Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MESKI sudah lewat beberapa hari, tren 10-year challenge (#10yearchallenge) yang viral di Facebook masih juga hangat dibicarakan. Bahkan permainan tantangan itu kini juga memiliki banyak versi turunan, misalnya unggahan dalam rentang yang lebih panjang (20 tahun atau 30 tahun).
Namun pernahkah anda berpikir tentang resiko penyalahgunaan data pengenalan wajah akibat tren itu? Seberapa besar pula resiko itu?
Opini yang ditulis Kate O'neill baru-baru ini di Wired.com baru-baru ini menyebutkan jika tren itu telah menyumbangkan data yang besar untuk algoritma pengenalan wajah. Memang, selama ini pun pemanenan data wajah sudah bisa dilakukan dengan foto-foto yang diunggah orang di Facebook.
Meski begitu #10yearchallenge memudahkan pendataan perubahan wajah karena orang menggunggah perubahan wajah dalam rentang waktu yang jelas. Sementara dalam unggahan biasa sebelum tren ini, orang bisa saja mengunggah foto tidak dalam urutan dan tidak pula menyertakan keterangan tahun dibuatnya foto itu.
Lebih lanjut O'neill berkaca pada permasalahan penjualan data wajah yang sempat dilakukan Amazon. Pada 2016, Amazon menjalankan sistem Real-time Facial Recognition untuk para penggunanya. Data wajah itu kemudian dijual kepada Kepolisian.
Publik kemudian protes karena Kepolisian bukan saja bisa menggunakan data wajah itu untuk mencari pelaku kriminal namun juga orang-orang lainnya, misalnya orang yang terlibat dalam demo.
O'neill mengungkapkan data wajah yang terkumpul saat ini bisa dimanfaatkan dalam 3 hal yang bisa berdampak positif maupun negatif pada publik. Pemanfaat yang membawa manfaat adalah penggunaan data wajah untuk pencarian orang hilang. Dengan data wajah #10yearchallenge, sistem algoritma pengenalan wajah juga dapat memprediksi perubahan wajah di tahun-tahun selanjutnya.
Pemanfaatan yang relatif tidak merugikan meski mungkin mengganggu adalah jika data wajah dimanfaatkan untuk sistem pemasaran. Sementara yang berpotensi merugikan adalah jika data wajah digunakan untuk sistem penilaian oleh perusahaan asuransi. Orang yang perubahan wajahnya dianggap lebih tua dari perubahan rata-rata bisa dianggap memiliki resiko kesehatan lebih besar dan dapat dijadikan pertimbangan perusahaan asuransi untuk menolak pengajuan polis.
Meski begitu dalam hal #10yearchallenge, Facebook telah membantah adanya maksud pemanenan data. Alasan Facebook karena tren itu tidak diciptakan oleh mereka.
Namun O'neill tetap mengingatkan, dalam era digitalisasi sekarang ini, pengguna teknologi tetap harus memikirkan segala resiko penyalahgunaan data setiap sebelum berbagi informasi apapun ke internet. Memang, lebih baik sedia payung sebelum hujan kan? (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved