Troso Nimbung Melambung di Paris

Suryani Wandari Putri
19/1/2019 23:00
Troso Nimbung Melambung di Paris
(DOK PRIBADI)

SETELAN busana bermotif encek naga berwarna biru itu dikenakan model yang  melenggak-lenggok di atas kapal pesiar yang menyusuri sungai Seine di Paris, Prancis, awal Desember 2018.

Gaya busananya fresh dengan konsep longgar di tubuh, hadir pula dengan tampilan asimetris maupun streetwear yang cocok dipakai anak muda kekinian. Desainnya
pun dibuat panjang sehingga pengguna berhijab bisa menggunakannya pula.

Troso Nimbung, begitulah Fitria Noor Aisyah dan Farah Aurelia Majid, kelas 12 SMK NU Banat Kudus, menamai judul koleksi yang lahir dari kain tenun troso asal Jepara, Jawa Tengah itu. Mereka memilih kain tenun ini karena lebih memiliki kedekatan lokasi antara Jepara dan Kudus, serta secara personal mereka lebih menyukai kain itu jika dibandingkan
dengan batik.

“Kain tradisi itu kami ubah menjadi busana ready to wear yang sangat cocok dipakai di kalangan anak muda,” kata Fitria yang diwawancarai Muda via telepon, Jumat (11/1). Mereka sengaja memilih kain tradisional untuk rancangan busana mereka di bawah brand fasyen, Zelmira. Sejalan pula dengan tujuan Indonesia Fashion Chamber (IFC), organisasi untuk para desainer yang melakukan fashion show di Paris, Prancis, sebagai unjuk karya mengenai keragaman dan kekuatan etnik lokal.

Sejumlah perancang terkenal ikut fashion show La Mode Sur La Seine a Paris, seperti Lenny Agustin, Deden Siswanto, Ali Charisma, Sofie, hingga Ichwan Thoha. Di antara nama besar itu ada satu brand anak SMK yang dipercaya dan diberikan kesempatan menunjukkan potensi mereka.

Merek Zelmira sudah menembus kancah internasional. Tidak hanya Paris, tetapi juga sudah sampai Hong Kong dan Jepang. Hal itu pun menjadi pengalaman pertama bagi Farah dan Fitria.

Ya, merek Zelmira dibentuk sekolah guna mewadahi karya siswa/i Jurusan Tata Busana SMK NU Banat Kudus yang didukung Djarum Foundation. Sebelumnya, alumni merekalah yang berhasil memamerkan 12 hasil karyanya. “Karena itu brand SMK NU Banat, jadi semua karya siswa pakai brand Zelmira. Kalau mereka sudah lulus, lalu mau pakai brand mereka sendiri juga tidak apa-apa,” kata Winarti Wulandari, Guru Produktif Tata Busana SMK NU Banat Kudus.

Tentunya berangkat ke Paris menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Fitria dan Farah. Di balik rasa senang, mereka mengaku kewalahan dengan kesibukan di balik layar pertunjukan fesyen.

“Kami tiba di Paris dengan semangat tentunya. Namun, kami langsung disibukkan dengan crosscheck baju yang kami bawa, pembuatan list kebutuhan, pakaian, lalu photoshoot untuk pembuatan katalog. Karena ini baru pertama kali, kami cukup keteteran, untungnya bisa mengikutinya dengan lancar,” ungkap Farah.

Selain disibukkan dengan persiapan, mereka dihadapkan dengan tantangan lain, yakni suhu. Di Paris saat itu sedang musim dingin, sangat berbeda dengan Indonesia yang bersuhu tropis. “Untungnya salju belum turun sih, jadi sedikit menguntungkan kita. Tapi, tetap kita harus mendesain baju bernuansa nusantara. Namun, dikombinasikan dengan musim dingin. Hasilnya kami pilih bahan tebal,” lanjut Farah.


Bantuan

Tidak hanya Farah dan Fitria, ada juga dua murid Jurusan Tata Kecantikan SMK PGRI 1 Mejobo, Kudus, yang turut membantu. Fiya Triyani dan Lolalita Della membantu merias wajah para model. Mereka menyiapkan konsep tata rias yang disesuaikan dengan busana yang dikenakan model.  Tidak semata model yang mengenakan busana Zelmira, Fiya dan Lolalita membantu merias seluruh model lainnya.

Bukan tanpa tantangan, mereka dituntut bisa membuat tata rias menempel di udara dingin dan mengatur strategi make up yang masuk pada beberapa model koleksi baju.

“Modelnya terbatas, jadi mereka mencari cara agar make up-nya bisa dipakai dalam beberapa baju. Apalagi baju yang kita keluarkan lebih banyak dari koleksi desainer lainnya, jadi harus digilir,” ucap Fitria.

Meski sibuk dan khawatir di belakang layar, Ketua IFC Ali Charisma mengaku pergelaran busana berjalan lancar. Respons dari masyarakat Paris sangat luar biasa, terbukti tamu dengan undangan yang datang melebihi kursi yang disediakan panitia. Zelmira terbilang sukses menjual busananya. “Hasilnya busana kami banyak yang beli, bahkan karya kami pun dihargai tinggi dalam mata uang euro,” ucap Farah.


Ajang diskusi dan Konsultasi

Bertemu dan memamerkan karya bersama para desainer besar Tanah Air menjadi kesempatan besar, termasuk bagi Fitria dan Farah yang baru merintis karier di fesyen. Tak pelak perjalanan ke Paris dimanfaatkan mereka untuk mengamati dan mempelajari gaya penampilan para desainer itu, serta berkonsultasi mengenai fesyen. Pasalnya, setiap perancang busana memiliki ciri khas yang bisa dipelajari.

“Kami berdiskusi tentang pergantian model, konsep make up, baju atau busana yang akan di show kan dan didisplai di sana. Di waktu senggang kami memanfaatkan bertanya mengenai dunia fesyen,” kata Fitria.

Fitria dan Farah mengaku mendapat banyak ilmu dari perjalanan ke Paris. Termasuk dari desainer idola mereka yang mendampingi, Liza Fitria, seketaris jenderal nasional IFC. Liza memonitor gaya fesyen yang dipilih Fitria dan Farah yang tidak jauh dari gaya anak milenial dan dekat dengan mereka.

Menurut Liza, meski mengikuti event IFC bukan berarti mereka menjadi anggota organisasi desainer itu. Pasalnya, ada sejumlah tahapan yang harus dipenuhi.

“Belum bisa masuk karena syarat jadi anggota ialah harus memiliki badan usaha dan NPWP, memiliki karyawan, serta sudah bisnis fesyen minimal 2 tahun,” ucap Liza.

Winarti mengungkapkan pengalaman ikut fashion show di Paris menjadi batu loncatan untuk terjun ke dunia fesyen bagi Fitira dan Farah. “Kebetulan sekolah kami di-support Bakti Pendidikan Djarum Foundation, jadi siswi yang berbakat setelah lulus pun masih di-support untuk disekolahkan ke sekolah fesyen, mengembangkan talenta mereka sampai akhirnya mereka lulus,” kata Winarti.

Ya, setidaknya mereka sudah punya jalannya. “Wah, ini memang impian saya sejak kecil. Saya baru menyadari jurusan yang saya ambil bisa bawa saya jadi desainer sungguhan begini,” kata Fitria. (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya