Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MEDIA sosial (medsos) dan operasional ponsel pintar diprediksi masih menjadi celah potensial bagi para hacker untuk melakukan kejahatan siber pada 2019 dan tahun-tahun sesudahnya.
Demikian disampaikan Territory Chane Manager untuk Indonesia di Kaspersky Lab Asia Pasifik, Dony Kusmandarin, di Jakarta, Kamis (7/2). "Selain media sosial seperti Facebook,Instagram, Twitter dan lainnya, penggunaan smartphone, email dan web adalah celah paling besar bagi para hacker," cetus Dony.
Hacker, katanya, kerap mencari celah keamanan yang tidak terproteksi agar bisa memasuki area data pribadi orang banyak. Namun jenis medsos yang paling rentan terhadap serangan, berbeda di tiap negara. Sebab hal itu bergantung pada jenis medsos yang paling banyak digunakan. Terkait media sosial yang paling berpeluang jadi sasaran hacker, menurut Dony, berbeda di tiap negara.
"Seringkali, dengan menyisipkan virus pada tautan yang diposting ke media sosial. Namun ketika diklik, akan otomatis download, juga memasuki data pribadi, mengumpulkan data tanpa disadari dan mencurinya," terang Dony.
Penyusupan melalui ponsel pintar, menurutnya, juga masih marak terjadi di tahun 2019 dan tahun-tahun berikutnya. Penyebabnya jumlah pengguna ponsel dari tahun ke tahun yang terus meningkat. Seiring juga dengan perusahaan-perusahaan yang menyediakan produk maupun layanannya melalui aplikasi.
Ia mengakui, sejak tahun lalu Indonesia berkomitmen memaksimalkan sistem keamanan siber bagi masyarakat. Hal ini dilakukan dengan perubahan kebijakan hingga perlindungan infrastruktur. Masuknya industri 4.0 mendorong Indonesia terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang makin dinamis. Namun begitu, lansekap teknologi baru ini tentu juga diikuti ancaman keamanan.
Data Kapersky Lab di kuartal terakhir tahun 2018, menunjukkan sebanyak 28 persen pengguna komputer di Indonesia terkena serangan berbasis web. Lebih dari setengahnya atau sekitar 53,7 persen menjadi sasaran ancaman lokal, misalnya dari USB.
Data ini mendudukan Indonesia pada negara dengan resiko paling tinggi ke-34 dalam ancaman siber. Data tersebut diambil dari pengguna Kaspersky Lab di Dunia. "Saat ini hampir semua orang melakukan belanja online. Ini media yang sangat baik untuk menyebarkan malware. Anak-anak juga sudah punya akun email sebagai prasyarat agar bisa download game. Trend kita seperti itu sekarang. Salah satunya karena website kita tidak up to date,"katanya.
Dony, menambahkan, upaya mitigasi untuk memproteksi komputer dan smartphone dari kejahatan siber bisa dilakukan dengan berbagai cara. Antara lain lebih selektif menggunakan aplikasi. Dony menyarankan agar pengguna ponsel dan komputer hanya menggunakan aplikasi yang benar-benar diketahui saja.
Pengguna, terutama PC harus selalu update semua aplikasi keamanan. Pengguna notebook nyaris sama dengan pengguna smartphone, sangat menjaga privasi. Karena teramat personal sifatnya, disarankan tidak memberikan akses penggunaan smartphone dan komputer untuk bisa digunakan orang lain.
"Namun demikian, sejauh ini tingkat ketahanan siber di Indonesia masih tergolong bagus. Terbukti Indonesia di peringkat ke 64 dari seluruh dunia dalam hal ancaman lokal,. USA, Jerman, dan Rusia paling banyak ada serangan malware"katanya.
Melengkapi keterangan tersebut, Jemmy Handinata, Pre Sales Specialist Indonesia, Kapersky Lab, menyebutkan tentang potensi ancaman paling berbahaya dari Advance Persistent Threat (APT) pada tahun 2019 ini. Yakni semacam virus untuk membuat efek malware yang sangat dahsyat. APT masuk tanpa disadari, seolah tidak melakukan apa-apa, tapi ia mengumpulkan dan mengambil semua data.
APT susah dideteksi oleh anti virus biasa. APT hanya bisa dideteksi dengan teknologi tinggi karena banyak proses yang harus dicek. Ini juga tidak mungkin diinstal dari pengguna notebook biasa. Dari sisi produksi, APT mengincar dana melalui networking hardware. APT sebenarnya sudah pernah ditemui pada 2010. Namun pada tahun ini berpotensi untuk muncul kembali.
"APT biasanya menyerang perusahaan besar, negara, banking dan lainnya yang tidak bersifat individual. APT ini mengambil data kolektif. Prediksi kita tahun ini tidak ada big APT yang menyerang perusahaan umum seperti tenaga listrik dan sebagainya. Pada 2019 ini, juga diperkirakan kan muncul pemain-pemain baru dalam cyber crime,"katanya.
Jemmy menjelaskan, serangan browser merupakan metode paling utama untuk menyebarkan program berbahaya pada pengguna yang tidak menaruh curiga. Periode Oktober - Desember 2018, Kaspersky Lab mendeteksi ada 10.943.947ancaman cyber-borne internet yang berbeda pada setiap komputer pengguna Kaspersky Security Network (KSN) di Indonesia atau sejumlah 28 persen. Fakta ini menempatkan Indonesia di peringkat 35 dunia dalam hal bahaya yang timbul dari penjelajahan web. Kejahatan siber menembus sistem secara umum menggunakan dua metode. Yakni dengan memanfaatkan kerentanan di browser dan plugin atau unduhan drive-by.
Biasanya dilakukan dengan memanfaatkan bug dalam perangkat lunak browser atau plugin populer untuk menginfeksi pengguna yang mengunjungi situs web yang sudah disusupi. Bisa juga dengan metode rekayasa sosial. Serangan ini membutuhkan partisipasi dari pengguna untuk mengklik tautan dan mengunduh file berbahaya ke komputer mereka. (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved