Gemarkan kembali Baca Buku

Hilda Julaika
20/1/2019 00:50
Gemarkan kembali Baca Buku
(Dok. Pribadi)

KEGIATANNYA sebagai relawan saat menimba ilmu di Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, Sumatra Selatan, dan guru sekolah minggu di Indralaya, Imelda F Siagian senang membuat orang lain bahagia. Apalagi, saat ia mengajar anak-anak di gereja pada akhir pekan.

Meski sudah lulus dan kembali ke Jakarta, ia tetap rajin mengikuti kegiatan kerelawanan. Di tengah kesibukannya sebagai karyawan swasta, ia berkontribusi ke masyarakat melalui komunitas Indoreadgram, mau tahu lebih tentang komunitas ini? Berikut bincang Muda berkesempatan dengan gadis kelahiran Medan ini di Jakarta, Selasa (15/1).

Bagaimana mulanya membangun komunitas Indoreadgram?
Mulanya pada 2016, saya baca hasil riset mengenai minat baca. Indonesia menduduki posisi ke-60 dari 61 negara, terpaut satu angka di atas Botswana. Saya merasa miris dan kesal dengan hasil itu, pahadal perpustakaan banyak. Memang kendalanya berbeda, kalau di kota banyak fasilitas buku dan perpustakaan, tapi kita malas membaca. Di desa banyak yang ingin membaca, tapi terhalang fasilitas. Lalu di tahun yang sama juga keluar hasil riset yang menyatakan orang Indonesia yang minat baca itu 1 berbanding 1.000.

Kondisi itu membuat saya resah dan memutuskan membuat kampanye Ayo Membaca di Instagram terlebih dulu. Saya bikin caption menggunakan tanda pagar dan membagikannya lewat blackberry messenger (BBM) yang masih banyak diakses saat itu. Saya mengajak teman-teman berbagi soal buku yang dibacanya lewat caption lalu menggunakan tagar tertentu seperti #AyoMembaca, #AnakIndonesiaSukaBaca, dan #GenerasiMudaSukaBaca. Setelah itu, barulah dikembangkan menjadi komunitas bernama Indoreadgram pada 24 September 2016. Saat itu saya berani merumuskan komunitas sendiri, tanpa tim. Saya menyiapkan mulai dari media sosialnya (Instagram), konten, dan sebagainya. Pada 1 Oktober 2016 barulah dibentuk tim terdiri atas 8 orang dan me-launching nama komunitas.

Apa tujuan dari komunitas ini?
Tujuan Indoreadgram adalah meningkatkan minat baca, mengurangi tunaaksara, dan menjadikannya sebagai wadah literasi. Banyak yang bilang tujuan ini terkesan berat. Namun, ini menjadi cambuk bagi kami.

Apa saja kegiatan literasi komunitas Indoreadgram di media sosial?
Kalau di media sosial kita menggunakan Instagram dan Facebook. Jadi, setiap hari ini kita suka membagikan konten mengenai sastra dan pakai tagar sesuai segmen. Hari Senin membahas puisi, Selasa mengenai buku novel, selanjutnya Rabu mengenai anak, Kamis tentang animasi, Jumat membahas sejarah, serta Sabtu dan Minggu berbagi mengenai literasi. Kami buat segmen-segmen seperti ini karena kami percaya setiap pembaca itu memiliki buku favoritnya masing-masing dan jenis yang berbeda.

Bagaimana kegiatan Indoreadgram di luar media sosial?
Selama 2 tahun berjalan, kami punya 6 program yang rutin dilakukan tiap tahunnya. Program ini kami lakukan sekali setahun. Pertama, ada workshop penulisan untuk anak muda. Kami sudah pernah bekerja sama dengan Tempo Institue dan Forum Lingkar Pena (FLP). Kegiatan kedua, berupa workshop mendongeng bekerja sama dengan Teman Ceritaku.

Program lainnya Kereadta yang berkolabo­rasi dengan Taman Baca. Jadi, kegiatannya dari Stasiun Jakarta Kota sampai Stasiun UI kita berkampanye ‘Ayo Membaca’.
Lalu yang keempat, program bernama Mendongeng Rumah Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Ini ide yang membuat kami menang di ajang inovator muda dari SDG PIPE 2018. Ide ini akan dikembangkan tahun ini. Mendongeng di RPTRA kan program pemerintah, tapi kita sudah melakukan kegiatan dongeng seperti ke Rusun Albo lalu rusun di daerah Klender.

Program kelima ialah kunjungan ke museum yang merupakan bagian dari konten sejarah. Kita ingin mengajarkan kita bisa belajar menyenangkan lewat museum. Kita percaya selalu ada cerita dan sejarah dari sebuah benda. Lalu ada travel story yang melibatkan peserta untuk menuliskan perjalanannya di museum.

Program keenam sebenarnya kegiatan ulang tahun namun rutin. Misalnya, tahun pertama kita membuat talkshow Membaca di Era Digital. Tahun 2018 Kencan Buku, kegiatannya setiap orang berbagi isi buku yang pernah dibaca selama 3 menit sehingga orang yang mendengarkan mau membaca buku yang diceritakan.

Apa tantangan yang dihadapi sampai sejauh ini?
Ketika di awal pembentukan itu sulit adalah mengajak orang menjadi tim di Indoreadgram. Karena tidak semua orang mencintai dunia literasi dan mau mencemplungkan diri di kegiatan sosial. Saya juga belajar bagaimana mengelola relawan yang berkegiatan bersama. Kita tidak bisa memaksakan mereka, kadang ada yang menghilang tidak ada kabar. Ini tantangan tersendiri sekaligus pembelajaran bagi saya. Sisanya datang dari pendanaan. Karena belum memiliki donatur tetap, kami kerap melakukan patungan saat kekurang­an dana.

Apa yang kamu dapatkan dari kegiatan sosial ini?
Bagi saya Indoreadgram adalah bentuk pelayanan saya bagi masyarakat dan kebaktian saya bagi negara. Untuk mengabdi sama bangsa tidak melulu harus jadi PNS. Bisa dimulai dari apa yang kita suka, bisa dilakukan, dan berdampak bagi negara. Ketika saya membuat Indoreadgram dan memiliki jaringan sosial, saya merasa ada sesuatu hal yang tidak bisa terbayarkan uang. Saya merasa senang dan berharga.

Jujur saja, semakin saya melayani masyarakat lewat Indoreadgram saya makin merasa berkah Tuhan itu ada. Selalu saja ada jalan yang dibuka saat menghadapi kesulitan. Salah satunya saat saya memenangkan ajang inovator muda dari SDG PIPE membuat saya diberikan pelatihan dan pendanaan. Bahkan, saya akan dibe­rangkatkan ke Kamboja Februari ini untuk pelatihan dan magang selama 2 minggu. Saya sampai sempat berpikir untuk resign dari kantor seandainya tidak diizinkan untuk cuti. Tapi, syukurnya pengajuan saya disetujui direktur di kantor.

Saran yang bisa kamu berikan saat membangun komunitas sosial?
Pertama, kita harus melihat apakah membangun komunitas ini benar-benar dari hari kita atau hanya agar terlihat keren saja. Dimulai dengan hal yang kamu suka dan membuat kamu resah. Sebenarnya bentuknya tidak melulu harus dalam bentuk komunitas. Saran saya sebelum membangun komunitas sosial. Kamu bisa belajar dulu lewat relawan di komunitas yang kamu suka. Terakhir bulatkan pikiran dan tekad kamu saat membangun komunitas agar manfaatnya juga bisa tersampaikan ke masyarakat yang menerima. (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya