Prediksi Tren Mode 2019

Suryani Wandari
06/1/2019 02:40
Prediksi Tren Mode 2019
(AFP/MIGUEL MEDINA)

ARAH tren mode tahun depan sesungguhnya sudah bisa dibaca dari peragaan koleksi musim semi/panas 2019 di empat kota kiblat mode. Meski begitu, dengan banyaknya ragam busana yang dikeluarkan kerap sulit pula bagi pencinta fesyen membaca benang merah mode tersebut.

Padahal, hal itu bisa sangat berguna untuk adaptasi tren. Membaca kebutuhan akan prediksi tren mode itu, Badan  Ekonomi Kreatif (Bekraf) pun bekerja sama dengan tim Indonesia Trend Forecasting dari Indonesia Fashion Chamber (IFC). Mereka mengeluarkan referensi tren 2019 yang dapat digunakan untuk industri fesyen, interior, maupun industri kreatif lainnya.

“Hasil riset ini bisa pula menjadi referensi yang baik serta strategis bagi pertumbuhan industri kreatif di Tanah Air, baik dari segi inspirasi bentuk, warna, sketsa, hingga selera pasar terkini,” kata Dewan Penasihat IFC sekaligus Tim Penyusun ITF, Dina Midiani, dalam konferensi pers Jakarta Fashion Trend 2019, Gran Melia Jakarta, Kamis (8/11).

Bertajuk Singularity, prediksi tren itu memuat empat subtema, yakni exuberant, neo medieval, svarga, dan cortex. Subtema exuberant, mempresentasikan keceriaan dan optimisme. Dalam  wujud busana, gaya yang muncul berupa street style, gaya kutu tapi dalam warna ceria, hingga penggunaan gambar karikatur dan pahlawan super.

Di Tanah Air, desainer yang sudah menerapkan subtema itu ialah Hannie Hananto dengan tema busana sosok kartun Candy, serta label Danjyo Hiyoji yang berkolaborasi dengan seorang seniman, Muklay. Kolaborasi Danjyo dan Muklay menghasilkan koleksi bergaya pop art dengan warna-warni neon.

Dalam tema neo madieval, gaya yang muncul ialah romantisme abad pertengahan. Namun, napas abad pertengahan ini kini diaplikasikan dengan gaya futuristis dan berlatar belakang teknologi tinggi.

Tema ini diterjemahkan desainer Fitri Aulia, dengan koleksi Aneuk Nanggroe yang terinspirasi dari kukuh dan megahnya bagunan bersejarah Masjid Raya Baiturrahman di Aceh.  Subtema ketiga ialah svarga, yang menggambarkan sisi spiritualitas manusia. Tema ini bisa dilihat dari penggunaan motif simbol yang mencerminkan mitos, cerita rakyat.

Lain halnya dengan subtema keempat, yakni cortex, yang diartikan sebagai keindahan yang diciptakan komputer. Contoh dari subtema ini ialah penggunaan motif dengan teknologi laser dan bentukbentuk tiga dimensi pada busana.


Unsur tradisi

Prediksi tren global tahun depan juga sudah dilansir beberapa media mode, seperti Elle dan Style Caster. Tidak hanya mengungkapkan lahirnya tren baru, mereka juga menyebut beberapa tren yang bertahan.

Tie dye, teknik pewarnaan dengan cara mengikat kain dianggap masih diminati dan juga teknik perca (patchwork). Teknik ini bisa dilihat di koleksi Prabal Gurung, Ralph Lauren, dan Diane von Furstenberg.

Teknik lainnya yang akan menjadi tren ialah motif print kulit binatang, khususnya ular dan macan tutul. Salah satu label dunia yang mengeluarkan koleksi motif tersebut ialah Just Cavalli, yang mewujudkannya dalam busana, tas, hingga sepatu. (M-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya