mengkritisi teknik, melainkan juga menghadirkan alternatif caleg impian versi mereka. Bahkan, dengan merujuk teknik Karsh, mereka menawarkan gagasan, bagaimana para caleg kini mampu tampil jujur, baik secara potret kampanye, maupun janji yang disampaikan.
 
"Caleg impian yang kita sajikan, semuanya real apa adanya. Dilihat dari pose mereka, yang tidak jaga image, tidak menutupi diri, jadi mungkin itu impian semua orang, ada caleg yang menampilkan diri sendiri. Kita mau kritisi dengan hal seperti ini. Ada banyak yang kita kritisi, dari sisi fotografi para caleg yang seadanya, kedua dari janji kampanye caleg yang sudah membuat kita bosan. Di sini, mereka sajikan tagline diri mereka, tidak ada yang sama, sejujur itu. Apakah ada caleg yang transparan, yang dari awal sudah dikasih tahu semua tentang diri si caleg tersebut?" jelas Diaz Ramadhansyah, salah satu fotografer Kelas Pagi Militan.
 
Menurut Anton Ismael, proses yang berjalan selama sepekan ini merupakan cara fotografer belajar fotografi bukan sekadar teknis, melainkan paket keseluruhan. "Bukan hanya teknis, fotografi itu tentang bagaimana berkomunikasi, dan bekerja sama dengan lingkungan sekitar, bagaimana propaganda juga disampaikan, bukan apa yang kamu sampaikan, namun bagaimana kamu menyampaikan dan  representasi kamu," tutup Anton saat pembukaan pameran.  Pameran Caleg Impian akan berakhir pada Minggu, (10/2). (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bintang Krisanti
Berita Lainnya