Tiongkok Mengancam Hutan Malaysia

Desi Yasmini
09/2/2019 06:20
Tiongkok Mengancam Hutan Malaysia
(AFP)

PERMINTAAN yang melonjak dari buah durian di Tiongkok dituding sebagai penyebab penggundulan hutan di Malaysia.

BUAH yang tumbuh di sepanjang daerah tropis Asia Tenggara itu disebut sebagai 'raja buah-buahan' oleh penggemarnya. Tekstur creamy dan aroma menyengat menjadi ciri khas yang disukai para penikmat durian. Namun, bagi pembenci durian, buah ini berbau seperti sampah dan muntah basi. Baunya yang kuat membuat banyak hotel di seluruh negara melarang pengunjungnya membawa durian ke dalam kamar hotel. Di Singapura, bahkan penumpang dilarang membawa buah tersebut ke dalam subway.

Beberapa tahun belakangan ini durian sangat terkenal di Tiongkok. "Saat ini durian mendapat banyak perhatian dari pasar Tiongkok," kata Sophine Tann, dari grup perlindungan lingkungan PEKA, yang telah meneliti pembukaan lahan untuk penanaman buah tersebut. Pada April 2018, misalnya dalam waktu 60 detik sebanyak 80 ribu durian terjual di situs belanja Alibaba. Durian yang dijual berasal dari toko-toko yang menjalin dagang dengan Thailand, produsen terbesar durian di dunia.

Raja durian dari Malaysia

Peluang pasar durian yang sangat potensial di Tiongkok itu mendorong Pemerintah Malaysia untuk membuka lahan perkebunan durian dalam skala yang lebih besar. Apalagi, durian raja musang asal negeri mereka saat ini menjadi incaran penggemar durian di Tiongkok.

Varietas ini paling populer dan salah satu yang paling mahal. Terkenal akan daging buah yang tebal dan berwarna keemasan. Satu buah durian raja musang yang dijual di kios buah di Beijing berharga 800 yuan ($120).

Petani di Malaysia mulai banyak bergeser dari perkebunan kecil ke operasi berskala industri. Tren ini yang dinilai para pencinta lingkungan sebagai ancaman baru untuk hutan hujan, selain penebang pohon dan perkebunan kelapa sawit.

"Terjadi penggundulan hutan untuk menanam durian sebagai tahap persiapan untuk memenuhi permintaan yang tinggi."

Impor durian di Tiongkok meningkat hingga 15% atau mendekati 350 ribu ton hingga akhir 2018. Sebanyak 40%-nya berasal dari Thailand, dari Malaysia masih kurang dari 1%. Namun, pada 2030 diharapkan akan meningkat menjadi 22.061 ton dari 14.600 ton.

Di distrik hutan di Raub Malaysia tengah, berpetak-petak hutan hujan baru-baru ini dipangkas habis untuk membuka lahan perkebunan baru. Di sana terlihat bibit-bibit durian terlindungi jaring yang ditanam di sepanjang bukit yang gundul.

Perkebunan ini berada di area hutan yang dilindungi, yang menjadi rumah bagi ekosistem mulai dari monyet hingga berbagai burung eksotis.

Sungai yang mengalir di dekatnya sekarang berubah menjadi keruh dan berisi batang dan ranting pohon hasil penebangan. Perkebunan itu dikelola oleh Ample Harvest Produce, tetapi staf perusahaan menolak untuk memberikan komentar ketika ditanya mengenai hilangnya pepohonan di area tersebut.

Para aktivis pencinta lingkungan memperingatkan terjadinya pembukaan hutan besar-besaran untuk penanaman pohon buah berduri yang berbau tajam ini.

Jatuh cinta pada gigitan pertama

Di sebuah mal di Beijing sebuah kios bernama Little Fruit Captain yang menjual durian Malaysia, manajer kios Wang Tao mengatakan pelanggannya 'jatuh cinta' dengan durian dari Malaysia karena rasanya yang lebih manis jika dibandingkan dengan durian Thailand.

Ia mengimpor durian beku dari Malaysia dan menjualnya dengan wadah plastik dalam bentuk es krim, kue, atau menjadi keripik durian, termasuk piza rasa durian, rasa durian pada mentega, saus salad, dan susu. Saat ini baru Thailand yang dapat mengimpor buah segar durian ke Tiongkok karena persetujuan perdagangan.

"Durian Thai memiliki rasa yang lebih kuat dan cenderung membuat mual setelah beberapa lama, tapi tidak dengan yang saya beli di sini," kata Liu Zelun, mahasiswa universitas yang mengunjungi kios buah tersebut seminggu sekali untuk mendapatkan durian.

"Pelanggan kami tidak mengkhawatirkan harga, mereka hanya mau yang terbaik,' kata Wang.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya