Merasa senang melihat seseorang gagal? Tenang, Itu Normal

Abdillah M Marzuqi
08/1/2019 19:10
Merasa senang melihat seseorang gagal? Tenang, Itu Normal
(Thinkstock)

Manusia punya kecenderungan untuk merendahkan manusia lain di luar kelompok sosial mereka. Bahkan bayi sekalipun.

Dalam film animasi Pixar berjudul Inside Out diungkapkan lima emosi manusia, yakni senang, sedih, takut, muak, dan marah. Film itu memang mendapati ulasan yang gempita. Tetapi sutradara Pete Docter kemudian mengaku menyesal satu emosi manusia lagi tidak berhasil diangkat, yakni schadenfreude.

Apa itu schadenfreude? Schadenfreude berasal dari bahasa Jerman. Secara harfiah berarti harm joy (suka menyakiti). Kondisi itu merujuk pada rasa senang dari kemalangan orang lain. Contoh paling mudah adalah ketika mendapati figur publik yang tidak disuka tersandung kasus, penjahat sadis berhasil dikurung, atau ketika tim olahraga saingan kalah.

Salah satu tantangan peneliti tentang schadenfreude adalah tidak ada definisi yang disepakati. Schadenfreude bisa muncul diberbagai macam situasi sehingga tidak memiliki kerangka tunggal. Sehingga sulit mengambarkan emosi ini. Schadenfreude tidak hanya terlihat pada anak-anak atau orang dewasa, bayi usia 9 bulan pun sudah bisa menunjukan emosi ini.

Penelitian akan emosi ini dalam konteks sosial sudah dilakukan beberapa peneliti. Ada yang melihat emosi ini fokus pada iri hati atau dendam, ada juga yang mengaitkan dengan keadilan dan kedzaliman. Sedangkan peneliti yang lain berpikir schadenfreude muncul dari dinamika antarkelompok. Anggota suatu kelompok memperoleh kesenangan dari penderitaan mereka yang berada di luar kelompok.

"Dalam pandangan kami, definisi yang berbeda menunjuk ke beberapa sisi dari schadenfreude, yang masing-masing mungkin memiliki asal perkembangan yang berbeda," terang Psicholog dari Emory University Shensheng Wang.

Kemunculan schadenfreude bisa diturut sejak masa balita. Misalnya anak-anak usia empat tahun yang tertawa saat melihat orang tersandung dan jatuh ke genangan lumpur atua merusak mainan orang lain. Para peneliti juga menemukan anak usia tujuh tahun yang senang jika tim saingan kalah dari lawan.  

Pada 2013 dilakukan studi di mana para peneliti mengamati bayi-bayi berusia sembilan bulan yang sedang berinteraksi. Beberapa boneka diberi jenis makanan yang sama dengan bayi, sementara yang lain berbeda. Ketika beberapa boneka melukai boneka lain, bayi-bayi itu lebih suka melihat boneka yang tidak seselera disakiti dibanding boneka yang seselera. Studi-studi ini menunjukkan schadenfreude adalah emosi yang kompleks yang tampaknya tertanam dalam kondisi manusia.

"Akhirnya, kami memutuskan untuk melihat schadenfreude sebagai bentuk dehumanisasi yakni tindakan menggambarkan dan memandang orang lain sebagai kurang manusiawi," terus Shensheng Wang sebagaimana dilansir dari Dailymail, Senin (7/1).

Istilah dehumanisasi tidak hanya tentang penolakan penuh terhadap kemanusiaan, seperti penyiksaan, perang, dan kekerasan. Para psikolog menunjukkan orang sering memandang kelompok mereka lebih manusiawi. Mereka juga menyangkal kemanusiaan dari kelompok lain di luar mereka, meski tidak terlalu kentara.

"Dalam ulasan kami, kami berhipotesis bahwa semakin empati seseorang terhadap orang lain, semakin kecil kemungkinan mereka mengalami schadenfreude ketika orang itu menderita," ujar Wang.

Meski demikian, teori itu masih harus melalui pengujian lanjutan. Menghubungkan schadenfreude dengan dehumanisasi mungkin terdengar aneh, terutama karena schadenfreude adalah emosi universal. Nyatanya, dehumanisasi terjadi lebih sering daripada yang sekedar peristiwa besar kemanusiaan. (dailymail/M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya