Empat Karakter Pemilih Milenial

Suryani Wandari Putri
06/1/2019 02:00
Empat Karakter Pemilih Milenial
()

DARI seminar bertajuk Millennials’ Voting Behavior in Indonesia, beberapa waktu lalu, terungkap empat karakter pemilih milenial.

Penelitian tersebut dilakukan Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) tersebut dilakukan di empat kota besar, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang.

Hasilnya, keempat karakter itu ialah doubtfulness, open minded, modest, dan apatethic. Doubtfulness ialah generasi milenial yang masih belum menentukan pilihan. Mereka disebut sebagai swing voters yang bisa saja terbawa arus karena didoktrin. “Orang-orang dengan karakter ini dapat menjadi pemilih potensial bagi para calon presiden,” jelas dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI yang juga anggota tim peneliti, Erwin Panigoro.

Lain halnya dengan karakter open minded yang memiliki partisipasi dan pengetahuan yang tinggi terkait dengan politik atau melek politik. Menurut Erwin, orang yang berkarakter ini cenderung telah menentukan pilihan mereka untuk
Pemilu 2019. Bahkan, telah mempunyai alasan di balik pilihannya.

Namun, ada pula milenial tidak memiliki pilihan dan tidak peduli dunia politik, seperti karakter apatethic dan modest yang cenderung memilih berdasarkan peer atau orang terdekat. Biasanya karakter ini mudah dipengaruhi lingkungan rumah dan
cenderung mengikuti pilihan keluarganya seperti ayah atau ibunya. “Karakter ini jika ditanya, mau pilih siapa? mereka akan menjawab ‘Tergantung ayah, deh’,” kata Erwin memberi contoh.

Lebih jauh, ia mengatakan, empat perilaku tersebut tentunya harus diperhatikan kedua pasangan kandidat menggaet para milenial. Di sisi lain, sesungguhnya bukan hanya kandidat pemimpin yang harus paham akan isu karakter pemilih ini. Para milenial sendiri perlu sadar akan karakternya sebagai pemilih. Sebab dari situ, para pemilih muda ini akan paham sisi kekurangan dari karakternya sehingga dapat memperbaiki diri menjadi pemilih cerdas.

Sosok anak muda yang belajar mengenali karakternya, Media Indonesia temui di diri Rama Hutonk. Mahasiswa semester 7 FISIP UI. “Sepertinya aku masuk pada karakter open minded karena aku harus mengetahui calon presidenku nanti. Baca-baca berita  kan lebih bagus, tapi harus dari sumber yang jelas agar tak ada hoaks,” kata Rama Hutonk.

Mahasiswa lainnya yang juga hadir di Gedung Komunikasi FISIP UI itu juga menyadari pentingnya menjadi melek  politik dan mengenali karakter diri sebagai pemilih.  Melek politik menjadi kebutuhan di masa sekarang, baik bagi muda maupun tua. Pasalnya, dalam beberapa bulan, Indonesia akan menentukan presiden dan wakilnya untuk memimpin Indonesia lima tahun mendatang.

Claresta Octavia, mahasiswa FISIP UI, pun merasakan betul pengetahuan politik makin butuh untuk menghindari berita hoaks atau bahan mengadu domba yang menjadi strategi setiap kubu meraup suara. “Sampai saat ini aku belum menentukan pilihan, masih ada beberapa bulan lagi untuk memantapkan siapa yang dipilih. Saya selalu pantau perilaku mereka dan berita terkait calon presiden,” kata Claresta.

Bagi Claresta, memilih presiden bukanlah perkara mudah. Kedua pasangan calon presiden punya strategi dan kelebihan masing-masing. Perlu banyak waktu mengetahui apa tujuan dan visi misi mereka untuk rakyat.

Claresta memastikan menggunakan hak pilihnya karena ia yakin satu suara akan mengubah Indonesia. Terlebih, kaumnya dari generasi milenial atau dalam rentang usia 20-38 tahun di 2019 akan menentukan pemenangan. Mengingat sebesar 34%-50% suara berasal dari generasi milenial.


Mengacu pada internet

Kaum milenial atau kelompok yang lahir antara 1981-1999 setelah generasi X atau disebut generasi Y menjadi sasaran empuk bagi pemenangan pilpres nanti. Pasalnya, jumlah mereka lebih dari 50% sehingga tidak bisa diabaikan.

Dua kubu capres dan cawapres, yakni Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pun kian menampilkan identitas milenial setiap kali tampil di hadapan publik. Misalnya kubu 01, Jokowi menjadi ikon petahana, sedangkan di nomor urut 02 terdapat Sandi yang umurnya muda dan lebih merepresantikan kaum milenial.

Menurut Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djajadi Hanan, kedua kubu ini masih belum bisa menggaet suara milenial. “Generasai milenial salah satu karakternya adalah pengguna aktif internet. Saat ini pengguna internet lebih banyak diperkotaan, yakni lebih dari 50%,” kata Djajadi.

Menurutnya, meskipun internet sudah menyebar hingga ke perdesaan, mereka cenderung belum memahami politik. Fenomena ini, kata Djajadi, terkait dengan dukungan Pilpres 2019 yang menyebutkan generasi milenial yang makin sering menggunakan internet lebih banyak memilih bakal capres Prabowo Subianto.

“Diperkotaan setahun terakhir Prabowo kedudukannya berimbang dengan Jokowi. Tapi itu belum memastikan Jokowi kalah pada pilpres mendatang,” lanjut Djajadi. (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya