Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BEKERJA sebagai karyawan di Denpasar, Bali, ada kalanya I Wayan Sujana meminta izin mendadak kepada atasan. Bukan untuk liburan, izin yang akan ia perjuangkan maksimal itu ialah demi kemanusiaan.
Menjadi sukarelawan, begitulah panggilan jiwa sejati bagi Sujana. Pria berusia 39 tahun itu sudah sejak mahasiswa ambil bagian dalam berbagai aksi kemanusiaan di daerah bencana.
Bencana tsunami yang menimpa Aceh pada 2004 menjadi panggilan pertama Sujana. Besarnya dampak bencana membuatnya sangat terenyuh dan memberanikan diri berangkat menumpang kapal TNI Angkatan Laut.
Perjalanan menuju lokasi bencana bukan soal mudah bagi Sujana muda. Belum trebiasa, ia sudah muntah-muntah ketika kapal baru sampai Surabaya.
Di lokasi bencana pun mentalnya benar-benar diuji ketika harus mengevakuasi jenazah dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. “Kita melihat jenazah, angkat badannya dan kepalanya lepas, angkat tangannya, kakinya (lepas),” kenang Sujana kepada Media Indonesia, Jumat (4/1).
Meski begitu, Sujana yang mengaku masih tetap terenyuh jika mengingat kondisi di Aceh, tidak kapok menjadi sukarelawan. Hingga kini, pria yang sudah berkeluarga itu telah ikut menyumbangkan tenaga di berbagai daerah bencana, termasuk Jogja, Padang, Lombok, dan Palu.
Tidak hanya kemampuan, Sujana mengaku, jika menjadi sukarelawan juga harus siap secara finansial. Uang itu bukan hanya untuk peralatan keselamatan dan evakuasi, melainkan juga tiket pulang-pergi, biaya hidup selama di lokasi bencana, hingga dana untuk membantu korban bencana.
Bahkan pernah dalam suatu kegiatan kerelawanan, ia kehabisan uang untuk perjalanan pulang sehingga hanya bisa naik kereta hingga Banyuwangi. Ia meneruskan perjalanan pulang dengan menumpang truk.
Namun, Sujana enggan menyebut besaran rupiah yang harus dikeluarkan. Ia tidak ingin jumlah uang tersebut mengaburkan prinsip berbagi yang memang ia jalankan.
“Ketika saya melayani orang lain, saya membantu diri saya sendiri. Itu yang selalu saya tanamkan dalam diri,” ujar pria yang mengaku mendapat dukungan dan pengertian dari sang istri dalam menjadi sukarelawan.
Agar selalu siap sedia berangkat, Sujana pun mengaku memiliki tas khusus yang berisi segala perlengkapan terkait dengan kerelawanan bencana. Tidak hanya itu, ia selalu menjaga kesiapan fisik dengan rutin yoga dan futsal.
Berbagi Ilmu Kerelawanan
Tidak sekadar bergerak sendiri, sejak 2007, Sujana dan beberapa rekannya mendirikan organisasi SAI Rescue yang bukan mewadahi kegiatan sukarelawan sekaligus memberikan pendidikan soal pertolongan pertama dan penanganan kebencanaan. Ide pendirian organisasi itu datang dari kesadaran jika kegiatan relawan juga membutuhkan dasar pengetahuan dan kemampuan yang baik.
Baginya, jangan sampai sukarelawan justru tidak bisa berbuat apa-apa di lokasi bencana karena tidak punya bekal kemampuan. Bahkan parahnya, justru sukarelawan menjadi beban dan harus diberi pertolongan. “Menjadi relawan sebenarnya adalah untuk membantu, bukan malah ketika di lokasi bencana butuh dibantu,” tegasnya.
Perjalanan serupa juga dilakoni Roel Mustafa. Ia mengaku panggilan relawan hadir dari rasa kebutuhan untuk membantu sesama. Selain itu, Roel memang memiliki hobi untuk menjelajah ke berbagai daerah, maka kegiatan relawan ibarat paduan kedua hal tersebut.
“Jadi, ketertarikan sendiri sih, hobi. Melakukan blusukan ke mana-mana, membantu orang, jadi addict gitu malah,” tukasnya.
Seperti juga Sujana, Roel juga mendirikan wadah kegiatan kerelawanan yang bernama Sekolah Relawan. Sesuai namanya, sekolah yang berada di Depok itu memberikan pengetahuan soal penanganan korban bencana.
“Kita pernah punya pengalaman, teman-teman yang biasa bilang membantu dengan modal jihad gitu. Mereka tidak tahu cara menangani mayat yang sudah membusuk 7 hari, diangkat saja pakai tangan. Tiba-tiba, dua minggu kemudian kita dengar tangan orang (relawan) itu harus diamputasi. itu karena enggak punya pengetahuan bagaimana menangani jenazah,” tuturnya.
Sekolah Relawan tersebut kini sudah menarik minat banyak relawan muda. Salah satunya ialah Hariyagung Abdurahman.
Pria berusia 27 tahun yang awalnya hobi mendaki gunung itu mengaku sangat terbantu dengan adanya bekal dari sekolah tersebut. Ia pun mendapat dukungan dana sekitar Rp5 juta untuk membeli perlengkapan awal, seperti sepatu, helm, karabiner hingga webbing.
Tidak hanya mendapat dukungan finansial untuk datang ke lokasi bencana, ia juga memiliki bekal ilmu yang benar-benar sangat bermanfaat dalam menolong korban. (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved