Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DESEMBER menjadikan pusat Kota Ambon menjadi lebih meriah dari bulan biasanya. Lampu-lampu di sudut kota saat malam hari menjadi semakin berpendar. Namun, bila Anda menginginkan suasana yang lebih tenang dan damai, coba bergeser sedikit ke Leihitu, Maluku Tengah.
Meluncur dengan mobil dari kawasan Kota Ambon menuju Leihitu, memerlukan waktu kurang lebih satu jam. Di sepanjang perjalanan, mata akan disuguhkan pemandangan alam, rindangnya pepohonan di antara kelok jalanan, dan lanskap pesisir yang tampak dari ketinggian.
Kita juga akan melewati Dusun Mamua, yang pernah mengalami tragedi banjir bandang hingga rumah-rumah luluh lantak. Beberapa yang terlihat, masih ada rumah yang posisinya lebih rendah ketimbang permukaan tanah, sehingga rumah tersebut tampak tenggelam.
Tiba ketika hujan belum lama reda, pintu merah merona menyambut pengunjung yang datang. Di dalamnya, tampak bangunan kusam meski masih terlihat kukuh di antara pohon-pohon sukun yang mengelilingi.
Benteng Amsterdam, yang terletak di Desa Hila, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, merupakan salah satu jejak sejarah bangsa Eropa di Nusantara. Dulunya, benteng ini hanya berupa sebuah gudang. Meski bernama Amsterdam, awal mula kemunculan bangunan ini berasal dari bangsa Portugis yang masuk ke Maluku pada era 1500-an.
“Benteng Amsterdam berawal dari gudang rempah Portugis yang dibangun pada tahun 1512. Awalnya hanya untuk gudang rempah, atau lebih dikenal dengan nama Loji Portugis. Sementara Belanda masuk Maluku pada 1605. Kerajaan Hitu dan masyarakat di Maluku secara keseluruhan membantu Belanda untuk mengusir Portugis, karena sistem monopoli perdagangan yang diterapkan,” terang Muhammad Damir Lating, koordinator Benda Cagar Budaya Maluku, di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) yang siang itu dijumpai di kawasan benteng.
Benteng ini terdiri dari tiga lantai, di lantai kedua dan ketiga, terdapat sudut pemantauan yang masing-masing memiliki 12 sudut. Di sudut luarnya, kita bisa langsung melihat dengan jelas pesisir Jeisira Leihitu, dan di seberangnya terlihat kenampakan Pulau Seram.
Rupa benteng yang ada saat ini sudah berubah dari awalnya saat dibangun Portugis. Ketika jatuh ke tangan Belanda, benteng itu bahkan sempat dibakar sebanyak dua kali oleh masyarakat Maluku dan Kerajaan Hitu, pada medio 1638-1639. Lalu, dibangun kembali pada 1642 oleh Belanda, dan bentuknya bertahan hingga saat ini.
“Tahun 1991 mengalami pemugaran, semua material kayu sudah diganti, juga atap. Namun, kalau tembok dan bentuk bangunan masih dipertahankan,” terang Damir.
Beberapa barang peninggalan seperti mangkuk penyimpan cengkih dan pala juga masih bisa kita temui di sini, termasuk juga tempat penyimpan air minum.
Di halaman dalam pagar benteng, terdapat sumur yang masih memunculkan sumber air. Menurut Damir, sumur ini memiliki kisah tragis. Pada 1991 saat pemugaran, sumur sudah dalam kondisi tertutup. Ketika dibuka kembali, banyak ditemukan kerangka-kerangka manusia. Menurut Damir, sumur ini digunakan tentara Jepang untuk tempat penyiksaan.
Berkunjung ke Benteng Amsterdam hanya dipungut biaya tiket seikhlasnya. Selain bisa berfoto dengan latar vintage, tentu pengunjung bisa mendengar sepenggal cerita sejarah di Maluku.
Bergeser tidak jauh dari Desa Hila, singgah sejenak di Desa Kaitetu. Di sini, ada bangunan masjid yang konon merupakan tertua, Mesjid Wapauwe. Beratapkan pelepah Sagu atau dikenal dengan sebutan warga lokal Gaba-Gaba, masjid ini konon sudah ada sejak 1414. Bangunan khasnya yang masih bertahan ialah empat tiang penyangga bangunan masjid tanpa paku dan pasak.
“Dulu ketika tahun 1414 itu masih ada di gunung. Tahun 1664 barulah masjid berlokasi di sini, di Kaitetu,” kata juru pelihara Masjid Wapuewe Yus Iha.
Suasana sore di kampung-kampung di Kecamatan Leihitu tampak begitu damai dan menenteramkan. Sangat nyaman untuk kita yang terbiasa dengan rutinitas padat, sekadar melepas penat. Tak jauh dari Desa Hila dan Kaititu, masih di Kecamatan Leihitu, juga terdapat titik selam, yaitu di Pantai Morela.
Bakudapan di Ambon
Kuliner menjadi bagian tak terpisahkan bila kita singgah di suatu tempat. Ambon juga punya segudang panganan yang siap memanjakan lidah. Semisal, nasi kelapa. Nasi ini sebenarnya mirip seperti nasi uduk, hanya saja, gurih kelapa pada nasi terasa lebih kuat. Hidangan ini makin mantap bila disantap dengan ikan asap.
Nasi begadang juga menjadi andalan kota musik ini. Nasi kuning yang disajikan dengan ikan, telur, dan sayur ini juga sama-sama memiliki impresi gurih yang tak tertandingi.
Lalu, satu yang selalu pasti ada bila Anda mampir ke kedai-kedai kopi di Kota Ambon ialah sukun goreng. Bukan pisang goreng, apalagi kentang goreng.
Jika doyan ngopi, Kopi rarobang juga patut dicoba. Ada kopi rarobang hitam, ada juga kopi rarobang susu madu. Di dalam kopi, Anda akan menjumpai potongan kacang tanah layaknya wedang ronde.
Lalu, sebelum benar-benar melangkah meninggalkan Ambon, pastikan Anda membawa pulang ikang asar (ikan bakar), yang bisa Anda cari di pasar tradisional seperti Pasar Mardika, atau di Galala, yang merupakan pusat dari penjualan ikang asar. Selamat menikmati Ambon Manise! (M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved